Surabaya, Bhirawa
Kemendikdasmen melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus meluncurkan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 sebagai langkah konkret pemerintah mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul yang siap bersaing di tingkat global.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan program tersebut menjadi terobosan strategis untuk memperkuat kesiapan kerja lulusan SMK menuju dunia kerja internasional.
“Melalui Keputusan Menteri Nomor 64 Tahun 2026, Kemendikdasmen resmi mengimplementasikan pola SMK 3+1. Ini adalah langkah strategis berkelanjutan untuk memperkuat kesiapan kerja dan transisi dari sekolah menuju dunia kerja, baik jalur formal maupun nonformal,” ujar Tatang dalam kegiatan pelepasan 3.600 lulusan SMK dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) di Islamic Center Surabaya, Rabu (20/5).
Dalam pola tersebut, siswa menjalani tiga tahun pendidikan reguler di sekolah dan satu tahun khusus penguatan kesiapan kerja. Pada tahap tersebut, peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis berstandar global, tetapi juga kemampuan bahasa asing, pemahaman budaya kerja internasional, regulasi hukum negara tujuan, hingga perlindungan pekerja migran.
Menurut Tatang, langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pentingnya menyiapkan SDM yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing global. Program itu juga diharapkan mempercepat implementasi kebijakan link and match antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja internasional.
Tatang turut mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang dinilai konsisten memajukan pendidikan vokasi. Ia menyebut prestasi Jawa Timur yang berhasil meraih hattrick juara umum Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat nasional serta rutin mengirimkan talenta terbaik ke ajang internasional World Skills Competition menjadi inspirasi bagi daerah lain.
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Jawa Timur atas komitmennya memajukan pendidikan vokasi dan menyiapkan talenta-talenta terbaik di tingkat internasional,” katanya.
Pada kesempatan itu, sebanyak 3.600 lulusan resmi dilepas untuk bekerja di luar negeri. Jumlah tersebut terdiri atas 3.000 alumni dari 411 SMK dan 600 alumni dari 30 lembaga kursus dan pelatihan.
Kepada para lulusan, Tatang berpesan agar menjaga nama baik Indonesia selama bekerja di luar negeri. Menurutnya, para lulusan bukan sekadar pekerja, tetapi juga duta bangsa yang membawa citra Indonesia di mata dunia.
“Ke mana pun melangkah di sektor hospitality, kesehatan, manufaktur, maupun jasa lainnya, bawalah nama baik Indonesia dengan kerja keras, disiplin, kejujuran, dan profesionalisme tinggi. Di luar negeri kalian bukan sekadar bekerja, tetapi mengemban amanah sebagai duta bangsa,” tegasnya.
Saat ini program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) sedikitnya sudah diterapkan di 49 SMK di seluruh Indonesia. Setiap sekolah yang terlibat diharapkan akan mampu mengintegrasikan dimensi kebekerjaan luar negeri ke dalam kurikulum satuan pendidikan mereka. Dengan demikian, program ini akan mampu menghasilkan generasi muda yang produktif, berdaya saing global, dan mampu berkontribusi terhadap peningkatan reputasi tenaga kerja Indonesia di dunia internasional.
Sementara itu, Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) merupakan salah satu kebijakan pengembangan SMK ke depan, di mana para lulusan tidak hanya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam negeri, tetapi juga internasional.
“Program ini sekaligus menjadi upaya untuk memenuhi hak konstitusi, di mana setiap warga negara berhak mendapat kehidupan yang layak bagi kemanusiaan,” ujarnya.
Kepala SMKS Muhammadiyah 1 Malang, Jawa Timur, Kusdarmadi, menyambut baik program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) dan berharap program ini bisa menghasilkan lulusan-lulusan SMK yang siap untuk bekerja di luar negeri. “Kalau hanya persiapan tiga tahun di sekolah itu masih sangat kurang. Murid perlu tambahan waktu untuk persiapan bekerja di luar negeri, terutama tambahan dari aspek bahasa, adaptasi negara tujuan, dan tentu saja budaya kerja di negara tujuan,” kata Kusdarmadi.
Untuk menyiapkan kelas tambahan satu tahun ini, pihak sekolah, lanjut Kusdarmadi, telah bekerja sama dengan sejumlah pihak, misalnya dengan TNI untuk menyiapkan fisik para murid. Pasalnya, dalam bekerja di luar negeri, mereka membutuhkan kedisiplinan dan ketahanan fisik. “Kami juga siapkan kerja sama dengan tim psikologi untuk membantu menguatkan mental pada murid yang ingin bekerja ke luar negeri,” tambah Kusdarmadi.
SMKS Muhammadiyah 1 Malang sendiri, menurut Kusdarmadi, sudah sejak 2019 mengirimkan para lulusannya untuk bekerja di luar negeri, terutama Jepang, dengan ragam bidang pekerjaan yang sangat beragam, mulai dari pertanian, industri, caregiver, dan sebagainya. “Dengan program ini, kami harap akan semakin banyak murid yang berangkat bekerja di luar negeri karena memang sangat menjanjikan,” pungkas Kusdarmadi.
Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3 +1) juga disambut baik oleh Kepala SMKN 1 Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Agustina. Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, minat para murid untuk bekerja ke luar negeri terus meningkat. Namun, penyiapan para murid dirasa masih belum maksimal.
“Dengan adanya program ini, kami bisa benar-benar menyiapkan murid lebih awal. Sejak kelas 10 sudah bisa kami mulai. Jadi, ini benar-benar solusi untuk meningkatkan kebekerjaan lulusan SMK menuju Indonesia Emas 2045,” kata Agustina. [ina.kt]


