26 C
Sidoarjo
Thursday, August 20, 2026
spot_img

Kisah Marfel, Bocah SD di Kediri yang Merawat Ibunya yang Sakit Seorang Diri


Kediri, Bhirawa – Di usia yang baru menginjak 11 tahun, Marfelino Dhuha Saputra harus menjalani kehidupan yang berbeda dari anak-anak seusianya. Siswa kelas 5 SD asal Desa Ngancar, Kabupaten Kediri, itu sehari-hari merawat ibunya yang mengalami pengapuran tulang.

Keseharian Marfel diisi dengan berbagai pekerjaan rumah, mulai dari memasak, mencuci hingga membersihkan rumah. Tanggung jawab tersebut dijalaninya setelah sang ibu, Kumala, 41, mengalami pengapuran tulang sejak sekitar dua tahun terakhir.

Kondisi itu membuat Kumala lebih banyak berbaring dan membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Marfel pun harus membagi waktunya antara sekolah, merawat ibunya, mengaji, dan bermain.

Kisah tersebut mendapat perhatian Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana saat mendatangi rumah Marfel. Saat itu, Marfel baru pulang sekolah dan masih mengenakan seragam merah putih.

Bupati Hanindhito berbincang langsung dengan Marfel untuk mengetahui kesehariannya. Dengan polos, bocah tersebut menceritakan berbagai pekerjaan yang biasa dilakukannya di rumah. “Kamu bisa masak?” tanya bupati.

“Bisa, masak jangan (sayur) apa saja, asal diberitahu caranya,” jawab Marfel.

Marfel mengaku mulai merawat ibunya sejak duduk di kelas 3 SD. Setiap pagi, setelah bangun tidur, ia memasak makanan sederhana untuk sarapan bersama ibunya sebelum berangkat sekolah.

Sepulang sekolah, rutinitas serupa kembali dilakukan. Marfel memasak untuk ibunya sebelum menjalani aktivitas lain. Sore hari, ia tetap mengaji seperti anak-anak seusianya.

Berita Terkait :  Kepala Daerah Diminta Peduli Kasus Bullying, Ombudsman Terima Laporan Dua Kasus Kekerasan di Sekolah

Bupati Hanindhito menyebut Marfel sebagai anak yang luar biasa. Ia sempat menanyakan kapan bocah tersebut memiliki waktu untuk bermain. “Ini anak yang luar biasa. Tadi saya tanya kapan mainnya, kata dia main setelah habis ngaji,” ujarnya.

Menurut Bupati Hanindhito, Marfel sempat merasa berat ketika pertama kali harus mengambil tanggung jawab merawat ibunya. Namun, seiring waktu, ia mulai terbiasa dan tidak lagi menganggapnya sebagai beban.

Meski harus merawat ibunya, Bupati Hanindhito berpesan agar Marfel tetap bersekolah dan menjalankan ibadah. Pendidikan, menurutnya, tetap harus menjadi perhatian agar tanggung jawab yang dijalani saat ini tidak menghambat masa depan Marfel.

Sebelum berpamitan, Bupati Hanindhito memberikan nomor ponsel pribadinya kepada Marfel. Ia meminta bocah tersebut menghubunginya sewaktu-waktu jika membutuhkan bantuan.

“Kalau ada apa-apa dia sewaktu-waktu boleh hubungi saya. Kebutuhan sekolah, makan dan sebagainya kita yang akan cukupi,” tandas bupati. [van.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!