Surabaya, Bhirawa
Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) kembali menggelar prosesi pengambilan sumpah dokter yang ke-15 di Auditorium Lantai 9, Kampus B Unusa Jemursari, Surabaya.
Pelantikan kali ini berbeda dimana sebanyak 16 dokter resmi dilantik, profesi sering kali dianggap didominasi oleh anak-anak dari kalangan dokter pula, sekarang FK Unusa justru menunjukkan tren yang sangat inklusif. Kamis, (21/5/2026)
Dekan FK Unusa, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG, Subsp.F.E.R., mengatakan bahwa mayoritas lulusan diambil sumpahnya kali ini berasal dari latar belakang keluarga non-medis.
“Agak sedikit berbeda, selama ini dokter dikenal biasanya lulusannya itu putra-putrinya dokter, tapi kita 84% lulusan yang kita lantik pada pagi hari ini, orang tuanya bukan dari kalangan dokter, keluarganya bukan dari kalangan dokter,” Jelasnya.
Lanjut prof. Budi mengungkapkan Poin ini sengaja ditekankan untuk memotivasi masyarakat bahwa impian jadi seorang dokter kini terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang profesi orang tua.
“Ini mungkin perlu kita tekankan, siapapun apabila putra-putri atau anak-anak kita ini berminat untuk menjadi seorang dokter, dari kalangan apapun bisa,” Ucapnya.
Prof. Budi menyampaikan bahwa fakultas menjamin para dokter baru telah dibekali dengan keilmuan serta keterampilan klinis yang mumpuni dan teruji, ini dibuktikan keberhasilan mereka melampaui ujian kompetensi tingkat nasional.
Sementara itu, mahasiswa kedokteran baru dilantik Benta Malika El Ghameela, mengatakan rasa bangganya atas pencapaian rekan-rekan sejawatnya, seluruh total lulusan pada angkatan tersebut, diketahui hanya ada satu anak yang memiliki latar belakang orang tua seorang dokter.
“Ini membuktikan ternyata jadi seorang dokter itu tidak harus dari keluarga yang kalau bahasa kedokterannya itu keluarga dokter, biasanya kan identiknya dokter adalah anak dokter,” ujar Benta
Benta menceritakan rekan-rekan seangkatannya memiliki latar belakang keluarga yang sangat beragam, banyak di antara mereka yang merupakan anak dari seorang pedagang hingga berprofesi sebagai guru.
“Ini jadi bukti nyata bahwa sekat pembatas untuk menggapai mimpi menjadi tenaga medis kini sudah mendobrak batasan status sosial,” ungkapnya.
Setelah resmi menyandang gelar dokter, Benta kini tengah bersiap untuk mengikuti program internship (magang) yang difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Meski belum mengetahui lokasi penempatannya kelak, ia sudah memiliki rencana besar untuk masa depannya pasca-magang.
“Saya berkeinginan untuk kembali ke kampung halamannya di wilayah Madura, tepatnya di Kabupaten Bangkalan, didasari oleh kepeduliannya terhadap pemerataan fasilitas dan pelayanan kesehatan di tingkat desa, ingin kembali mengabdi ke desa,” pungkas Benta. [ren.kt]


