31.1 C
Sidoarjo
Monday, August 3, 2026
spot_img

Dorong Low Carbon Destination, 119 Peserta SEGTA 2026 Lintas Negara Terapkan Riset Teknologi Hijau di Gili Iyang dan Bromo

Probolinggo, Bhirawa – Pengembangan destinasi wisata rendah karbon (low carbon destination) menjadi salah satu tantangan pengelolaan pariwisata di Indonesia di tengah komitmen global menekan emisi karbon. Upaya tersebut tidak hanya menyangkut penggunaan energi terbarukan, tetapi juga perubahan pola pengelolaan destinasi, transportasi, hingga pengelolaan sampah di kawasan wisata.

Isu tersebut menjadi salah satu fokus Sustainable Energy and Green Technology Application (SEGTA) 2026 yang diikuti 119 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan sejumlah negara. Melalui kolaborasi lintas disiplin, berbagai hasil riset diterapkan langsung di kawasan wisata Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, serta kawasan Bromo.

Dosen Program Studi D4 Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si., mengatakan destinasi wisata menjadi titik temu berbagai sektor dalam mewujudkan target penurunan emisi karbon. Menurutnya, teknologi, energi terbarukan, hingga tata kelola lingkungan perlu diterapkan secara terpadu agar pembangunan pariwisata berjalan berkelanjutan.

“Destinasi pariwisata menjadi muara berbagai sektor. Teknologi, energi terbarukan hingga pengelolaan lingkungan dapat diterapkan di sana sehingga masyarakat maupun wisatawan semakin sadar terhadap emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan setiap aktivitas wisata menghasilkan jejak karbon, mulai dari penggunaan transportasi menuju destinasi, konsumsi energi selama menginap, hingga aktivitas wisata yang dilakukan. Karena itu, literasi kepada wisatawan menjadi bagian penting dalam penerapan konsep low carbon destination.

Berita Terkait :  Berkunjung ke Pondok Pesantren, Plt Bupati Gresik Tegaskan Pesantren Harus Ramah Anak

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah kalkulator jejak karbon yang memungkinkan wisatawan menghitung emisi berdasarkan moda transportasi, jarak perjalanan, dan jenis akomodasi yang digunakan. Hasil perhitungan tersebut kemudian dikonversikan menjadi jumlah pohon yang perlu ditanam sebagai bentuk kompensasi emisi karbon.

Penerapan konsep tersebut juga mulai dilakukan melalui pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi, penggunaan sistem kartu listrik di hotel yang secara otomatis memutus aliran listrik saat tamu meninggalkan kamar, hingga penerapan konsep green hotel dengan penggunaan produk yang lebih ramah lingkungan.

Sementara itu, Yoga Uta Nugraha, S.T., M.T., dosen Teknik Elektro Universitas Airlangga, mengatakan implementasi teknologi di Gili Iyang berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, terutama tingginya biaya energi dan pengelolaan sampah.

Menurutnya, harga bahan bakar minyak (BBM) di pulau tersebut dapat mencapai dua kali lipat dibandingkan wilayah daratan. Kondisi itu mendorong pengembangan panel surya yang dipadukan dengan kendaraan listrik hasil konversi dari sepeda motor berbahan bakar minyak untuk membantu menekan biaya operasional, terutama bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

“Tidak hanya menyediakan teknologinya, kami membangun ekosistem yang berkelanjutan. Energi berasal dari panel surya, transportasi menggunakan kendaraan listrik, sementara sampah plastik diolah menjadi produk bernilai ekonomi sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” katanya.

Wakil Dekan III Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga, Prastika Krisma Jiwanti, S.Si., M.Sc. Eng., Ph.D, mengatakan kolaborasi internasional dalam SEGTA diarahkan agar tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, melainkan menghasilkan riset bersama yang dapat diterapkan langsung untuk menjawab persoalan di masyarakat.

Berita Terkait :  Terdakwa Asusila Anak di Bawah Umur, Kakek di Kota Batu Dibui 3,5 Tahun

Pengalaman tersebut mendapat respons positif dari peserta internasional. Mahasiswi Fakultas Sains Universiti Malaya, Malaysia, Priya Mohan, menilai keterlibatan langsung dengan masyarakat menjadi pengalaman paling berkesan selama mengikuti SEGTA.

“Pengalaman bersama masyarakat menjadi yang paling bermakna bagi saya. Setelah kembali ke Malaysia, saya ingin membagikan pengalaman ini dan mengembangkan lebih banyak program pengabdian masyarakat bersama mahasiswa dan staf universitas agar manfaatnya juga dirasakan komunitas di sana,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa CESI School of Engineering Bordeaux, Prancis, Timothé Raux, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pembangunan berkelanjutan setelah terlibat langsung dalam berbagai kegiatan di Pulau Gili Iyang.

Ia menilai masyarakat Indonesia memiliki pendekatan berbeda dalam menjaga lingkungan, tidak hanya berupaya mengurangi dampak negatif terhadap alam, tetapi juga aktif membantu memulihkan ekosistem, seperti melalui penanaman pohon dan pelestarian keanekaragaman hayati.

“Saya akan merekomendasikan program ini kepada teman-teman di negara saya. Kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami budaya, cara berpikir, serta bagaimana berbagai negara dapat bekerja sama mencari solusi bagi persoalan masyarakat,” pungkasnya.  [fir.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!