28.1 C
Sidoarjo
Wednesday, October 7, 2026
spot_img

Prof Mas’ud Said: Petakan Lima Elemen Strategis Penguat NU

Kota Malang, Bhirawa. – Penguatan jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) ke depan dinilai tidak boleh semata-mata bersandar pada jajaran struktural. Organisasi dituntut menjaga kerukunan internal sekaligus merangkul segenap potensi warga Nahdliyin yang tersebar luas di akar rumput.

Penegasan tersebut disampaikan Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma), Prof Dr HM Mas’ud Said MSi, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu 7/10. Ia menilai soliditas di kalangan pengurus menjadi modal mutlak agar NU tidak terjebak dalam pusaran konflik internal.

“Yang pertama harus rukun dulu. Pengurusnya harus rukun, jangan ada perpecahan. Rukun itu fondasi utama,” tegas Prof Mas’ud.

Menurutnya, ekosistem NU sangat masif dan majemuk. Karena itu, pimpinan organisasi tidak boleh membatasi pandangan hanya pada mereka yang berada di jajaran kepengurusan formal. Sedikitnya terdapat lima elemen strategis yang harus dirangkul bersama.

Pertama, alim ulama dan pengasuh pondok pesantren, baik kiai sepuh maupun generasi muda, tanpa membedakan apakah mereka masuk dalam struktur atau berkhidmah secara kultural. Kedua, anak muda NU yang memiliki jejaring luas dan wawasan global untuk menjawab dinamika zaman.

Ketiga, kader badan otonom (banom) seperti Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU, IPPNU, hingga ISNU yang menjadi motor penggerak kaderisasi. Keempat, kalangan profesional Nahdliyin, mulai dari dokter, dosen, jurnalis, advokat, teknokrat, hingga birokrat.

“Para profesional tidak harus masuk dalam satu kurungan struktur. Justru organisasi harus memfasilitasi dan mendorong mereka agar mampu mengambil posisi strategis di ruang publik maupun pemerintahan tanpa menanggalkan profesinya,” jelas mantan Staf Khusus Mensos RI tersebut.

Berita Terkait :  Tingkatkan Nilai Spiritual, WBP Rutan Situbondo Ikut Khotmil Qur'an

Kelima, warga NU kultural yang menjadi basis massa terbesar penjaga amaliah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah kehidupan masyarakat.

Selain soliditas organisasi, Prof Mas’ud turut menyinggung tantangan perguruan tinggi di lingkungan NU menuju world class university. Langkah menuju panggung global menuntut peningkatan jumlah mahasiswa dan dosen asing, kurikulum terstandar, riset internasional, serta penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris dan Arab.

“Perguruan tinggi swasta juga harus memperkuat student body. Di Pascasarjana Unisma, kami terus mematangkan program studi unggulan berciri khas, salah satunya PAI Multikultural yang sejalan dengan karakter moderasi NU,” terangnya.

Ia kembali mengingatkan, lompatan besar NU di tingkat nasional maupun internasional mustahil tercapai apabila energi internal terkuras oleh friksi kelompok.

“Rukun dulu, jangan pecah. Ketika seluruh elemen dirangkul dan diberi ruang, potensi besar warga Nahdliyin akan menjadi kekuatan nyata menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya. [mut.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!