31.2 C
Sidoarjo
Sunday, September 13, 2026
spot_img

Industri Otomotif Masih Kerdil di Jatim, Agro Tetap Tulang Punggung Ekonomi

Pemprov Jatim, Bhirawa – Jawa Timur masih mengandalkan industri agro sebagai motor utama perekonomiannya, sementara sektor otomotif, meski pasar konsumsinya tumbuh belum menjadi pionir manufaktur karena membutuhkan modal besar dan kalah daya saing dengan provinsi lain yang lebih dulu membangun ekosistem insentif.

Jawa Timur (Jatim) mengukuhkan diri menjadi Provinsi Agro dengan Rantai Hulu–Hilir yang Kuat. Sebagai Provinsi yang secara historis dan struktural bertumpu pada pertanian, Jatim membangun pola industri dari hulu ke hilir di sektor agro.

Diantaranya, seperti gabah diolah jadi padi, padi jadi beras, lalu tebu diolah jadi gula, serta turunan lain ke industri makanan dan minuman (mamin).

“Sektor pertanian menyumbang sekitar 10,76–10,87 persen terhadap struktur ekonomi Jatim dan menjadi penopang ketiga terbesar setelah manufaktur dan perdagangan,” ungkap Plt. Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jawa Timur, Mhd Aftabuddin Rijaluzzaman, saat dikonfirmasi Bhirawa, Minggu (13/9/2026).

Industri agro dan kimia (termasuk farmasi) diperkirakan menyumbang lebih dari 75 persen dari industri pengolahan atau manufaktur Jatim, menjadikannya unggulan daerah.

Dari sisi ketahanan pangan, Jatim mensuplai kebutuhan pangan ke lebih dari 20 provinsi lain, atau sekitar 22–28 provinsi menurut Aftabuddin, sehingga fokus pada agro memberikan nilai tambah langsung bagi hasil pertanian lokal. Hal ini menegaskan bahwa keunggulan daya saing Jatim memang terletak pada agro.

“Jadi hampir 75% industri pengelolaan Jatim atau manufaktur Jatim itu didorong oleh industri agro, itu unggulan dari Jatim,” ujar Aftabuddin.

Berita Terkait :  Bidik Pasar Jawa Timur, HONOR Resmikan Experience Store Pertama di Surabaya

Otomotif di Jatim, pasar memang tumbuh, tapi kontribusi manufaktur terbilang minim. Di sisi konsumsi, pasar otomotif Jatim menunjukkan geliat positif. Hingga April 2026, Jatim konsisten berada di posisi ketiga nasional dengan kontribusi sekitar 9,1 persen dari penjualan kendaraan nasional, pada periode lain disebut 9,7 persen.

Penjualan mobil di Jatim hingga April 2026 mencapai 25.228 unit, menyumbang 9,1 persen dari total nasional. Untuk merek tertentu seperti Suzuki, Jatim bahkan menjadi kontributor penjualan ritel terbesar kedua setelah Jabodetabek dengan kontribusi sekitar 12 persen, didorong model niaga (New Carry) dan SUV (XL7, Fronx).

Namun, ketika bicara basis manufaktur atau produksi otomotif, kontribusinya masih minim dibanding agro. “Kalau otomotif itu, ada tapi memang kontribusinya cukup minim lah. Alasannya, industri otomotif memerlukan capital expenditure (capex) besar dan investasi awal yang tinggi,” cetusnya menegaskan.

Mengapa di Jatim lebih mengutamakan agro, bukan otomotif? Ada tiga alasan struktural yang membuat Jatim lebih kuat di agro ketimbang otomotif sebagai basis produksi.

Pertama, modal dan skala investasi. Industri otomotif membutuhkan pabrikasi komponen, rantai pasok yang kompleks, dan skala ekonomi besar. “Otomotif itu kan modalnya kan besar ya. Kapital expenditure nya juga besar. Dan itu memang membutuhkan investasi yang cukup besar kalau dimulai di Jatim,” kata Aftabuddin.

Kedua, daya saing dan insentif daerah lain. Provinsi lain di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat dan DKI Jakarta, sudah lebih dulu membangun ekosistem otomotif lengkap dengan insentif fiskal dan non-fiskal. “Di Jawa Barat itu atau di daerah lain misalnya, punya insentif-insentif yang memang mereka sudah terbangun dari awal,” ujarnya menjelaskan.

Berita Terkait :  Tiga Kru tvOne yang Meninggal Akibat Kecelakaan Terima Manfaat BPJS Ketenagakerjaan

Ketiga, trade-off lahan dan prioritas pangan. Mengalihkan lahan dari agro ke pabrik berisiko mengurangi kapasitas produksi pangan. Karena Jatim mensuplai puluhan provinsi, mengorbankan agro bisa berdampak nasional.

“Ketika dia harus membangun pabrik, dia pasti butuh lahan. Lahannya akan beralih dari agro tadi menjadi pabrik seperti itu,” jelas Aftabuddin.

Alih-alih memaksa masuk ke industri berat seperti otomotif, Jatim lebih diuntungkan dengan memperkuat hilirisasi agro. Seperti, tebu jadi gula, gabah jadi beras, serta pengembangan industri mamin dan turunannya.

Pemprov Jatim bahkan memastikan kesiapan daerah menyukseskan swasembada gula nasional melalui percepatan hilirisasi perkebunan tebu, dengan luas tambah tanam tertinggi se-Indonesia, sekitar 1,8 juta hektare.

Pola ini memberikan nilai tambah pada produk pertanian lokal tanpa harus menggeser fungsi lahan dari pangan ke industri berat.

“Kalau fokusnya di industri pengolahan mamin atau agro tadi, maka dia akan memberikan nilai tambah dari hasil pertanian di Jatim,” tegas Aftabuddin.

Berbicara potensi ke depan, otomotif mulai jalan, tapi pionir tetap agro. Aftabuddin tidak menutup kemungkinan berkembangnya industri otomotif di Jatim. Artinya, otomotif bisa tumbuh sebagai pelengkap, bukan pengganti, sementara tulang punggung tetap agro dan kimia dan farmasi.

“Saya kira sudah mulai jalan, ada beberapa industri otomotif yang mulai jalan di Jatim. Tapi saya kira kalau pionir Jatim itu masih agro,” ujarnya.

Berita Terkait :  Dorong UMKM dan Ekonomi Kreatif, Bupati Bangkalan Buka Kontes Batu Akik

Dengan kontribusi manufaktur terhadap PDB Jatim sekitar 31,27 persen dan pertanian sekitar 10,87 persen, strategi paling rasional adalah memperkuat rantai nilai agro yang sudah mapan, sambil memanfaatkan momentum pasar otomotif yang tumbuh, tanpa mengorbankan ketahanan pangan dan keunggulan komparatif daerah. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!