Kab Malang, Bhirawa – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang dalam menghadapi musim kemarau telah melakukan antisipasi, seperti daerah-daerah di wilayah kecamatan krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, ancaman gagal panen di sektor pertanian, serta munculnya berbagai gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem dan penurunan kualitas sanitasi.
Meski musim kemarau belum mencapai puncak, namun sudah 43,6 persen, area lahan pertanian terancam kekeringan, yang lokasinya menyebar di 22 kecamatan. Ancaman kekeringan yang terluas, yakni di wilayah Kecamatan Ampelgading seluas 195,45 meter persegi (m2). Selanjutnya, di wilayah Kecamatan Tirtoyudo seluas 69,66 m2.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan, Kamis (18/6), kepada wartawan mengatakan selain Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo yang menjadi ancaman kekeringan, namun juga di wilayah kecamatan lain terjadi krisis air bersih, seperti di wilayah Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, dan Sumbermanjing Wetan. Dan untuk disisi Malang Barat seperti di Kecamatan Ngantang dan Kasembon.
“Namun secara geografis, daerah tersebut memiliki keterbatasan sumber air saat musim kemarau panjang,” jelasnya.
Dia menjelaskan, ancaman kekeringan berpotensi terjadi jika air yang tersedia secara alami tidak memenuhi kebutuhan, baik untuk kehidupan manusia maupun tumbuh-tumbuhan. Ancaman kekeringan di musim kemarau ini, tentunya di sektor pertanian, petani akan mengalami kerugian dan nilainya jika dirupiahkan tidak sedikit.
Memang di Indonesia mengalami dua musim, yakni musim hujan dan kemarau. Seperti terjadinya kekeringan di Kabupaten Malang terjadi karena faktor geologis, klimatologis, dan vegetatif. Hal itu menyebabkan rendahnya curah hujan, serta juga jenis tanah karst yang tidak dapat menampung dan menyimpan air.
“Langkah yang diambil BPBD Kabupaten Malang yakni pencegahan, yang bekerjasama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait telah memonitor sumber air dan kondisi lapangan secara berkala untuk memastikan kecukupan kebutuhan air bersih,” tutur Sadono.
Selain itu, pihaknya juga melaksanakan koordinasi lintas sektor berbasis data peta rawan kekeringan. Selanjutnya, juga memberikan edukasi dan sosialisasi yang disampaikan kepada masyarakat agar dapat menghemat air, serta meningkatkan kesiapsiagaan sarana distribusi air bersih. Oleh karena itu, pihaknya menghimbau pada masyarakat Kabupaten Malang, khususnya wilayah yang rawan kekeringan agar menggunakan air secara bijak dan menyiapkan cadangan air.
“Cuaca secara umum bisa diprediksi, namun kadang cuaca tiba-tiba berubah yang datang begitu saja,” akunya. [cyn.kt]


