Surabaya, Bhirawa – Ratusan siswa SD Kristen Alpha Omega Surabaya merasakan pengalaman belajar berbeda, Rabu (9/9/2026) pagi. Alih-alih duduk di dalam kelas, mereka melangkah ke Kantor Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Jawa Timur di Jalan Pahlawan 110, Surabaya, untuk field trip yang menghadirkan pelajaran sistem pemerintahan dan sejarah kota secara langsung.
Kegiatan ini dirancang agar anak-anak dapat bertanya langsung kepada narasumber di lingkungan kantor gubernuran, melengkapi informasi yang selama ini hanya mereka dapatkan dari buku paket.
“Jadi mereka langsung bertanya langsung pada narasumber. Jadi bagaimana sih sistem pemerintahan? Karena selama ini kan mereka hanya menggali informasi melalui buku paket. Dan di situ informasinya seperti kurang, kurang banyak,” ujar Lisdiana Veny Wijayasari, S.Pd., guru SD Kristen Alpha Omega, di sela acara kepada Bhirawa.
Melalui kunjungan ini, siswa diajak memahami bagaimana sistem pemerintahan bekerja di tingkat provinsi. Mereka mendapat penjelasan tentang struktur organisasi, tugas pokok, dan fungsi perangkat daerah, serta bagaimana kebijakan publik dirumuskan dan dijalankan.
“Jadi dari sini ini anak-anak jadi tahu sistem pemerintahannya itu bagaimana. Terus sejarahnya kota Surabaya itu gimana. Jadi sudah mereka tadi dapat ilmu sangat banyak ini tadi, dari itu,” tambah Lisdiana.
Pendekatan belajar di luar kelas ini sejalan dengan semangat kurikulum yang menekankan pengalaman nyata dan keterlibatan siswa dengan lingkungan sekitar. Dengan bertemu langsung aparatur pemerintah, anak-anak tidak hanya menghafal definisi, tetapi juga melihat praktik kerja pemerintahan yang sesungguhnya.
Selain materi pemerintahan, siswa juga diajak menelusuri kawasan kantor gubernuran yang kaya nilai sejarah. Mereka mengunjungi ruang-ruang ikonik seperti ruang biru hukum dan perpustakaan hukum yang baru diresmikan pada 2025, serta mengamati bangunan peninggalan kolonial yang kini berstatus cagar budaya.
“Mereka melihat ini memang bangunan-bangunan peninggalan Belanda ya. Jadi tadi diajak ke ruangan-ruangan tempat biru hukum, perpustakaan hukum,” kata Lisdiana.
Di area taman, anak-anak tampak antusias memberi makan ikan, sementara di tangga mereka bertemu dengan patung Brawijaya—simbol yang mengingatkan pada sejarah kerajaan dan perjuangan di Jawa Timur.
“Tadi mereka di tangga itu melihat ada patung Brawijaya. Nah, sebelumnya mereka kan kurang tahu tentang hal-hal itu. Jadi paling tidak mereka itu jangan melupakan sejarah lah,” ujarnya.

Kantor Gubernur Jawa Timur sendiri berada di kompleks yang mencakup bangunan bersejarah seperti Gedung Negara Grahadi, yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi landmark Jawa Timur.
Di halaman kantor gubernur pula terdapat patok titik nol (Km-0) Surabaya yang merupakan cagar budaya peninggalan masa kolonial. Dengan demikian, kunjungan ini sekaligus menjadi pengenalan langsung terhadap ikon-ikon sejarah.
Bagi Lisdiana, aspek sejarah menjadi pesan kunci yang ingin ditanamkan kepada siswa. Menurutnya, anak-anak sebagai generasi penerus harus memahami akar sejarah agar tidak kehilangan arah di tengah kemudahan fasilitas masa kini.
“Mereka kan anak-anak generasi. Ya, penerus mereka gak boleh melupakan sejarah. Dari mereka itu mereka ada sekarang ini dan dapat fasilitas yang banyak itu saja,” tegasnya.
Pernyataan ini relevan dengan upaya pelestarian cagar budaya di Surabaya, di mana bangunan seperti Grahadi dan elemen sejarah lain di sekitar kantor gubernur terus dijaga sebagai bagian dari identitas kota. Dengan mengenalkan sejarah sejak dini, sekolah berharap siswa tumbuh menjadi warga yang peduli terhadap warisan budaya dan tata kelola pemerintahan di daerahnya.
Kunjungan ini dipandu oleh Rizki Maria Fransiska Agustina, Ketua Tim Kerja Sub Substansi Persuratan dan Arsip Biro Umum Setdaprov Jatim. Peran Biro Umum dalam mengelola arsip dan persuratan pemerintahan memberi konteks tambahan bagi siswa tentang bagaimana dokumen negara dikelola, disimpan, dan dijadikan dasar pengambilan keputusan. Melalui penjelasan ini, anak-anak mendapat gambaran utuh tentang alur kerja administrasi pemerintahan provinsi.
Di akhir kunjungan, Lisdiana menyatakan kepuasan terhadap antusiasme dan rasa ingin tahu siswa. “Jadi mereka itu melihat ini memang bangunan-bangunan peninggalan Belanda ya. Mereka senang tadi itu di tengah taman itu memberi makan ikan,” tuturnya menggambarkan.
Bagi SD Kristen Alpha Omega, field trip ke Setdaprov Jatim bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan langkah konkret menghadirkan pembelajaran kontekstual: dari buku ke istana gubernur, dari teori ke praktik, dan dari kelas ke jantung sejarah Surabaya. [aya.kt]


