Jombang, Bhirawa – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dijadwalkan menghadiri acara bedah buku pemikiran dan biografi pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Wahab Chasbullah, di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Sabtu (15/08).
Cucu pendiri NU, KH Wahab Chasbullah, KH Solachul Aam Wahib Wahab atau Gus Aam menyatakan, acara ini digelar dalam rangka menyambut Muktamar ke-35 NU sekaligus HUT ke-81 RI.
“Tambakberas kan tuan rumah Muktamar ya. Jadi kita ingin mendengar langsung pemikiran calon ketua NU ke depan soal Mbah Wahab itu seperti apa,” katanya, Jumat (14/8/2026).
Selain Gus Yahya, pihaknya juga mengundang sejumlah calon ketua umum PBNU lainnya, seperti KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, dan calon lainnya. Namun, dari sejumlah nama tersebut baru Gus Yahya yang konfirmasi hadir. “Lainnya belum ada tanggapan,” jelasnya.
Diketahui, KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab merupakan salah satu ulama paling penting dalam sejarah lahir dan berkembangnya NU. Ia bukan hanya dikenal sebagai pendiri NU, tetapi juga sebagai penggerak pendidikan pesantren, aktivis pergerakan nasional, politisi, diplomat, sekaligus salah satu tokoh yang merumuskan hubungan antara Islam dan nasionalisme Indonesia.
Mbah Wahab lahir di Tambakberas, Jombang pada 31 Maret 1888, dari pasangan KH Hasbullah Said dan Nyai Latifah.
Kiai Wahab tumbuh dalam lingkungan pesantren. Ayahnya, KH Hasbullah Said, merupakan pengasuh Pesantren Tambakberas. Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan agama dari keluarga sebelum kemudian memperdalam ilmu di sejumlah pesantren.
Ia tercatat pernah belajar di Pesantren Langitan, Mojosari, Tawangsari, Kademangan Bangkalan, Branggahan Kediri, hingga Tebuireng Jombang.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Makkah. Di Tanah Suci, Wahab berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, antara lain Syekh Mahfudz at-Tirmasi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Pengalaman belajar yang panjang tersebut membentuk karakter Wahab sebagai ulama yang tidak hanya menguasai fikih dan ushul fikih, tetapi juga memiliki wawasan sosial dan politik yang luas.
Salah satu sisi yang membuat Kiai Wahab berbeda dari gambaran ulama yang hanya bergerak di ruang pendidikan adalah keterlibatannya dalam politik. Ia melihat politik sebagai instrumen untuk memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa.
Karena itu, ia aktif dalam berbagai organisasi politik dan memainkan peran penting dalam dinamika politik Islam pada masa menjelang dan setelah kemerdekaan. Kemampuan diplomasi menjadi salah satu kekuatan utamanya.
Kiai Wahab dikenal memiliki kemampuan diplomasi sekaligus penguasaan fikih dan ushul fikih yang kuat. Dalam perjalanan politik Indonesia, ia juga dikenal sebagai figur yang mampu menjembatani kepentingan agama dengan kepentingan negara.
Di lingkungan NU, Kiai Wahab dikenal sebagai figur yang memiliki kemampuan menggerakkan massa dan organisasi. Ia bukan tipe ulama yang hanya memberikan nasihat dari belakang. Ia terjun langsung mengorganisasi, bernegosiasi, membangun jaringan, dan menghadapi persoalan politik.
Karena karakter itulah ia sering disebut sebagai motor penggerak NU atau Panglima NU. Jika KH Hasyim Asy’ari sering dipandang sebagai simbol otoritas keulamaan dan fondasi keagamaan NU, maka Mbah Wahab dapat dilihat sebagai organisatoris dan politik yang membuat NU bergerak di tengah perubahan zaman.
KH Abdul Wahab Chasbullah wafat pada 29 Desember 1971. Ia meninggalkan warisan besar berupa tradisi keilmuan, jaringan pesantren, organisasi NU, dan gagasan mengenai hubungan Islam dengan Indonesia.[rif.kt]


