Pemprov Jatim, Bhirawa – Di tengah kondisi ekonomi global yang sedang melambat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis Jatim Fest 2026 dapat menjadi katalis pertumbuhan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Event tahunan yang dijadwalkan berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di The Exhibition Hall, Grand City Surabaya ini menargetkan peningkatan jumlah pengunjung dan nilai transaksi dibandingkan tahun sebelumnya.
Plt. Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Mhd Aftabuddin Rijaluzzaman, mengungkapkan bahwa Jatim Fest 2026 dirancang untuk mendorong pelaku UMKM agar semakin tumbuh dan dikenal masyarakat, khususnya di tengah gejolak ekonomi saat ini.
“Harapannya nanti dengan ada Jatim Fest itu bisa lebih berkembang lagi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (27/9/2026).
Tahun ini, Jatim Fest menghadirkan sejumlah program baru yang diharapkan dapat memberikan dampak lebih masif. Salah satu inovasi terpenting adalah integrasi antara forum investasi East Java Investment Forum (EJIF) dengan pameran Jatim Invest.
Melalui EJIF, Pemprov Jatim bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendatangkan lebih dari 100 buyer dari luar negeri.
“Buyer ini sudah punya target. Cuman untuk barangkali buyer ini bisa mengakar nyamping kanan kiri, setelah forum EJIF selesai, mereka akan kita turunkan sampai pameran Jatim Invest,” jelas Aftabuddin.
Dengan demikian, buyer internasional tidak hanya berhenti di forum investasi, tetapi juga diajak meninjau langsung stan-stan UMKM di lantai pameran. Harapannya, terjadi kolaborasi lebih lanjut antara buyer dengan pelaku UMKM lokal, termasuk di sektor perhiasan dan produk unggulan lainnya.
Pada Jatim Fest 2025, event ini berhasil menarik sekitar 45.000 pengunjung dengan total transaksi mencapai Rp20 miliar. Untuk 2026, Pemprov Jatim menargetkan angka yang lebih tinggi, dengan perkiraan minimal 50.000 pengunjung dan transaksi tembus mencapai Rp 25 miliar.
“Kita optimis saja. Karena walaupun ekonomi kita sedang bergejolak, harapannya kami dengan kita mendorong UMKM untuk tumbuh semakin dikenal masyarakat,” tambah Aftabuddin.
Optimisme ini didasari oleh sejumlah program tambahan yang dihadirkan tahun ini, antara lain, Program Pojok Keuangan yang lebih besar, hasil kolaborasi dengan OJK dan BI, untuk meningkatkan literasi dan akses keuangan bagi UMKM. Berikutnya adalah Program Integrasi dengan HGIF (Harmoni Gerakan Investasi Forum) yang terkait dengan program investasi.
Pendekatan baru terhadap generasi milenial dan Gen Z, termasuk menghadirkan konten yang lebih relevan bagi anak muda dan komunitas.
Terkait jumlah UMKM yang terlibat, Aftabuddin menyebutkan bahwa pihaknya masih melakukan penataan dan kurasi. Di Biro Perekonomian saja, terdapat sekitar 40–50 UMKM yang akan berpartisipasi dari satu organisasi perangkat daerah (OPD).
“Belum OPD yang lainnya. Cuman secara keseluruhan mungkin nanti akan kami kolaborasikan. Di kurasi lagi,” ungkapnya.
Proses kurasi ini penting agar UMKM yang tampil benar-benar siap berkolaborasi dengan buyer, baik dari segi kualitas produk, kapasitas produksi, maupun kesiapan ekspor.
Jatim Fest 2026 juga memiliki nilai strategis karena digelar berbarengan dengan peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-81. Puncak acara dijadwalkan pada 2 Oktober 2026.
“Kalau kita melihat fenomena itu, otomatis pusat juga optimis. Jawa Timur memiliki dampak pasar yang lebih luas untuk diacarakan berbagai kegiatan yang mendorong UMKM untuk bertumbuh,” pungkas Aftabuddin.
Dengan kombinasi forum investasi internasional, pameran UMKM, edukasi keuangan, dan hiburan yang menyasar generasi muda, Jatim Fest 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga benar-benar mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tantangan global.[aya.kt]


