27.3 C
Sidoarjo
Monday, June 8, 2026
spot_img

Jeritan Rakyat di Tengah Rupiah Kian Lemah

Sebagai warga sekaligus pelaku usaha kecil, saya merasa sangat resah dan prihatin melihat kondisi nilai tukar rupiah yang terus terpuruk terhadap Dolar Amerika Serikat. Belakangan ini, kita dihadapkan pada kenyataan pahit di mana mata uang Garuda tertekan hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS. Angka ini bukan sekadar statistik di pasar keuangan, melainkan momok nyata yang menghantui kehidupan sehari-hari masyarakat.

Bagi sebagian orang, mungkin pelemahan kurs ini dianggap tidak berdampak langsung karena penghasilan mereka diterima dalam bentuk rupiah. Namun, mari kita lihat realita di lapangan. Ekonomi kita masih sangat bergantung pada barang dan bahan baku impor. Ketika dolar menguat drastis, biaya impor otomatis membengkak.

Dampaknya sudah mulai dirasakan oleh para produsen skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebagai contoh, para perajin tahu dan tempe kini harus memutar otak karena harga kedelai impor meroket tajam. Lonjakan biaya produksi ini telah menggerus margin keuntungan pedagang. Pada akhirnya, mereka dihadapkan pada dua pilihan sulit: mengurangi porsi produksi atau menaikkan harga jual yang berisiko ditinggalkan pelanggan.

Bagi ibu rumah tangga, kondisi ini ibarat lingkaran setan yang menakutkan. Pelemahan rupiah memicu kenaikan biaya hidup secara menyeluruh. Harga berbagai kebutuhan pokok, mulai dari gandum, minyak goreng, hingga barang elektronik, perlahan ikut merangkak naik. Di tengah pendapatan yang stagnan, masyarakat kelas menengah ke bawah harus berjuang lebih keras sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Berita Terkait :  Polres Gresik Selamatkan Kakek asal Majalengka Tersesat dan Dikembalikan pada Keluarga

Oleh karena itu, melalui surat ini, saya ingin mengetuk hati pemerintah dan Bank Indonesia selaku otoritas terkait. Berbagai pernyataan bahwa fundamental ekonomi kita kuat tentu menjadi harapan yang menenangkan, namun hal tersebut harus diiringi dengan bukti nyata. Intervensi pasar yang dilakukan Bank Indonesia perlu terus diperkuat agar volatilitas nilai tukar tidak semakin liar.

Pemerintah juga perlu segera menggulirkan program stimulus yang tepat sasaran, khususnya untuk melindungi daya beli masyarakat rentan dan memberikan subsidi bagi pelaku usaha yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Selain itu, langkah kampanye mencintai dan menggunakan produk dalam negeri harus digalakkan kembali secara masif sebagai wujud solidaritas ekonomi nasional.

Erma Sawitri
Pedagang Pasar Pucang, Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!