Kediri, Bhirawa – Pemerintah Kota Kediri mendorong penataan kawasan kumuh di Kelurahan Ngronggo melalui pendekatan terpadu. Lokus yang diusulkan seluas 13,86 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 1.413 jiwa atau 493 kepala keluarga itu masuk kategori kumuh ringan berdasarkan hasil penilaian.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan penanganan kawasan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat membuka Final Expose Readiness Criteria Penanganan Kawasan Kumuh Skala Kawasan Terpadu dan Terintegrasi untuk Kelurahan Ngronggo di Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri, Jumat (25/9/2026).
“Pertemuan kita hari ini tentu bukan sekadar untuk memenuhi tahapan readiness criteria. Lebih dari itu, bagi kami ini menjadi kesempatan untuk memastikan bahwa rencana penanganan kawasan Ngronggo benar-benar matang, realistis, dan yang paling penting, menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Vinanda.
Menurutnya, meski masuk kategori kumuh ringan dengan nilai 17, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu ditangani. Di antaranya kelayakan hunian, jalan lingkungan, drainase, penyediaan air minum, sanitasi, pengelolaan persampahan, hingga proteksi kebakaran.
Karena persoalan tersebut saling berkaitan, penanganannya dinilai perlu dilakukan dalam satu konsep kawasan. Pemerintah kota tidak ingin penataan hanya berorientasi pada perubahan status kawasan, tetapi juga menghasilkan lingkungan yang lebih layak huni, sehat, aman dan berkelanjutan.
“Kami ingin menghadirkan lingkungan yang lebih layak huni, lebih sehat, lebih aman, lebih tertata, dan berkelanjutan. Pada saat yang sama, penataan tersebut juga harus mampu mendukung potensi yang sudah tumbuh di masyarakat,” terangnya.
Vinanda menyebut Ngronggo memiliki posisi strategis sebagai salah satu subpusat pelayanan kota. Aktivitas perdagangan dan jasa, pendidikan serta perkantoran terus berkembang di kawasan tersebut. Selain itu, Ngronggo juga memiliki potensi UMKM dan identitas sebagai kampung kreatif, termasuk keberadaan Ngronggo Sport Art Centre.
Karena itu, pembenahan infrastruktur menurutnya perlu berjalan beriringan dengan pengembangan potensi masyarakat. Keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari kondisi jalan yang semakin baik atau lingkungan yang lebih rapi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan langsung warga.
“Misalnya, rumah yang semakin layak, berkurangnya genangan, akses yang semakin baik, lingkungan yang lebih sehat, serta tersedianya ruang bagi aktivitas ekonomi masyarakat untuk terus tumbuh,” jelas Vinanda.

Dalam proses pengajuan melalui program PERMATA Jawa Timur tersebut, Pemkot Kediri juga menyiapkan dukungan pembiayaan. Pemkot mengusulkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebesar Rp6,302 miliar, sedangkan anggaran pendampingan dari Pemkot Kediri mencapai Rp3,601 miliar.
Dengan demikian, total rencana dukungan pembiayaan untuk penanganan kawasan Ngronggo mencapai Rp9,904 miliar atau dibulatkan menjadi sekitar Rp9,9 miliar.
Vinanda menambahkan, penanganan kawasan tersebut membutuhkan keterlibatan lintas perangkat daerah agar setiap program dapat saling melengkapi. Pemerintah kota juga masih membuka ruang penyempurnaan terhadap rencana yang telah disusun sebelum masuk tahap pelaksanaan.
“Kami sangat berharap melalui kegiatan hari ini, kami memperoleh arahan sehingga apa yang sudah kami siapkan dapat semakin matang dan benar-benar dapat dilaksanakan secara berkelanjutan,” tandasnya. [van.nov.kt]


