31 C
Sidoarjo
Wednesday, September 16, 2026
spot_img

SBY Pamer 95 Lukisan di Surabaya, Dari Kerinduan Ani Yudhoyono hingga Kegelisahan Perang Dunia

Surabaya, Bhirawa – Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai presiden dan tokoh politik, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kini memilih kanvas sebagai ruang untuk menuangkan pikiran dan perasaannya.

Presiden ke-6 Republik Indonesia itu memamerkan sekitar 95 karya lukis di Hotel Vasa Surabaya, Selasa (15/9/2026). Bukan sekadar pajangan, sejumlah lukisan SBY menyimpan cerita personal, mulai dari kerinduan kepada mendiang istrinya, Ani Yudhoyono, hingga kegelisahannya menyaksikan perang dan konflik di berbagai belahan dunia.

SBY mengaku menikmati fase kehidupannya saat ini. Setelah tidak lagi berada dalam kekuasaan dan politik praktis, ia menemukan ruang ekspresi melalui seni lukis.

“Kalau memang ada yang melihat lukisan saya, saya bersenang hati di Kota Surabaya. Sebenarnya nanti bulan Desember akan ada pameran lukisan saya. Saya akan tampilkan 500 lukisan saya di Jakarta,” kata SBY, didampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak.

Dari Kenangan Ani hingga Konflik Dunia

Di antara puluhan lukisan yang dipamerkan, terdapat karya-karya yang memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan pribadi SBY.

Beberapa di antaranya terinspirasi dari hasil fotografi mendiang Ani Yudhoyono. Kenangan terhadap sang istri yang telah berpulang dituangkan kembali melalui sapuan warna di atas kanvas.

“Ada beberapa lukisan yang saya lukis itu hasil fotografi mendiang istri tercinta, Ani Yudhoyono. Ada kesedihan dan kerinduan setelah Ibu Ani berpulang,” ungkapnya.

Berita Terkait :  Perbaikan Akses Pacet-Cangar Hampir Rampung

Namun, kanvas SBY tidak hanya menjadi ruang untuk menyimpan kenangan pribadi. Peristiwa global juga menjadi sumber inspirasinya.

Perang, konflik dan kondisi dunia yang menurutnya penuh persoalan menjadi salah satu tema yang dituangkan dalam sejumlah karya.

“Ada juga lukisan yang menggambarkan ekspresi hati, seperti dunia yang carut-marut, perang di mana-mana. Di situ saya punya curahan ekspresi yang saya tumpahkan dalam lukisan,” katanya.

Menariknya, tidak semua lukisan lahir dari ruang studio. Sebagian justru tercipta secara spontan ketika SBY melakukan perjalanan. Kaki gunung dan tepian pantai menjadi sejumlah tempat yang memberinya inspirasi untuk berhenti sejenak, mengamati alam, kemudian menuangkannya ke atas kanvas.

“Kalau saya melukis di luar studio, itu spontanitas saya. Seperti di kaki gunung, di pinggir pantai saat saya traveling, itu menjadi titik untuk berpikir,” jelasnya.

Ia juga menyebut sejumlah karya dibuat secara sengaja, di antaranya lukisan gunung api dari Boyolali dan karya yang dibuat di Pantai Klayar, Pacitan.

Bagi SBY, melukis bukan sekadar aktivitas mengisi waktu setelah meninggalkan pemerintahan. Karya-karyanya juga menjadi bagian dari berbagai kegiatan sosial yang selama ini ia jalankan.

Ia membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin memiliki karyanya. “Kalau ada yang ingin punya silakan, karena karya lukisan saya gunakan untuk banyak hal. Untuk bantuan sosial, membiayai bola voli LavAni, mendukung pembiayaan Museum dan Galeri SBY-Ani di Pacitan,” ujarnya.

Berita Terkait :  Tradisi Buceng Porak Warnai Grebeg Tutup Suro Ponorogo

Pada pameran di Jakarta yang direncanakan berlangsung Desember mendatang, SBY bahkan menyiapkan sejumlah kategori harga agar karyanya dapat dijangkau berbagai kalangan.

“Nanti di Jakarta ada harga rakyat atau harga spesial, ada harga premium,” tuturnya.

Ia pun memperkenalkan babak baru kehidupannya dengan sederhana. “Bagi saya, kalau saudara-saudara masih ingat dengan SBY, saat ini saya menggeluti dunia seni, khususnya seni lukis,” katanya.

Di tengah pembicaraan tentang seni, SBY juga menyinggung kehidupannya setelah meninggalkan kekuasaan.

Ia menegaskan sudah lama tidak terlibat dalam politik praktis maupun aktivitas harian partai. Meski demikian, kepeduliannya terhadap persoalan bangsa dan perkembangan dunia tetap berjalan.

“Saya sudah lama meninggalkan dunia politik, utamanya politik praktis dan kekuasaan. Saya tidak berkecimpung day to day partai. Tapi saya tetap peduli pada negara kita dan perkembangan dunia, di samping saya berkesenian,” kata SBY.

Menurut dia, setelah tidak lagi berada di pemerintahan, dirinya masih kerap mendapat undangan dari berbagai pihak di dalam maupun luar negeri untuk berdiskusi dan menyampaikan pemikiran.

“Saya diundang teman-teman di dalam dan luar negeri agar ikut berpikir, urun rembug supaya negara kita damai dan semakin baik. Dalam konteks itu saya anggap ibadah,” ujarnya.

Namun SBY menegaskan dirinya memahami batas sebagai mantan kepala negara. Ia menyebut pemerintahan saat ini berada di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Berita Terkait :  Sepekan Lebih Operasi Zebra Semeru 2024, Dominasi Pelanggar Lalu Lintas di Bawah Umur

“Saya sudah tidak lagi di kekuasaan. Saat ini yang memimpin adalah Presiden Prabowo. Saya harus menjaga sikap, tutur kata saya agar tidak dianggap cawe-cawe dan tidak dianggap melampaui kepatutan sebagai seorang mantan presiden,” tegasnya.

Hermanto Tanoko: SBY Punya Cara Lembut Mengirim Pesan

Sementara itu, pemilik Hotel Vasa Surabaya, Hermanto Tanoko, mengaku mendapat pengalaman berbeda ketika melihat karya-karya SBY secara langsung.

Ia menilai setiap lukisan memiliki gagasan dan pesan yang dapat digali lebih jauh.

“Saya tidak pernah membayangkan bertemu dekat dengan Pak SBY. Tantangannya adalah menggali gagasan dan ide lebih jauh, karena saya meyakini setiap karya memiliki pesan kepada para penontonnya,” kata Hermanto.

Menurutnya, seni lukis memberi SBY cara berbeda dalam menyampaikan gagasan dibandingkan ketika masih menjadi kepala negara maupun politisi.

“Ternyata Pak SBY punya banyak cara mengirim pesan dengan cara yang lembut melalui lukisan,” pungkasnya.  [geh.kt]

Berita Terkait

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!