26 C
Sidoarjo
Thursday, August 20, 2026
spot_img

Setahun, Dua Siswa Asing Belajar Budaya Indonesia di SMAN 15 Surabaya


Surabaya, Bhirawa – SMAN 15 Surabaya (Libels) menerima dua siswa asing dari Jepang dan Prancis melalui program pertukaran pelajar dan Sister School. Selama satu tahun, keduanya akan mengikuti pembelajaran di SMAN 15 Surabaya sekaligus mempelajari budaya, sejarah, serta bangunan khas Indonesia sesuai dengan minat dan latar belakang pendidikan mereka.

Kedua siswa tersebut yakni Kaito Watanabe dari National Institute of Technology, Toyota College, Jepang, dan Charli Maza-Geulin dari Lycée polyvalent d’altitude (Suzanne Joulié Roos), Prancis. Selama berada di Surabaya, keduanya tinggal bersama keluarga asuh.

Kedatangan Kaito dan Charli merupakan bagian dari program pertukaran pelajar yang melibatkan Bina Antar Budaya, AFS Intercultural Programs, serta Rotary. Persiapan mengikuti program tersebut telah dilakukan sejak Mei untuk menjalani masa pertukaran selama satu tahun.

Kaito mengatakan, salah satu hal yang menarik perhatiannya selama berada di Indonesia adalah kesempatan mempelajari budaya, agama, dan sejarah secara langsung. Ia juga tertarik mengunjungi bangunan bersejarah, termasuk candi. “Di Indonesia saya ingin belajar budaya, agama, dan sejarah. Kalau ada candi, saya ingin mengunjunginya,” ujar Kaito.

Ia juga mengaku memiliki pengalaman menarik mengikuti berbagai kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, kegiatan tersebut berbeda dengan peringatan hari kemerdekaan di Jepang. “Kami juga punya hari kemerdekaan, tetapi tidak ada kegiatan seperti ini. Di sini seperti pesta sekolah, ada berbagai kegiatan,” katanya.

Berita Terkait :  Pemkot dan Pengadilan Agama Tekan Perkawinan Anak di Kota Probolinggo

Kaito juga menikmati kuliner Indonesia. Ia mengaku menyukai nasi dan makanan pedas, termasuk sambal. Namun, tinggal bersama keluarga asuh membuatnya harus beradaptasi dengan cita rasa makanan Indonesia yang berbeda dari Jepang.

Sementara itu, Charli memiliki ketertarikan khusus terhadap bangunan dan arsitektur. Ia datang ke Indonesia juga untuk melihat secara langsung karakter bangunan Indonesia.

Charli sebelumnya mengunjungi Jakarta dan mengaku tertarik dengan bangunan-bangunan besar di ibu kota. Selama berada di Surabaya, ia ingin lebih banyak menemukan dan mempelajari bangunan tradisional.

Kepala SMAN 15 Surabaya Abdul Razzaq Thahir mengatakan, program pertukaran pelajar di sekolahnya telah berjalan sejak 2013 melalui kerja sama dengan Bina Antar Budaya dan AFS. “Sejak tahun 2013, saat itu masih dengan AFS melalui Bina Antar Budaya,” kata Razzaq.

Kerja sama kemudian berkembang melalui sejumlah lembaga, termasuk Bridge Australia dan Rotary. SMAN 15 Surabaya bahkan pernah menerima kunjungan dari perwakilan Kedutaan Australia dalam rangka program sister school.

“Kami sangat mengapresiasi dua lembaga yang betul-betul peduli dengan SMAN 15 Surabaya, yakni Rotary dan Bina Antar Budaya. Siswa kami juga ada yang berangkat ke Amerika melalui Rotary,” ujarnya.

Menurut Razzaq, keberadaan siswa asing di SMAN 15 Surabaya bukan sekadar mengikuti proses pembelajaran. Mereka juga diharapkan mengenal sekaligus mempromosikan budaya Indonesia ketika kembali ke negara asal.

Berita Terkait :  196 Inovasi Capai Kematangan Tinggi, Kemendagri Dorong Jatim Perkuat Ekosistem Inovasi Daerah

Hal yang sama akan dilakukan siswa SMAN 15 Surabaya, Nadia Nur Amirah Al Khuwailid, kelas XII A3, yang akan mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Nadia akan mempelajari budaya dan kehidupan masyarakat Amerika sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia.

“Tidak cukup hanya belajar. Mereka juga mempromosikan budaya Indonesia. Begitu juga Charli dan Kaito, mereka mengenal budaya Indonesia, termasuk kegiatan kemerdekaan dan tari tradisional,” jelas Razzaq.

Selama mengikuti program, Kaito dan Charli tetap mengikuti pembelajaran sebagai siswa kelas XI. Sekolah juga menyiapkan teman pendamping untuk membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan pembelajaran di Indonesia.

SMAN 15 Surabaya juga menyiapkan rapor khusus bagi siswa pertukaran pelajar tersebut. Materi pembelajaran disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dan peminatan masing-masing siswa.

“Charli di sekolah asalnya mengambil bidang teknik, sehingga kami masukkan pada pembelajaran yang bermuatan IPA. Sedangkan Kaito memiliki minat di bidang arsitektur, sehingga materi yang diberikan juga kami sesuaikan,” terang Razzaq.

Ia berharap selama setahun mengikuti program, para siswa asing tidak hanya memahami pembelajaran di Indonesia, tetapi juga semakin mengenal budaya dan bahasa Indonesia. “Paling tidak, jika target satu tahun program tercapai, mereka bisa berbahasa Indonesia. Saya juga berkeinginan suatu saat ketika mereka menuntaskan program, mereka bisa menjadi petugas upacara,” pungkasnya. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!