Dari kiri Ust. Junaidi, Syukron, anak, penulis, Ust. Suwito, dan Ust Sugiyono, saat takziyah ke rumah duka, Ahad pagi (07/06/26).
Oleh Choirul Anam Djabar, Surabaya
Surabaya, Bhirawa.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, telah pulang ke rahmatullah, H. Rembagi, Ngemplak RT 01 RW 05….” demikian kalimat awal berita duka yang dikirim oleh H. Alimin, di grup WA Jatiqo Jatim, Sabtu malam (06/06/26). Berita ini, tentu sangat mengejutkan banyak orang, mengingat beliau masih aktif mengikuti ngaji Program Murattal Tujuh Lagu (PMTL) di Masjid Hidayatullah, Kandangan Surabaya.
Ya, memang Aba Rembagi, panggilan akrabnya, aktif mengikuti ngaji PMTL di masjid tersebut. Beliau tidak pernah absen mengikuti kegiatan tersebut. Hanya libur saat hari raya Idulfitri lalu. Kabar terakhir, memang beliau sempat opname di Rumah Sakit karena konon terkena struk. Tapi ketika penulis bezuk, keadaan beliau sangat prima. Tidak ada tanda-tanda struk. Ngomongnya lancar. Demikian pula gerak-geriknya.
Hari Jumatnya, beliau masih sempat melaksanakan ibadah tersebut.
“Tampaknya beliau sehat-sehat saja,” kata Ust Muhammad Junaidi, peserta PMTL Masjid Hidayatullah, saat takziyah ke rumah duka, Ahad pagi.
Namun tiba-tiba pada Sabtu pagi, saat pelaksanaan ngaji, Aba Limin, panggilan akrab H. Alimin mengabarkan bahwa beliau opname lagi. Dan Sabtu malamnya, Aba Limin juga yang mengumumkan kepergian beliau.
Aba Rembagi meninggal setahun setelah kepergian saudara kandungnya, yakni Pak Sariman, yang juga peserta PMTL di masjid Hidayatullah. Aba Rembagi yang lahir pada 1 Maret 1964, telah mengantongi sertifikat Al-Baghdadi, yakni buku rujukan pertama belajar baca Al-Qur’an di Masjid Hidayatullah dengan nomor 190/S/AB/JTQ-Jatim/II/2024.
Beliau sebenarnya hampir mengantongi Sanad Jamak Riwayat Syu’bah dan Hafsh dari Imam Ashim Jalur Asy-Syatibiyah juz 1-3. Namun karena persyaratan untuk mendapatkan Sanad tersebut harus hafal surat-surat pendek hingga Surat Al-Lail, beliau masih dalam proses.
Harus diakui bahwa memang beliau sudah sangat terlambat belajar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Tapi bagi beliau, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Oleh karena itu, dengan kemampuan yang sangat terbatas, beliau tetap bersemangat untuk belajar, meski kadang-kadang harus mengulang pelajaran atau pengajiannya berkali. Hal ini karena sering sekali dalam satu bacaan, setelah dibetulkan, kemudian lupa dan lupa lagi.
Namun demikian, dikatakan terlambat, tidak juga, karena belakangan ada informasi, bahwa Aba Rembagi pernah belajar Al-Qur’an kepada cucu KH Munawar Jailani (mantan Ketua MUI/Kemenag) Surabaya tahun 1988. Kurun waktu yang sudah cukup lama, karena penulis sendiri mulai belajar ke KH Ahmad Dzul Hilmi tahun 1989.
“Iya, beliau (Aba Rembagi) belajar bersama kami,” kata Aba Satukan, yang juga peserta ngaji PMTL di Masjid Hidayatullah, Kandangan Surabaya.
Menurut Aba Satukan, semangat beliau untuk belajar sampai khatam Al-Qur’an, sudah tidak diragukan lagi. Karena selain, ngaji di Masjid Hidayatullah, juga mengaji di Masjid Al-Mutta qin, Ngemplak bersama Aba Satukan.
“Selain itu, bersama saya, Aba Rembagi juga mengaji ke Ust. Rifa’i di Manukan,” tambah Aba Satukan.
Perlu diketahui bahwa Ust. Rifa’i juga telah menghatamkan 30 juz jamak Riwayat Syu’bah dan Hafsh di Masjid Hidayatullah, Kandangan Surabaya.
“Aba Rembagi tiyange sanget sae (Aba Rembagi orangnya sangat baik –red.). Insya Allah beliau akan mendapatkan pahala kebaikan yang tanpa terputus, amin ya rabbal alamin,” ungkap Ust. Suwito dalam Grup WA Jatiqo Jatim.
Keberadaan beliau di tengah keluarga, sebenarnya masih sangat berperan. Hal ini tampak saat beliau mengaji, selalu tergesa-gesa karena dikejar oleh jam ‘kulakan’ buah. Karena beliau memang punya usaha penjualan buah. Sementara itu, di sisi lain, beliau senang mendekat pada kiai, meski bukan alumni pondok.
“Beberapa kiai dikenalnya, sehingga kami pun akhirnya banyak mengenal para kiai,” kata Syukron, menantunya.
Sementara itu pula, beliau juga gemar bersedekah dalam rangka Maulidur Rasul. Terakhir, penulis (sebagai qari’) diundang bersama Ust. Suwito (sebagai penceramah), yamg juga peserta PMTL di Masjid Hidayatullah. “Saat itu, beliau sangat ingin mengundang njenengan,” kata Syukron seraya menambahkan seakan-akan ada firasat bahwa saat itu merupakan peringatan Maulid Nabi yang terakhir bagi beliau.
Acara takziyah diakhiri dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Ust. Sugiyono, modin Kandangan, yang juga peserta PMTL di Masjid Hidayatullah, Kandangan. [ca.hel].


