28 C
Sidoarjo
Sunday, September 20, 2026
spot_img

Kemarau Panjang, Pemkab Mojokerto dan Pemprov Jatim Gelar Salat Istisqa

Pemkab Mojokerto, Bhirawa. – Musim kemarau yang berkepanjangan tahun 2026 ini mengharuskan para warga yang ada diwilayah Kabupaten Mojokerto utamanya para petani beriktiar lebih keras untuk menyiapkan air, baik untuk mengairi lahan pertanian maupun untuk kebutuhan rumah tangga sehari hari.

Iktiar lahir misalnya mereka rela menunggui hingga malam hari, mesin pompa yang menyedot air bawah tanah untuk mengairi lahan pertanianya. Disamping juga menyediakan tandon air lebih banyak/ besar dirumahnya agar kebutuhan air bisa tercukupi.

Sementara iktiar batinpun juga dilakukan, sejak seminggu terakhir ini banyak komponen masyarakat menggelar salat Istisqo di tanah lapang untuk meminta turunnya hujan kepada Allah SWT.

Bahkan Pemkab Mojokerto bersama Pemprov Jatim juga menyelenggarakannya bertempat di halaman Pendopo GMT Pemkab Mojokerto, usai salat jumat (18/9/2026) siang.

Salat Isticqa kali ini tidak hanya dihadiri Bupati Mojokerto. Muh Albarra dan seluruh pejabatnya. Namun Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga ikut u tuk memohon turunnya hujan yang membawa rahmat, manfaat dan keberkahan.

Kabupaten Mojokerto menjadi lokasi pelaksanaan salat istisqa setelah Pemkab Mojokerto mendapat koordinasi dari Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pelaksanaan ini juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama menyikapi kondisi kemarau panjang yang berdampak terhadap sejumlah wilayah.

Kondisi kemarau panjang tersebut sebelumnya telah diprediksi oleh BMKG. Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun telah melakukan berbagai langkah antisipasi, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dimulai sejak 3 September 2026.

Berita Terkait :  Kemarau Panjang, 15 Desa Di Kabupaten Blitar Kekurangan Air Bersih

“Ini memang kemarau panjang. Kondisi ini sudah diprediksi dan BMKG juga sudah berkali-kali mengingatkan. Namun, ikhtiar yang kita lakukan sudah maksimal. Saya menyebut maksimal karena sejak 3 September lalu kita sudah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca,” ujar Gubernur Jawa Timur.

Dalam pelaksanaan OMC, lanjut Khofifah, pemerintah menindaklanjuti informasi BMKG terkait pergerakan awan yang berpotensi menghasilkan hujan dengan melakukan penebaran garam.

Upaya tersebut telah menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah wilayah.

“Ketika BMKG menyampaikan ada awan yang bergerak, itu langsung kita tindak lanjuti dengan menebarkan garam. Hasilnya, sudah terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang,” katanya.

Selain OMC, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat di wilayah terdampak. Salah satunya melalui pengeboran sumur untuk mencari sumber air baru.

Gubernur menjelaskan, proses pengeboran menghadapi kondisi geografis yang berbeda-beda. Di sejumlah lokasi, pengeboran bahkan harus dilakukan hingga kedalaman ratusan meter sebelum menemukan sumber air.

“Ada yang berhasil dan ada yang belum berhasil. Bahkan, ada pengeboran yang sudah mencapai kedalaman 200 meter tetapi masih menemukan batu, hingga mata bornya putus sebanyak 19 kali. Jadi, ikhtiar itu betul-betul sudah kita lakukan bersama-sama,” jelasnya.

Pemerintah juga melakukan pencarian titik-titik sumber air yang potensial untuk ditarik dan dimanfaatkan bagi masyarakat. Sejumlah titik telah berhasil ditemukan, namun beberapa wilayah masih menghadapi kendala debit air yang belum mencukupi.

Berita Terkait :  Tak Ingin Kecolongan, Kapolresta Batu Pimpin Pengamanan Pendaftaran Paslon

Gubernur mencontohkan upaya pencarian sumber air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kunjorowesi. Sumber air dari kawasan Trawas sempat menjadi salah satu pilihan, tetapi debitnya belum cukup kuat untuk dialirkan ke wilayah tersebut. Pencarian dari titik lainnya pun masih diupayakan.

“Memang harus menggunakan teknologi-teknologi tertentu yang bisa mendeteksi di mana sebetulnya sumber air yang potensial untuk bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.

Selain ketersediaan, kualitas air yang ditemukan melalui pengeboran juga menjadi perhatian. Gubernur menyebut terdapat sejumlah sumber air yang ditemukan pada kedalaman 125 meter, namun hasil pengujian menunjukkan adanya kandungan minyak maupun kadar garam yang tinggi.

“Kalau kandungan garam terlalu tinggi itu tidak sehat, terutama bagi ibu hamil, bayi, balita,” katanya.

Berbagai upaya tersebut, menurut Gubernur, merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah dalam menghadapi dampak kemarau panjang. Salat istisqa kemudian menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan.

“Harapan kita mohon kepada Allah menurunkan hujan yang membawa rahmat, hujan yang membawa manfaat, hujan yang membawa berkah,” tutur Gubernur.

Gubernur juga menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Mojokerto yang telah bersedia menjadi tuan rumah pelaksanaan salat istisqa.

Sebelumnya, kegiatan serupa direncanakan dilaksanakan di Kabupaten Probolinggo dan sejumlah daerah lainnya, namun perlu mempertimbangkan kondisi petani tembakau yang sedang memasuki masa panen.

“Kita harus membangun keseiringan antara ikhtiar kita untuk munajat kepada Allah agar menurunkan hujan yang membawa rahmat, manfaat, barokah, tapi juga kemudian petani tembakau tetap bisa memaksimalkan hasil tembakaunya dengan kualitas yang baik,” jelasnya.

Berita Terkait :  Gabung BRICS, Pakar Ekonomi UM Sebut Magnet Investasi dan Lapangan Kerja

Sementara itu, Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa menyampaikan, Pemkab Mojokerto merespons baik koordinasi dari Pemprov Jatim untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan salat istisqa.

Menurutnya, sejumlah wilayah di Kabupaten Mojokerto saat ini turut mengalami kekeringan akibat kemarau yang berkepanjangan.

“Di daerah kami juga banyak daerah-daerah yang kekeringan air, daerah Kunjorowesi, daerah Pungging dan lain sebagainya, banyak yang kekeringan karena musim kemarau ini begitu panjang,” ujar Gus Barra.

Bupati berharap pelaksanaan salat istisqa menjadi ikhtiar bersama agar hujan segera turun dan memberikan manfaat bagi masyarakat, tanpa menimbulkan dampak bencana.

“Kami berharap dengan dilaksanakan salat istisqa pada siang hari ini akan segera turun hujan, tapi hujan yang membawa berkah, tidak hujan yang kemudian menimbulkan bencana,” pungkasnya. [min.dre]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!