Oleh :
Catherin Diah Puspita
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Banyak destinasi wisata, baik yang sudah populer maupun yang baru dirintis, kini mengandalkan platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook sebagai etalase utama untuk menarik perhatian calon wisatawan.
Foto pemandangan alam, video singkat suasana destinasi, hingga ulasan dari pengunjung yang dibagikan secara daring mampu menciptakan ketertarikan yang jauh lebih besar dibandingkan promosi konvensional.
Hal ini terbukti dalam wawancara yang telah penulis lakukan saat mengunjungi salah satu wisata bersejarah di Surabaya, yaitu museum Siola. Dalam wawancara tersebut terdapat wisatawan local dan manca negara yang menyebutkan bahwa mereka mengetahui destinasi wisata museum Siola dari media sosial.
Proses pengenalan wisata ini melibatkan banyak pihak. Pengelola destinasi wisata dan pemerintah daerah aktif memanfaatkan akun resmi media sosial untuk memperkenalkan potensi wisata di wilayah mereka.
Content creator dan influencer turut berperan besar dengan membagikan pengalaman mereka berkunjung, sering kali menjangkau audiens yang jauh lebih luas daripada akun resmi sekalipun. Tidak kalah penting, wisatawan itu sendiri baik turis lokal maupun mancanegara menjadi promotor tanpa sadar ketika mereka mengunggah momen perjalanan mereka dan menandai lokasi yang dikunjungi.
Hal tersebut mulai terasa signifikan sejak penggunaan internet dan kepemilikan ponsel pintar meningkat tajam dalam dekade terakhir, dan semakin menguat pascapandemi ketika minat masyarakat untuk kembali bepergian melonjak tinggi. Saat ini, hampir setiap waktu bahkan setiap detik ada konten baru bertema wisata yang diunggah ke berbagai platform digital, membuat promosi pariwisata berjalan secara terus-menerus tanpa henti.
Dampaknya terasa di berbagai destinasi, mulai dari kota besar dengan ikon wisata yang sudah mendunia, hingga desa-desa kecil dan tempat wisata tersembunyi yang sebelumnya jarang terdengar. Karena sifat media sosial yang tidak terbatas oleh wilayah, sebuah pantai kecil di pelosok daerah pun bisa muncul di layar ponsel seseorang yang berada di belahan dunia lain. Inilah yang membuat jangkauan promosi pariwisata digital jauh lebih luas dibandingkan metode konvensional.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa media sosial menjadi kekuatan utama dalam memperkenalkan pariwisata : (1). 1. Jangkauan yang luas dan lintas negara satu unggahan dapat dilihat oleh ribuan hingga jutaan pengguna dari berbagai negara dalam waktu singkat, menjadikannya sarana promosi yang menjangkau turis lokal sekaligus mancanegara secara bersamaan. (2). Biaya yang relatif rendah dibandingkan iklan konvensional, promosi melalui media sosial jauh lebih terjangkau, bahkan bisa dilakukan tanpa biaya sama sekali melalui konten organik. (3). Interaksi dua arah calon wisatawan dapat langsung bertanya, melihat ulasan, dan berinteraksi dengan pengelola wisata maupun sesama pengguna sebelum memutuskan untuk berkunjung. (4). Konten visual yang menggugah foto dan video memberikan gambaran nyata suasana destinasi, sehingga lebih meyakinkan dibandingkan deskripsi tertulis semata. (5). Efek viral sebuah konten yang menarik dapat menyebar dengan cepat tanpa perlu strategi promosi besar, asalkan mampu memikat perhatian pengguna lain untuk membagikannya kembali.
Secara umum, prosesnya dimulai dari pembuatan konten yang menarik baik berupa foto estetik, video pendek, maupun cerita pengalaman berwisata. Konten tersebut kemudian diunggah ke platform media sosial dengan dukungan elemen pendukung seperti judul yang menarik, label lokasi, dan tagar (hashtag) yang relevan agar lebih mudah ditemukan oleh pengguna lain.
Seperti halnya yang telah dilakukan oleh penulis dalam pembuatan video vlog untuk pemenuhan tugas Komunikasi Pariwisata yang diampu oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro.
Setelah diunggah, algoritma media sosial akan membantu menyebarkan konten tersebut ke pengguna yang memiliki minat serupa, sehingga jangkauannya meluas secara organik. Interaksi seperti komentar, suka, dan bagikan ulang turut memperbesar kemungkinan konten tersebut dilihat oleh lebih banyak orang, termasuk wisatawan asing yang sedang mencari inspirasi destinasi liburan. Pada akhirnya, ketertarikan yang muncul dari dunia maya ini mendorong calon wisatawan untuk benar-benar mengunjungi lokasi yang mereka lihat di linimasa mereka.
Komunikasi di era digital telah mengubah lanskap pariwisata secara fundamental. Media sosial bukan lagi sekadar alat berbagi momen pribadi, melainkan telah menjelma menjadi etalase pariwisata global yang menjangkau siapa saja, di mana saja. Dengan strategi komunikasi digital yang tepat, destinasi wisata sekecil apa pun memiliki kesempatan yang sama untuk dikenal luas baik oleh wisatawan lokal yang ingin menjelajahi negeri sendiri, maupun wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman baru di belahan dunia lain. [*]


