109 Mahasiswa FKN Unhan Belajar Langsung Ketahanan Daerah di Jawa Timur
Pemprov, Bhirawa – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat sinergi dengan Universitas Pertahanan (Unhan) Republik Indonesia dalam membangun ketahanan daerah sebagai bagian dari penguatan ketahanan nasional.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan kunjungan belajar 109 mahasiswa Fakultas Keamanan Nasional (FKN) Unhan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (15/9) malam.
Selain kunjungan belajar, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Unhan RI dengan sejumlah perangkat daerah Pemprov Jatim, yakni Badan Kepegawaian Daerah, Dinas Pendidikan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, serta Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kunjungan mahasiswa FKN Unhan menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi antara akademisi bidang pertahanan dengan pemerintah daerah.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting karena ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui aspek pertahanan, tetapi juga melalui penguatan berbagai sektor strategis di daerah.
“Selamat datang di Bumi Majapahit. Yang selalu menyemai harmoni, Kebhinnekaan dan nafas Ke-Indonesiaan lewat optimisme Gerbang Baru Nusantara,” ujar Khofifah.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah memaparkan sejumlah sektor yang menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan daerah, salah satunya kedaulatan pangan.
Ia menegaskan, Jawa Timur tidak lagi sekadar berorientasi pada ketahanan pangan, tetapi mulai bergerak menuju kedaulatan pangan yang berkelanjutan. Hal itu ditopang capaian sektor pertanian Jatim yang secara konsisten berada di posisi teratas nasional.
Sejak 2020 hingga semester I 2026, Jatim tercatat sebagai provinsi dengan produksi padi dan beras tertinggi secara nasional. Berdasarkan potensi produksi Januari hingga Oktober 2026, produksi padi Jatim diproyeksikan mencapai 9,86 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 5,13 persen dibanding periode yang sama 2025 atau setara sekitar 5,69 juta ton beras.
Khofifah juga menargetkan penguatan produksi komoditas strategis lainnya. Ia optimistis Indonesia dapat mencapai swasembada gula konsumsi tanpa impor, dengan dukungan program bongkar ratoon secara masif dan revitalisasi sejumlah pabrik gula.
“Jika kita sama-sama punya tekad yang kuat, tahun ini Insya Allah kita bisa mencapai swasembada gula untuk konsumsi tanpa melakukan impor gula konsumsi,” katanya.
Di sektor peternakan, Jatim juga memiliki modal besar untuk mendukung kedaulatan pangan berbasis protein hewani. Populasi sapi potong Jatim saat ini mencapai sekitar 3,5 juta ekor, tertinggi di Indonesia.
Khofifah menyebut keberadaan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari di Malang sebagai salah satu fasilitas pendukung pengembangan teknologi reproduksi ternak. Dengan pengembangan peternakan secara masif, ia memproyeksikan swasembada daging dapat dicapai dalam tiga tahun.
“Kami memproyeksikan, dalam tiga tahun jika kita melakukan pengembangan peternakan sapi potong secara masif kita bisa swasembada daging,” terangnya.
Selain pangan, Khofifah juga memaparkan tantangan kebencanaan sebagai bagian dari ketahanan daerah. Posisi Indonesia dan Jawa Timur yang berada di kawasan ring of fire membuat penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi kebutuhan berkelanjutan.
Berdasarkan catatan BPBD Jatim, sekitar 92 hingga 97 persen kejadian bencana di Jawa Timur sepanjang 2022-2025 merupakan bencana hidrometeorologi. Hingga 25 Maret 2026, tercatat 115 kejadian bencana di Jawa Timur.
“Pada akhirnya ketika dunia tengah galau akan suplai pangan, Indonesia nyatanya termasuk yang paling aman. Dengan penguatan berbasis sains maka prosesnya bisa lebih produktif, kualitatif dan menghindarkan sebanyak mungkin dari yang kimiawi menjadi non kimiawi,” ujarnya.
Khofifah meminta mahasiswa FKN Unhan memanfaatkan kunjungan lapangan tersebut untuk melihat langsung berbagai praktik pembangunan ketahanan daerah di Jawa Timur. Ia juga berharap hasil pembelajaran tersebut dapat menghasilkan masukan bagi Pemprov Jatim.
“Silakan dieksplor, setelah itu mohon diberikan masukan kepada kami sehingga bisa berbenah dan melakukan yang lebih baik lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Dekan FKN Unhan Mayjen TNI Dr. Nefra Firdaus, S.E., M.M. mengatakan, Jawa Timur dipilih sebagai lokasi praktik langsung karena dinilai memenuhi kriteria dalam membangun ketahanan daerah.
Menurutnya, keamanan nasional merupakan hasil kemampuan seluruh komponen bangsa dalam membangun ketahanan secara bersama. Karena itu, mahasiswa perlu melihat secara langsung bagaimana teori yang dipelajari diterapkan di lapangan.
“Mereka mau lihat dengan teori yang mereka pelajari dengan fakta di lapangan yang ada. Itu yang mereka nanti membuat masukan kepada Provinsi Jawa Timur dalam rangka ketahanan Indonesia,” tuturnya. [ina.gat]


