27 C
Sidoarjo
Sunday, September 20, 2026
spot_img

Kekeringan Lamongan, Khofifah Pastikan Kebutuhan Air Bersih Terpenuhi

Pemkab Lamongan, Bhirawa. – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan kebutuhan air bersih masyarakat terdampak kekeringan tetap terpenuhi di tengah puncak musim kemarau. Kepastian itu diwujudkan dengan penyaluran langsung bantuan air bersih bagi 590 warga di Dusun Bulu, Desa Mantup, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan, Jumat (18/9).

Sebanyak 105 keluarga atau 590 jiwa di Dusun Bulu terdampak kekeringan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, Pemprov Jatim menyiapkan empat truk tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter, tiga unit tandon, dua tandon lipat, serta 100 jeriken.

Khofifah mengatakan, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat terdampak kekeringan merupakan bagian dari upaya memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi. Dukungan Pemprov Jatim juga menjadi penguatan terhadap penanganan yang telah dilakukan pemerintah kabupaten.

“Kita ingin memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tetap mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu, pemerintah provinsi terus membersamai pemerintah kabupaten untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” ujar Khofifah.

Menurutnya, bantuan tidak hanya berupa distribusi air bersih, tetapi juga sarana penampungan. Keberadaan tandon dan jeriken dinilai penting agar air yang telah disalurkan dapat disimpan dan dimanfaatkan warga secara lebih efektif untuk kebutuhan rumah tangga. “Jadi bukan hanya dropping airnya, tetapi juga kita siapkan tempat penampungannya. Dengan begitu, ketika air datang, masyarakat bisa menyimpan dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan,” katanya.

Berita Terkait :  LMI Raih Penghargaan Nasional, Dari Mandaya Awards untuk Program Kampung Alpukat

Dukungan tersebut menjadi bagian dari penanganan kekeringan yang lebih luas di Kabupaten Lamongan. Berdasarkan data Pemprov Jatim, sebanyak 7.339 keluarga atau 26.551 jiwa terdampak kekeringan yang tersebar di 10 kecamatan.

Wilayah terdampak meliputi Sarirejo sebanyak 957 jiwa, Bluluk 2.029 jiwa, Pucuk 598 jiwa, Karangbinangun 2.384 jiwa, Glagah 10.352 jiwa, Deket 6.778 jiwa, Modo 2.189 jiwa, Sambeng 434 jiwa, Kembangbahu 240 jiwa, dan Mantup 590 jiwa.

Untuk memperkuat penanganan di Lamongan, Pemprov Jatim telah memberikan dukungan anggaran distribusi air bersih sebesar Rp61,4 juta untuk 126 rit. Selain itu, bantuan sarana penampungan juga diberikan berupa 70 unit tandon dan 150 jeriken.

Khofifah menjelaskan, intervensi Pemprov Jatim merupakan upaya memperkuat penanganan yang telah dilakukan pemerintah kabupaten. Terlebih, hingga 17 September 2026 terdapat 24 kabupaten/kota di Jatim yang telah menetapkan status darurat kekeringan.

“Jadi ada 24 kabupaten/kota yang sudah mengeluarkan SK kedaruratan karena kekeringan ini. Maka sebetulnya kehadiran Pemprov itu mensubstitusi, melapisi apa yang sudah dilakukan oleh para bupati dan wali kota. Jadi yang sudah dilakukan Pak Bupati Lamongan, kita memberikan pelapisan,” jelasnya.

Selain distribusi air bersih, Pemprov Jatim juga melakukan mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 3 September 2026. OMC dilakukan ketika ditemukan pergerakan awan yang berpotensi menghasilkan hujan di wilayah tertentu.

Namun, Khofifah menegaskan penanganan kekeringan tidak cukup hanya mengandalkan dropping air maupun rekayasa cuaca. Pemprov Jatim juga mendorong pencarian sumber air terdekat yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Berita Terkait :  Tutup PKN II, Gubernur Jatim Ajak peserta Sukseskan Program Prioritas Nasional

“Sebetulnya kita melakukan dari tanggal 3 September lalu melakukan operasi modifikasi cuaca. Ketika ditemukan awan di daerah-daerah tertentu yang bergerak, maka kemudian tim OMC itu bergerak. Ada hujan ringan sampai dengan sedang di titik-titik tertentu di mana ada pergerakan awan,” katanya.

Karena itu, Dinas Sumber Daya Air Jatim terus melakukan pemetaan potensi sumber air, termasuk kemungkinan pembangunan sumur bor maupun pengembangan sistem pengaliran dari sumber air menuju wilayah terdampak. Khofifah menyebut, salah satu potensi sumber air yang berjarak sekitar lima kilometer dari Dusun Bulu akan dikaji lebih lanjut untuk melihat kemungkinan dialirkan ke wilayah tersebut. Namun, pemanfaatan sumber air tetap harus mempertimbangkan kondisi sosial dan karakteristik wilayah setempat.

“Tadi disampaikan Pak Bupati, kira-kira ada lima kilo dari sini akan dilihat oleh beliau potensi kemungkinan bisa ditarik ke daerah ini. Ada yang potensinya lumayan, tapi kemudian desa di tempat sumber air itu keberatan sehingga tidak jadi ditarik airnya. Jadi masing-masing punya spesifikasi,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, pengeboran sumur juga menjadi salah satu opsi untuk mendapatkan sumber air permanen. Namun, kondisi geologis setiap wilayah membuat hasil pengeboran tidak selalu sama. “Ada titik yang saya baru kunjungi kira-kira dua minggu lalu, tapi tiga tahun lalu saya sudah ke situ. Jadi sudah dibor sampai 200 meter, ketemunya batu, sudah sampai 19 mata bor itu putus. Artinya ada kesulitan-kesulitan tertentu. Tapi juga ada yang 90 meter ketemu air,” tuturnya.[ina.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!