32.1 C
Sidoarjo
Monday, September 7, 2026
spot_img

Work-Life Balance Mampu Menekan Fenomena Quiet Quitting pada Generasi Z


Oleh:
Dr. Riyadi Nugroho MM
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Fenomena quiet quitting semakin mendapat perhatian dalam pengelolaan sumber daya manusia, terutama pada Generasi Z yang kini mulai mendominasi dunia kerja. Fenomena ini tidak selalu berarti karyawan mengundurkan diri, tetapi menggambarkan perilaku bekerja sebatas tanggung jawab formal, mengurangi keterlibatan, dan tidak memberikan kontribusi melebihi tuntutan pekerjaan.

Penelitian berjudul “Fenomena Quiet Quitting dan Employee Engagement pada Generasi Z dalam Perspektif Ekonomi Sumber Daya Manusia yang Diperkuat oleh Work-Life Balance” mengkaji hubungan antara quiet quitting, keterikatan karyawan, dan keseimbangan kehidupan kerja pada Generasi Z. Penelitian ini dilakukan oleh Dr. slamet Riyadi, Dr. ardiana dan beberapa mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untag Surabaya.

Penelitian yang melibatkan 126 responden tersebut menemukan bahwa quiet quitting berpengaruh negatif dan signifikan terhadap employee engagement. Artinya, semakin tinggi kecenderungan karyawan menjalankan pekerjaan secara minimal, semakin rendah semangat, dedikasi, dan keterlibatannya dalam organisasi.

Sebaliknya, work-life balance terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap employee engagement. Karyawan yang mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi cenderung memiliki energi, dedikasi, serta keterlibatan yang lebih kuat dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Hasil penelitian juga memperlihatkan pentingnya work-life balance dalam memperkuat hubungan antara kondisi kerja dan keterikatan karyawan. Temuan ini menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian penting dari strategi pengelolaan sumber daya manusia.

Berita Terkait :  Lestarikan Kesenian, Disperpusip Situbondo Gelar Bedah Buku Tathenggun

Oleh karena itu, perusahaan perlu membangun komunikasi yang terbuka, memberikan beban kerja yang proporsional, menyediakan kesempatan pengembangan karier, menerapkan sistem penghargaan yang adil, serta menciptakan fleksibilitas kerja yang sesuai dengan karakteristik pekerjaan. Pimpinan juga perlu mengenali tanda-tanda menurunnya keterlibatan karyawan sebelum berkembang menjadi quiet quitting.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Prof. Dr. Tri Ratnawati, MS.Ak., menyampaikan bahwa hasil penelitian tersebut relevan dengan tantangan pengelolaan sumber daya manusia saat ini.

“Fenomena quiet quitting perlu dipahami sebagai sinyal bagi organisasi untuk mengevaluasi lingkungan kerja dan kebijakan pengelolaan sumber daya manusia. Organisasi harus menciptakan keseimbangan antara pencapaian target dan kesejahteraan karyawan agar Generasi Z tetap memiliki semangat, komitmen, serta keterikatan yang kuat terhadap pekerjaannya,” ujar Prof. Dr. Tri Ratnawati, MS.Ak.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi perusahaan dan lembaga publik dalam merumuskan kebijakan sumber daya manusia yang lebih adaptif. Penerapan work-life balance secara konsisten diharapkan mampu mencegah quiet quitting, meningkatkan employee engagement, dan menciptakan produktivitas yang berkelanjutan. [*]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!