Kota Probolinggo, Bhirawa – Pemerintah Kota Probolinggo memperkuat upaya menjaga keamanan dan kerukunan masyarakat melalui peningkatan kapasitas Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) serta penguatan moderasi beragama di kalangan pelajar. Kedua langkah tersebut diarahkan untuk mencegah potensi konflik sosial sejak dini sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan bagi anggota FKDM yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) serta seminar moderasi beragama yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo pada akhir pekan lalu.
Kepala Bakesbangpol Kota Probolinggo, Sonhaji, mengatakan peningkatan kapasitas FKDM bertujuan memperkuat kemampuan anggota forum dalam mendeteksi dan melaporkan potensi gangguan keamanan maupun konflik sosial sehingga dapat segera ditindaklanjuti pemerintah.
Selama dua hari pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai deteksi dini, kewaspadaan terhadap potensi ancaman, teknik pengumpulan informasi, hingga upaya pencegahan berkembangnya paham yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Wali Kota Probolinggo, Dokter Aminuddin, menilai deteksi dini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas daerah. Menurutnya, informasi dari masyarakat menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengambil langkah pencegahan sebelum persoalan berkembang menjadi konflik.
“Deteksi dini bukan sekadar mengenali potensi persoalan, tetapi menjadi langkah awal untuk mencegah munculnya hal-hal yang dapat mengganggu keamanan, ketenteraman, dan jalannya pembangunan di Kota Probolinggo,” ujarnya.
Sementara itu, MUI Kota Probolinggo mengajak kalangan pelajar memperkuat sikap moderasi beragama melalui seminar yang diikuti 88 pelajar dari 44 SMA, SMK, dan MA se-Kota Probolinggo. Kegiatan tersebut menekankan pentingnya toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, serta literasi digital sebagai upaya menangkal hoaks, ujaran kebencian, dan paham ekstrem.
Ketua FKUB Kota Probolinggo, Ahmad Hudri, mengatakan moderasi beragama merupakan cara membangun kehidupan beragama yang menghargai perbedaan tanpa mengurangi keyakinan masing-masing. “Pelajar harus menjadi generasi yang mampu menjaga keseimbangan antara kesalehan spiritual, kesalehan sosial, dan komitmen kebangsaan,” katanya.
Pada akhir kegiatan, seluruh peserta mendeklarasikan komitmen sebagai Duta Toleransi dan Pelopor Moderasi Beragama. Mereka menyatakan siap menjaga nilai-nilai Pancasila, mempromosikan kerukunan, menolak intoleransi, radikalisme, serta perundungan di lingkungan sekolah maupun masyarakat. [fir.wwn]


