27 C
Sidoarjo
Thursday, September 10, 2026
spot_img

Jakarta Barat Tertarik Pemanfaatan Eco Lindi Dibuat DLHK Sidoarjo untuk Atasi Bau

Sidoarjo, Bhirawa. – Teknologi Eco Lindi yang dibuat Dinas Lingkungan Hidup kebersihan Kabupaten Sidoarjo, selama ini yang digunakan untuk mengatasi bau sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah ‘Griyo Mulyo’, Jabon, telah menarik perhatian Pemerintah Kota Administrasi (Pemkot) Jakarta Barat.

Rombongan Pemkot Jakarta Barat dipimpin Wali Kotanya, Lin Mutmainnah, mengawali kunjungannya ke Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo.

Lin Mutmainnah mengatakan, salah satu hasil dari kunjungan ini adalah rencana membangun TPS3R percontohan di Meruya Selatan. ”Kami akan mengadaptasi pengalaman yang diperoleh selama studi tiru di Sidoarjo ini, kami mempelajari pola pengelolaan dari hulu hingga hilir,” katanya.

Rombongan dari Jakarta Barat didampingi Kepala DLHK Sidoarjo, Arif Mulyono, meninjau langsung TPS3R Pelangi di Desa Ketajen, Kecamatan Gedangan, kemudian ke TPA Griyo Mulyo di Kecamatan Jabon.

Sementara itu, rombongan Lin saat di TPA Griya Mulyo, Jabon, tertarik, karena melihat ada cairan Eco-Lindi yang disemprotkan ke tumpukan sampah untuk menghilangkan bau. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Pemkot Jakarta Barat untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan karakteristik wilayahnya.

”InsyaAllah kami akan menjadikan pengalaman ini sebuah semangat untuk membentuk atau membangun TPS3R percontohan yang berada di Meruya Selatan dengan kolaborasi dan aksi nyata setelah itu,” ungkapnya.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sidoarjo, Bahrul Amig, menyambut baik kunjungan ini. Menurutnya, pertukaran pengalaman antar daerah menjadi bagian penting dalam memperkuat pengelolaan lingkungan dan persampahan.

Berita Terkait :  Regulasi Tumpang Tindih, BULD DPD RI Peringatkan Risiko Hukum Koperasi Daerah

Kepala DLHK Kabupaten Sidoarjo, Arif Mulyono SSTP, mengakui setiap daerah mempunyai persoalan sampah masing-masing. Masalah sampah di setiap daerah tidak sama. Maka setiap daerah perlu bertukar pengalaman.

Arif menjelaskan perbedaan karakteristik wilayah dan masyarakat membuat setiap daerah memiliki tantangan tersendiri dalam menangani persoalan sampah.

”Karena itu pertukaran pengalaman menjadi penting untuk menemukan pola pengelolaan yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah,” ujarnya.

Arif menegaskan, persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Tidak hanya tanggung jawab DLHK saja tetapi semua pihak, termasuk masyarakat.

Kepada rombongan tamunya, Arif menyampaikan sebagai daerah urban padat penduduk di Provinsi Jawa Timur, produksi sampah di wilayah Sidoarjo setiap hari sekitar 892,26 ton. Ratusan ton sampah itu setiap hari yang masuk ke TPA, sekitar 534 ton (59%) dibuang langsung ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) setiap hari.

Selain itu, juga ada yang dibuang secara liar oleh warga sekitar 86,58 ton (9,70%) belum dikelola dengan optimal dan dibuang di tempat sembarangan. Dampak sampah yang belum dikelola secara optimal dan dibuang terus ke TPA Jabon, membuat TPA Jabon menghadapi ancaman. Sehingga diprediksi menghadapi ancaman penuh dalam waktu lima hingga tujuh tahun ke depan. [kus.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!