30 C
Sidoarjo
Sunday, May 24, 2026
spot_img

Bisa Hasilkan 150 Ton Per Hektar

Ahmad Baharudin
Tanam perdana program bongkar ratoon tebu di Tulungagung dimulai pada Sabtu (23/5). Plt Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, yang bersama anggota Forkopimda melakukan tanam perdana peremajaan tanaman tebu tersebut di areal tanaman tebu di Desa Pinggirsari Kecamatan Ngantru menyebut bongkar ratoon tebu dapat menghasilkan 150 ton per hektarnya.

“Dengan bongkar ratoon dapat dihasilkan tebu 150 ton per hektar,” ujar Plt Bupati Ahmad Baharudin yang saat itu juga mengikuti bongkar ratoon tebu bersama Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa secara daring.

Ia mengatakan sebelum dilakukan program bongkar ratoon, para petani tebu hanya dapat menghasilkan sekitar 94 ton saja per hektarnya.

“Program bongkar ratoon bisa menaikkan produktifitas tanaman tebu cukup signifikan,” terangnya.

Plt Bupati Baharudin mengungkapkan dalam program bongkar ratoon, bibit tebu lama diganti dengan bibit baru yang lebih unggul (diremajakan). Petani mendapat bibit baru dari Kementerian Pertanian. Harapannya, produktifitas tebu meningkat dan rendemennya juga meningkat.

“Produktifitas dan rendemen meningkat akan membuat hasil gulanya juga meningkat. Dan ini yang diharapkan dalam upaya swasembada gula,” paparnya.

Saat ini luasan areal tanaman tebu di Tulungagung yang diajukan untuk bongkar ratoon mencapai 1.055 hektar. Dan yang direalisasi sejumlah 206 hektar. Sedang penambahan luas lahan sejumlah 174 hektar dengan realisasi saat ini 71 hektar.

“Sedang pada hari ini dilakukan bongkar ratoon sejumlah 3 hektar. Dan di Desa Pinggirsari ini sejulah 1,75 hektar,” tuturnya.

Berita Terkait :  Tekankan Data Faktual untuk Hapus Kemiskinan

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Desa Pinggirsari, Sutanto, mengungkapkan saat ini petani tebu mengalami kendala pada pupuk. Harga pupuk ZA yang dibutuhkan petani tebu saat ini mengalami kenaikan.

“Sekarang harganya mahal per kuintalnya Rp 700 ribu. Kemarin hanya Rp 500 ribu,” bebernya.

Selam ini, menurut dia, petani tebu tidak mendapat alokasi pupuk subsidi. Mereka menggunakan pupuk ZA yang nonsubsidi.

“Kalau diberi alokasi pupuk bersubsidi tentu akan meringankan kami. Namun demikian, kami saat ini tetap menanam tebu meski dengan pupuk nonsubsidi. Mengenai hasilnya tidak tahu. Itu seperto gambling saja,” pungkasnya. [wed.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!