Saat distribusi bantuan air dari BPBD Sampang di Desa Kanjar, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Senin (7/9/26).
Sampang, Bhirawa. – Puluhan Desa di Kabupaten Sampang, mengalami kekeringan air di musim kemarau. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang musim kemarau tahun 2026, wilayah terdampak melonjak drastis hingga mencapai 78 desa yang tersebar di 12 kecamatan masuk dalam kategori kering kritis.
“Untuk distribusi air bersih, sementara kita prioritaskan yang 78 desa itu,” terang Kepala BPBD Sampang Fajar Arif Taufikurrahman. Senin (7/9/26).
Lanjut Fajar Arif, membeberkan, 12 kecamatan yang masuk zona kering kritis, yakni Camplong, Banyuates, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Omben, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
Sedangkan titik terparah.
“Sedangkan Kecamatan Kedungdung dengan jumlah desa terbanyak yang menyandang status kering kritis, yaitu mencapai 13 desa. Sementara 2 kecamatan lainnya, yaitu Ketapang dan Sampang masuk zona aman.
Disinggung soal kendala penanganan, Arif mengungkap, situasi di lapangan tergolong mengkhawatirkan karena keterbatasan anggaran dan minimnya armada logistik dari pemerintah daerah setempat.
“Anggaran kita tahun ini terbatas, hanya Rp 75 juta. Sementara untuk armada tangki air kita hanya punya dua, ditambah satu armada dari PDAM, jadi tiga armada yang tersedia,” ungkapnya.
Minimnya alokasi dana penanganan bencana, tambah Arif, berimbas terhadap terbatasnya jatah distribusi air bersih tiap desa. Bahkan, ada yang hanya mendapat kuota 1 hingga 2 tangki air selama masa darurat.
“Hingga detik ini baru ada empat Kecamatan yang sudah menerima penyaluran air bersih, yaitu Robatal, Karang Penang, Kedungdung, Sreseh, dan Torjun,” jelasnya. [lis.hel].


