Oleh:
Tim Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Dr. Soetomo, Surabaya (Unitomo) Sayekti Suindyah D; Meithiana Indrasari; Dian Ferriswara; Zuhdi Ma’sum
Pembangunan desa wisata kerap berhenti pada apa yang tampak: pintu masuk yang lebih menarik, spot foto baru, penataan kawasan, atau agenda kunjungan yang semakin ramai. Semua itu penting. Namun, desa wisata akan kehilangan maknanya jika keramaian tidak berubah menjadi kemampuan ekonomi masyarakat. Sebuah desa boleh saja ramai dikunjungi, tetapi belum tentu menjadi lebih mandiri.
Di sinilah pengembangan desa wisata perlu dibaca ulang. Wisata seharusnya bukan sekadar kegiatan mendatangkan orang, melainkan jalan untuk memperkuat ekonomi lokal. Ukurannya bukan hanya jumlah wisatawan, melainkan seberapa jauh aktivitas wisata menciptakan pasar bagi produk desa, memperkuat UMKM, meningkatkan keterampilan warga, membuka kesempatan kerja, dan membuat masyarakat mampu mengelola sumber dayanya sendiri. Karena itu, pembangunan desa wisata ke depan perlu bertumpu pada tiga fondasi yang saling terkait: kapasitas masyarakat, teknologi yang sesuai kebutuhan dan lingkungan, serta kemampuan menjangkau pasar melalui digitalisasi. Tanpa ketiganya, desa wisata mudah berubah menjadi proyek fisik yang ramai di awal tetapi lemah dalam keberlanjutan.
Ekosistem Ekonomi Desa
Pertama, desa wisata harus dibangun sebagai ekosistem ekonomi, bukan sekadar destinasi. Pertanyaan terpenting bukan hanya “berapa orang datang?”, melainkan “siapa yang memperoleh manfaat?”. Jika wisatawan datang tetapi makanan, suvenir, kebutuhan acara, hingga layanan pendukung justru lebih banyak dipasok dari luar desa, nilai ekonomi akan cepat mengalir keluar.
Sebaliknya, ketika wisata terhubung dengan produk pangan, kerajinan, jasa, pertanian, seni budaya, dan usaha warga, setiap kunjungan memiliki efek ekonomi yang lebih luas. Wisatawan tidak hanya membeli tiket, tetapi juga membeli pengalaman dan produk lokal. Pada titik itulah masyarakat berubah dari penonton menjadi pelaku utama pembangunan.
Pengalaman pendampingan di Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, memberi gambaran sederhana. Desa ini memiliki wisata alam Pandansili, sumber air, serta sejumlah usaha masyarakat. Persoalannya bukan tidak ada potensi, melainkan bagaimana potensi tersebut diolah menjadi aktivitas ekonomi yang lebih produktif.
Pada unit usaha air mineral yang dikelola Pokdarwis, misalnya, penguatan proses produksi dilakukan melalui penggunaan peralatan pengolahan air disertai pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan. Pada kelompok PKK dan UMKM kembang goyang, persoalan lamanya penirisan minyak dijawab dengan penggunaan mesin peniris. Artinya, teknologi bekerja ketika menyentuh hambatan nyata yang dialami masyarakat.
Teknologi untuk Memberdayakan
Kedua, gagasan teknologi hijau di desa tidak harus selalu identik dengan mesin mahal dan rumit. Teknologi hijau justru dapat dimulai dari pilihan yang lebih efisien, lebih bersih, mengurangi pemborosan, dan membantu menjaga kualitas proses produksi. Namun, ukuran keberhasilannya tidak boleh berhenti pada jumlah alat yang diserahkan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah masyarakat dapat mengoperasikan teknologi itu? Apakah mereka mampu merawatnya? Apakah biaya operasionalnya masuk akal? Dan apakah produktivitas atau kualitas usaha benar-benar meningkat setelah pendampingan selesai?
Di sinilah perbedaan antara bantuan dan pemberdayaan. Bantuan berhenti ketika alat diserahkan. Pemberdayaan baru terlihat ketika masyarakat mampu menggunakan, merawat, mengevaluasi, bahkan mengembangkan teknologi secara mandiri.
Digitalisasi dan Pasar
Ketiga, produksi yang lebih baik tetap membutuhkan pasar. Banyak usaha desa memiliki produk yang layak, tetapi hanya dikenal di lingkungan sekitar. Di sinilah digitalisasi memperoleh maknanya.
Media sosial, layanan percakapan, platform perdagangan elektronik, dan peta digital membuka kesempatan bagi pelaku usaha desa untuk berhubungan langsung dengan konsumen. Namun, digitalisasi tidak cukup dengan membuat akun. Produk memerlukan identitas, cerita, foto yang baik, informasi harga yang jelas, kemudahan pemesanan, dan komunikasi yang konsisten.
Bagi desa wisata, digitalisasi bahkan dapat menjadi penghubung antara destinasi dan produk lokal. Konten tentang keindahan desa dapat berjalan bersama cerita tentang makanan khas, produk UMKM, kegiatan budaya, dan aktivitas masyarakat. Wisata kemudian tidak dipasarkan sebagai tempat semata, melainkan sebagai pengalaman ekonomi dan budaya yang utuh.
Dari Program Menjadi Ekosistem
Masalah berikutnya adalah keberlanjutan. Banyak program pemberdayaan berjalan baik selama pelatihan dan pendampingan masih berlangsung, lalu melemah ketika program berakhir. Ini terjadi ketika kegiatan masih diperlakukan sebagai proyek, bukan sebagai ekosistem.
Perguruan tinggi, pemerintah desa, BUM Desa, kelompok masyarakat, koperasi, pelaku usaha, dan generasi muda perlu memiliki peran yang saling melengkapi. Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan teknologi. Pemerintah desa memperkuat kelembagaan. Pelaku usaha dan kelompok masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi. Generasi muda dapat menjadi penggerak pemasaran digital. Kolaborasi semacam inilah yang memungkinkan hasil program bertahan.
Karena itu, keberhasilan pengabdian kepada masyarakat juga perlu diukur ulang. Bukan hanya berapa pelatihan diselenggarakan, berapa peserta hadir, atau berapa alat diserahkan. Ukurannya adalah perubahan: apakah proses menjadi lebih efisien, pencatatan usaha membaik, pasar meluas, pendapatan bertambah, teknologi terus digunakan, dan masyarakat mampu mengambil keputusan tanpa selalu bergantung pada pendamping.
Pada akhirnya, kemandirian desa bukan berarti desa harus berjalan sendirian. Kemandirian berarti desa memiliki kapasitas untuk mengelola sumber daya, membangun kemitraan, beradaptasi terhadap perubahan, dan menciptakan nilai ekonomi dari keunggulannya sendiri.
Desa wisata dapat menjadi salah satu jalannya. Namun, wisata harus terhubung dengan UMKM; UMKM perlu ditopang teknologi dan manajemen; teknologi harus memperhatikan keberlanjutan; dan produk harus mampu menemukan pasar. Jika hubungan itu terbangun, pembangunan tidak lagi sekadar menghadirkan program ke desa. Ia sedang membangun kemampuan desa untuk menentukan masa depannya sendiri. [*]


