Gresik, Bhirawa — Kondisi sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Gresik yang dinilai memprihatinkan kembali menjadi sorotan serius DPRD. Komisi II DPRD Gresik mendesak program perbaikan dan revitalisasi pasar tidak sekadar menjadi agenda anggaran, melainkan benar-benar diarahkan pada fasilitas yang paling rusak dan membutuhkan penanganan segera.
Pembahasan ini mengemuka dalam pembahasan Kebijakan Umum Perubahan Anggaran (KUPA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Anggota Komisi II DPRD Gresik, Muhammad Kurdi, menyampaikan bahwa ada tujuh pasar yang menjadi perhatian dalam program revitalisasi, yaitu: Pasar Sidayu, Pasar Dukun, Pasar Kota, Pasar Baru, Pasar Sidomoro, Pasar Giri, dan Pasar Petiken Driyorejo. Namun karena revitalisasi Pasar Sidayu telah dilakukan, perhatian dan anggaran selanjutnya difokuskan untuk enam pasar lainnya.
“Untuk Pasar Sidayu sudah dilakukan revitalisasi. Jadi anggaran ini difokuskan untuk enam pasar lainnya,” kata Kurdi.
Dari sejumlah pasar tersebut, Pasar Dukun dinilai membutuhkan penanganan khusus. Persoalan banjir yang berulang membuat perbaikan ringan dinilai tidak cukup.
“Pasar Dukun itu sering kebanjiran, sehingga memang harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp1,1 miliar untuk perbaikan sejumlah pasar, dengan rincian: Sekitar Rp600 juta khusus untuk Pasar Dukun, sekitar Rp500 juta dibagi untuk Pasar Kota, Pasar Baru, Pasar Sidomoro, Pasar Giri, dan Pasar Petiken Driyorejo
Karena besaran anggaran masih terbatas dibanding kebutuhan di lapangan, DPRD meminta pemerintah tidak membagi anggaran secara rata, melainkan menyesuaikan dengan tingkat kerusakan dan urgensi masing-masing pasar.
Komisi II sebelumnya juga telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk melihat langsung kondisi lapangan. Hasilnya, Pasar Baru menjadi salah satu yang mendapat sorotan serius.
“Pasar Baru ini banyak yang atapnya bocor, ada yang jebol, dan kurang terawat. Kondisinya memang sangat memprihatinkan,” tegas Kurdi.
Ditegaskan, pembenahan pasar tidak hanya menyangkut kondisi fisik bangunan, tetapi juga kenyamanan pedagang dan pembeli. Terlebih pasar yang berada di kawasan perkotaan turut mencerminkan wajah Kabupaten Gresik.
“Ini kan wajah kita di kota, harusnya Pasar Gresik juga diperhatikan. Jangan sampai kondisinya dibiarkan seperti itu,” katanya.
Kurdi menegaskan keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan mengabaikan pasar yang kondisinya sudah rusak. Dengan dana yang tersedia, pemerintah diminta menentukan skala prioritas secara tegas agar penanganan benar-benar menyentuh persoalan paling mendesak.
“Memang anggarannya terbatas, sehingga harus dibagi. Tapi yang paling penting, pasar-pasar yang kondisinya sudah rusak dan membutuhkan penanganan segera harus menjadi prioritas,” pungkasnya. [kim.kt]


