Kota Batu, Bhirawa
Di tengah semakin menyempitnya lahan perkebunan apel di Kota Batu, semangat tinggi masih ditunjukkan petani apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Untuk mempertahankan produksi buah yang menjadi ikon Kota Batu, dengan mengembangkan varietas baru yang kemudian diberi nama Golden Analagi.
Varietas Apel Golden Analagi terlahir dari hasil riset panjang Rudy Mardiyanto, petani apel asal Desa Tulungrejo. Varietas ini merupakan hasil persilangan dari jenis apel Anna dan apel Manalagi.
”Dari riset yang dilakukan sejak 2019, akhirnya apel jenis Golden Analagi ini telah menghasilkan tiga kali panen yang sukses,” ujar Rudy, Kamis (21/5).
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu, Hendry Suseno mengatakan, pihaknya telah meninjau langsung lahan apel milik Rudy di Desa Tulungrejo. Dan Distan KP menargetkan pengembangan varietas Golden Analagi akan terus dilakukan bersama para petani setempat.
Dalam target pengembangan Golden Analagi diharapkan bisa menciptakan batang bawah unggul yang bisa dipatenkan. ”Dengan demikian varietas baru ini bisa menjadi kebanggaan Kota Batu sekaligus peluang baru bagi petani apel di Kota Wisata ini,” ujar Hendry.
Diketahui, beberapa waktu sebelumnya banyak pohon apel tua di kawasan perkebunan Desa Tulungrejo yang mulai ditumbangkan. Hal ini terjadi karena para petani mengeluhkan biaya perawatan yang semakin mahal. Kondisi ini tidak seimbang dengan hasil panen yang didapat. Selain itu, harga jual panen apel yang tak menentu membuat banyaj petani mengeluh dan menyerah. Merekapun mengubah beberapa lahan apel mereka menjadi ladang sayur.
”ini sangat berat untuk mempertahankan apel. Obat mahal, pup mahal, panennya sedikit, harganya juga kadang nggak nutup. ya kami tebang saja, kita ganti dengan ditanami sayur,” ujar Dwi, salah satu petani apel Desa Tulungrejo.
Dwi menjelaskan, sebagian besar pohon apel di desanya sudah berusia 40-50 tahun. Di usia itu pohon apel makin rapuh, dan gampang terserang penyakit. Selain itu buah apel yang dihasilkan, ukurannya juga semakin kecil. Jika hal ini dibiarkan berlarut maka para petani akan semakin banyak mengalami kerugian.
Data Distan KP Kota Batu tahun 2025, jumlah lahan apel di Kota Batu ada sebanyak 1.092 hektare. Padahal di tahun 2022 lahan apel di kota ini masih sebanyak 1.200 hektare. Artinya ada penurunan sekitar 100 hektare hanya dalam kurun waktu tiga tahun.
Mayoritas petani memilih beralih menanam sayur mayurvdan hortikultura yang dianggap lebih cepat panen dan lebih pasti hasilnya. Kondisi ini tentu saja memberikan ancaman jika dibiarkkan dimana produksi Apel Kota Batu yang terkenal akan tinggal cerita saja.
Kondisi ini sempat mendapatkan tanggapan Wakil Ketua I DPRD Kota Batu, Ludi Tanarto. Ia menyakatakan keprihatinannya melihat ikon Kota Batu yang mulai terpinggirkan.
Menurutnya, persoalan utama yang dialami Apel Kota Batu ada di permintaan pasar dimana Apel Batu semakin kurang diminati. ”Maka kami mendukung penuh langkah wali kota untuk mempertahankan apel sebagai identitas Kota Batu. Ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal sejarah,” ujar Ludi.
Ludi juga mengusulkan, apel diintegrasikan dengan sektor pariwisata. Hotel-hotel di Kota Batu bisa menyajikan apel sebagai buah penyambut tamu alias ‘welcome fruit’. Di destinasi wisata, apel bisa diberikan sebagai suvenir khas Kota Apel. Langkah ini diharapkan bisa memperkuat dan mempertahankan branding Kota Batu sebagai Kota Apel. [nas.fen]


