Wagub Emil Pastikan Semua Korban Tertangani
Pemprov, Bhirawa – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mengambil sikap lebih tegas menyusul kasus keracunan massal yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo.
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jawa Timur Adhy Karyono menegaskan, Pemprov Jatim akan memperketat pengawasan terhadap pengelolaan dapur MBG.
Setelah melakukan konsolidasi, pemerintah akan memanggil seluruh pengusaha dan pengelola dapur MBG untuk mengevaluasi kepatuhan terhadap aturan.
Pemeriksaan akan mencakup proses pengolahan makanan, kondisi dapur hingga penerapan standar operasional prosedur (SOP).
“Memanggil seluruh pengelola dapur, kemudian memastikan kembali apakah aturan-aturan sudah ditaati dan SOP dari pengelolaan masak, dapur dan semua aturan sudah ditaati atau belum,” jelas Adhy saat ditemui usai menghadiri rapat Paripurna DPRD Jatim, Rabu (2/9).
Yang menjadi sorotan, menurut Adhy, adalah pola pengawasan. Pemerintah tidak ingin pengawasan baru diperketat setelah muncul kejadian dan korban.
“Ke depan kita tidak bisa lagi kalau terjadi sesuatu hanya sampai terjadi sesuatu kemudian punishment. Tetapi kita betul-betul dicek secara berkala kondisi dapur tersebut,” katanya.
Pada kesempatan kemarin Sekdaprov mewakili Pemprov jatim mengaku prihatin karena kasus serupa kembali terjadi meski pengawasan terhadap dapur MBG telah dilakukan.
“Pertama, sebagai pemerintah, ini terjadi kesekian kalinya. Tentu sangat prihatin. Walaupun SLHS sudah, pengawasan sudah dilakukan, ternyata di luar kemampuan kami juga mereka melakukan sesuatu yang berakibat fatal,” ujar Adhy
Adhy mengatakan, pemerintah tidak ingin kasus tersebut berhenti pada pemberian sanksi setelah kejadian. Evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan dapur MBG harus dilakukan agar persoalan serupa tidak kembali terulang.
Saat ini, kata Adhy, satgas terkait masih melakukan pendalaman dan telah melaporkan kasus tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk ditindaklanjuti, termasuk menentukan sanksi jika ditemukan pelanggaran.
“Sebetulnya penyelidikan dulu, seperti apa faktor penyebab keracunan tersebut. Kita berharap ada ketegasan kemudian tidak akan terjadi lagi kasus semacam ini,” tegasnya.
Kasus keracunan massal terjadi di Sidoarjo pada Selasa (1/9/2026). Dugaan keracunan tidak hanya ditemukan di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, tetapi juga dilaporkan sejumlah sekolah yang menerima menu MBG dari sumber yang sama.
Seluruh lembaga pendidikan tersebut merupakan penerima manfaat MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
SPPG tersebut diketahui melayani sekitar 2.900 porsi makanan setiap hari yang didistribusikan ke 19 sekolah, mulai jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Besarnya cakupan distribusi tersebut membuat evaluasi terhadap sistem pengawasan menjadi semakin penting. Sebab, ketika terjadi persoalan pada satu titik produksi, dampaknya berpotensi menjangkau ribuan penerima manfaat.
Pemprov Jatim kini mendorong perubahan pola pengawasan dari sekadar responsif menjadi preventif dan berkala.
Tak ada Korban Meninggal
Sebelumnya Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Kepala Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, mengatakan penanganan terhadap para penerima manfaat yang mengalami keluhan telah dilakukan secara cepat oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama rumah sakit, BPBD dan tenaga kesehatan.
“Kami ingin mengapresiasi Rumah Sakit Notopuro, Ibu Kadinkes, bersama BPBD Sidoarjo dan Pemkab Sidoarjo yang sudah melakukan penanganan secara sigap. Sehingga jumlah yang ratusan datang ke rumah sakit ini dalam waktu yang sangat pendek semuanya bisa ditangani,” kata Emil saat meninjau penanganan pasien di Sidoarjo, Selasa (1/9) malam.
Menurut Emil, seluruh pasien mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing. Langkah awal yang dilakukan rumah sakit yakni rehidrasi dan pemberian obat. Pasien yang memiliki kondisi kesehatan lain juga mendapatkan penanganan khusus sesuai kebutuhannya.
Emil juga memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Ia meminta masyarakat tidak mempercayai informasi yang menyebut terdapat santri yang meninggal akibat dugaan keracunan.
“Tidak ada yang meninggal. Kita doakan semua bisa, bukan hanya didoakan tetapi diikhtiarkan oleh tenaga medis,” tegasnya.
Ia mengatakan, selain santri Ponpes Mamba’ul Hikam, keluhan serupa juga ditemukan pada penerima MBG di sejumlah satuan pendidikan lainnya. Berdasarkan pendataan sementara, terdapat 19 lembaga pendidikan yang terdampak, mulai dari jenjang TK, SD, SMP hingga SMA sederajat.
“Total ini ada 19 lembaga yang terdampak. Salah satunya Ponpes Mamba’ul Hikam. Kesamaannya, mereka penerima manfaat dari SPPG Tanggulangin Kalitengah,” jelasnya.
Emil menegaskan, SPPG tersebut bukan dikelola oleh pihak pondok pesantren. Ponpes Mamba’ul Hikam hanya menjadi salah satu penerima manfaat program MBG.
Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan tidak ada korban jiwa yang dialami oleh para santri di Ponpes Mambaul Hikam, Putat, Tanggulangin, yang pada Selasa siang (1/9) kemarin, telah mengokonsumsi menu makanan yang diperoleh dari distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima pada hari itu.
Sebagai pengawas SPPG, Tim dari Pemkab Sidoarjo, Rabu pagi (2/9), kata Subandi, akan datang ke lokasi SPPG yang mendistribusikan. Yakni SPPG di Desa Kalitengah, Tanggulangin. Akan dicek, SPPG ini sudah punya izin atau belum dan tata kelolanya.
” Kita akan ke lokasi, kita cek, kenapa bisa terjadi,” Selasa malam, ketika berada di RSUD Notopuro Sidoarjo, memantau proses pelayanan kesehatan kepada para santri Mambaul Hikam.
Diduga karena keracunan makanan, usai mengkonsumsi MBG pada pukul 13.00 WIB, Selasa petang (1/9), ratusan santri dari PP Mambaul Hikam, Putat, Tanggulangin, mengalami muntah, pusing serta diare. Para santri, segera dilarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat.
Diantaranya ke RSUD Notopuro, Rsi Siti Hajar, RS Delta Surya, RS Pusdik Porong, RS Aisyiyah Siti Fatima Tulangan dan Puskesmas terdekat.
Pengasuh Ponpes sekaligus ketua yayasan Ponpes Mambaul Hikam, KH A. Wachid Harun menyampaikan jumlah santri di tempatnya ada 1.000 orang. Mereka semua setiap hari menerima manfaat dari program MBG itu,dari SPPG di Desa Kalitengah, Tanggulangin.
Menu MBG dimakan oleh para santri pada pukul 13.00 WIB atau selepas Dzuhur. Menjelang sore, mereka ada yang mulai merasa mual, pusing dan lemas. Menu MBG yang dikonsumsi seperti nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu Bali, sayur tumis buncis, baby corn dan apel
Santri yang dievakuasi ke rumah sakit, karena diduga mengalami keracunan makanan ada, kata Wachid Harun, ada sebanyak 431 orang. Tidak semua santri dievakuasi ke rumah sakit, karena daya tahan tubuh santri berbeda -beda.
Karena kejadian ini, pada petang hari sejumlah kendaraan ambulance nampak hilir mudik lewat di jalan Desa Putat, Tanggulangin, membawa para santri ke sejumlah rumah sakit dan klinik kesehatan terdekat, untuk segera mendapatkan perawatan.
Info dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, SPPG Kalitengah, Tanggulangin, setiap hari punya target memasok sebanyak 2.800 porsi makanan MBG ke sejumlah lembaga pendidikan (sekolah dan pesantren) di sekitar kecamatan Tanggulangin. Khusus di PP Mambaul Hikam, setiap hari mengirim sebanyak 1.000 porsi MBG. Sample menu MBG telah diambil oleh petugas Dinkes Sidoarjo dan sedang dalam uji laboratorium. Hasilnya baru bisa diketahui dalam waktu 1 Minggu.
Pantauan di lapangan Rabu pagi (2/9) kemarin, dapur SPPG Kalitengah, juga sudah tidak nampak lagi aktivitas masak memasak. Lokasi dijaga oleh pihak internal SPPG. Nampak di lokasi Camat Tanggulangin, Ari Prabowo, beserta petugas Satpol PP Tanggulangin.
Dilokasi, salah satu koordinator SPPG Kalitengah, Gerico, menyatakan permintaan maaf atas kejadian ini. Dirinya mengatakan selama ini sudah melakukan SOP yang harus dilaksanakan. Menurutnya mungkin masih ada hal -hal lain yang harus dievaluasi. [geh.ina.kus.gat]

