Ponorogo, Bhirawa – Presiden RI Prabowo Subianto mengajak generasi muda untuk belajar dari sejarah secara jujur sebagai bekal membangun masa depan bangsa. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9).
Didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Presiden Prabowo mengatakan perjalanan panjang Gontor selama 100 tahun menjadi salah satu contoh penting bagaimana pendidikan dapat membentuk generasi yang memiliki karakter, pengetahuan, serta semangat untuk berkontribusi bagi bangsa.
Presiden menyampaikan apresiasi atas kiprah Gontor yang telah melahirkan banyak tokoh dan menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan modern. Ia juga menyoroti Panca Jiwa Gontor yang meliputi keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan.
Selain itu, Prabowo mengapresiasi motto Gontor, yakni berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, dan berjiwa besar.
Menurut Prabowo, nilai-nilai tersebut harus menjadi pemicu bagi generasi penerus untuk memiliki tekad belajar sungguh-sungguh dan membangun Indonesia yang kuat.
“Saya kira ini harus mendorong dan memicu suatu kehendak. Kehendak untuk belajar sungguh-sungguh, kehendak untuk membangun bangsa Indonesia yang kuat,” ujar Presiden.
Prabowo menekankan, kekuatan bangsa berkaitan erat dengan kemampuan menjaga kehormatan dan kedaulatan. Karena itu, generasi muda perlu memiliki keberanian untuk belajar dan memahami perjalanan bangsa, termasuk berbagai kekurangan yang pernah terjadi.
Ia mengingatkan bahwa membangun masa depan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan memahami sejarah secara jujur.
“Kita ingin membangun sejarah, tapi kita harus belajar dari sejarah dan kita harus jujur kepada diri kita. Kita harus jujur, bukan kepada orang lain. Kita harus jujur kepada diri kita sendiri,” tegasnya.
Presiden kemudian berharap para pendidik, ustaz, dan ulama terus menanamkan keberanian kepada generasi penerus untuk belajar dari berbagai kelemahan dan kekurangan bangsa.
“Saya berharap dari generasi penerus, dari ustaz-ustaz, dari ulama-ulama, untuk bisa membangunkan keberanian untuk belajar dari kelemahan-kelemahan kita sendiri, kekurangan-kekurangan kita sendiri,” ujarnya.
Pesan tersebut disampaikan dalam momentum satu abad Gontor yang menurut Prabowo telah menunjukkan kiprah panjang dalam dunia pendidikan. Gontor dinilai telah melahirkan banyak tokoh sekaligus menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan modern.
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal mengatakan, perjalanan satu abad Gontor telah melewati berbagai situasi, mulai dari kondisi sulit hingga masa perkembangan. Menurutnya, usia 100 tahun bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk mensyukuri nikmat Allah SWT.
Ia menyebut Gontor yang dahulu dikenal dengan sebutan “Gon Kotor” kini telah berkembang menjadi “Gon Inspirator”, yakni lembaga pendidikan yang diharapkan terus menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa.
“Alhamdulillah Gontor saat ini menjadi sumber inspirator dan kebanggaan bagi seluruh alumni dan santri,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, usia 100 tahun Gontor menunjukkan perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan dalam bertahan, berkembang, beradaptasi, dan terus memberikan kontribusi kepada masyarakat dan bangsa.
“Seratus tahun bukan sekadar angka. Ini adalah perjalanan panjang yang menunjukkan bagaimana sebuah lembaga pendidikan mampu bertahan, berkembang, beradaptasi, sekaligus terus memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa,” ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, perjalanan Gontor memberikan pelajaran bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kualitas karakter, kepemimpinan, kemandirian, dan kontribusi para alumninya di tengah masyarakat.
Ia menilai model pendidikan Gontor yang memadukan pendidikan agama dan pengetahuan umum tetap relevan di tengah perubahan zaman. Penguasaan bahasa Arab dan Inggris, kedisiplinan, kemandirian, serta pembentukan kepribadian menjadi bagian dari pendekatan pendidikan yang dikembangkan Gontor.
“Di sinilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan Gontor. Kemajuan pendidikan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Justru tradisi dapat menjadi fondasi untuk melakukan pembaruan. Nilai-nilai yang kuat dapat berjalan beriringan dengan metode pendidikan yang terus berkembang,” tuturnya.
Peringatan satu abad Gontor , sabtu Kemarin turut ditandai dengan penyerahan buku Gontor untuk Indonesia dan Mushaf Al-Qur’an cetakan Gontor. Selain itu, Presiden Prabowo meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam (Unida) Gontor sebagai salah satu legacy 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Suasana Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) Darussalam Gontor, Ponorogo, mendadak riuh dan dipenuhi rasa haru pada Sabtu (19/09/2026). Di hadapan para Duta Besar negara sahabat dan tamu asing yang hadir, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggemakan pekik “Free Palestine!” di tengah pidato kebangsaannya pada Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).
Aksi solidaritas tersebut bermula saat Presiden Prabowo menyapa satu per satu perwakilan korps diplomatik dan tamu dari mancanegara yang duduk di jajaran depan. Ketika menyapa Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, gemuruh tepuk tangan ribuan santri, kiai, serta tamu asing pecah memenuhi ruangan.
Dari atas mimbar utama, Presiden secara lantang menyerukan dukungan tegas untuk kemerdekaan Palestina yang langsung disahut teriakan serupa oleh para hadirin.
Melihat momen tersebut, Dubes Abdalfatah menghampiri mimbar dan mengalungkan keffiyeh-kain selendang bercorak khas Palestina-ke leher Presiden Prabowo. Keduanya berpelukan erat sebelum Presiden melanjutkan amanatnya dengan keffiyeh yang tetap melingkar di pundaknya di hadapan seluruh perwakilan delegasi asing yang hadir.
Presiden menegaskan di hadapan forum internasional dan domestik tersebut bahwa penderitaan rakyat Palestina harus menjadi tamparan sekaligus dorongan bagi bangsa Indonesia untuk terus belajar dan membenahi diri.
“Saudara-saudara kita di Palestina dibantai, dibom, dan diserang terus-menerus. Kita seolah kurang berdaya membantu. Ini harus memicu kehendak kita semua, terutama para kiai, ulama, dan pendidik di lembaga seperti Gontor untuk belajar sungguh-sungguh dan membangun Indonesia menjadi bangsa yang kuat. Sebab, bangsa yang tidak kuat akan diinjak-injak oleh bangsa lain,” tegas Presiden.
Di samping isu kemanusiaan global, Kepala Negara turut menyoroti relevansi nilai Panca Jiwa Gontor-yakni keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah, dan kebebasan berpikir-dalam membentuk mental kepemimpinan nasional.
Presiden secara khusus menekankan pentingnya integritas moral dan meminta pemegang jabatan publik untuk tidak mengkhianati kepercayaan rakyat.
“Harus berbudi tinggi, jujur, dan ikhlas. Jangan pura-pura jujur dan ikhlas, begitu diberi kepercayaan jabatan malah nyolong (korupsi),” tegasnya. [dro.ina.gat]

