Oleh:
Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd.
Mahasiswa S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar
Barangkali kita perlu jujur sejak awal: sistem pendidikan Indonesia bekerja dengan baik, setidaknya cukup baik untuk terlihat berjalan. Kelas tetap buka, siswa tetap belajar, ujian tetap berlangsung. Dan seperti banyak hal lain di negeri ini, semua itu berjalan bukan karena sistemnya rapi, melainkan karena ada yang rela menambal lubangnya setiap hari. Mereka disebut guru honorer.
Guru honorer adalah bukti bahwa negara ini punya bakat luar biasa dalam menciptakan solusi sementara yang bertahan selamanya. Awalnya mungkin dimaksudkan sebagai pengisi kekosongan. Namun seperti bangunan darurat yang tak pernah dibongkar, status ‘sementara’ itu kini terasa permanen, lengkap dengan segala ketidakpastian yang menyertainya.
Tahun 2026 menghadirkan ironi yang hampir terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Negara mengakui kekurangan ratusan ribu guru. Di saat yang sama, ratusan ribu guru honorer masih menunggu kejelasan nasib. Ini seperti seseorang yang mengeluh kehausan sambil berdiri di tengah kolam, lalu sibuk menyusun prosedur untuk mengambil air.
Fenomena ini mengingatkan pada konsep street-level bureaucracy yang dikemukakan oleh Michael Lipsky (1980): aktor-aktor garis depan yang memastikan kebijakan tetap berjalan, bahkan ketika desain kebijakannya sendiri belum tuntas. Guru honorer adalah bentuk paling konkret dari konsep ini: mereka menjalankan fungsi negara secara penuh, tanpa sepenuhnya diakui sebagai bagian dari negara.
Dalam teori kebijakan publik, kondisi seperti ini bisa dibaca sebagai keberhasilan administratif: sistem tetap berjalan tanpa harus mengeluarkan biaya penuh. Guru honorer menjadi semacam ‘buffer’: penyangga fleksibel yang bisa diandalkan tanpa perlu terlalu diikat oleh kewajiban negara. Dalam bahasa yang lebih santun, ini efisiensi. Dalam bahasa yang lebih jujur, ini ketergantungan yang disengaja.
Yang menarik, para guru honorer ini tetap datang ke sekolah setiap hari. Mereka mengajar, menilai, membimbing, bahkan kadang menjadi konselor dadakan. Mereka menjalankan semua fungsi guru, kecuali satu: memiliki kepastian sebagai guru. Ini semacam profesi Schrödinger: diakui dan tidak diakui dalam waktu yang bersamaan.
Relasi kerja seperti ini sejalan dengan apa yang disebut Guy Standing (2011) sebagai precariat: kelas pekerja yang hidup dalam ketidakpastian, tanpa jaminan stabilitas, tetapi tetap menjadi tulang punggung sistem ekonomi modern. Guru honorer berada tepat di titik itu; esensial, tetapi rentan.
Tentu saja, negara tidak sepenuhnya diam. Ada kebijakan, ada skema, ada janji pengangkatan bertahap. Kata ‘bertahap’ ini penting. Ia terdengar rasional, terukur, dan penuh kehati-hatian. Namun bagi guru honorer, ‘bertahap’ sering kali terasa seperti versi halus dari ‘nanti saja’. Sebuah penundaan yang dikemas dengan bahasa teknokratis.
Sementara itu, tuntutan terhadap guru terus bertambah. Mereka diminta mengikuti perkembangan teknologi, memahami kecerdasan buatan, menciptakan pembelajaran kreatif, dan tetap menjadi teladan moral. Ini seperti meminta seseorang berlari maraton sambil memastikan sepatunya tidak pernah benar-benar dipastikan miliknya.
Di sinilah letak humor gelapnya: sistem menuntut profesionalisme tinggi dari profesi yang secara struktural diperlakukan tidak profesional. Guru honorer diminta serius, sementara statusnya sendiri diperlakukan seperti catatan kaki.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan apa yang pernah dikritik oleh Paulo Freire (1970): pendidikan seharusnya menjadi praktik pembebasan, tetapi dapat berubah menjadi alat reproduksi ketimpangan ketika aktor-aktornya sendiri terjebak dalam struktur yang tidak adil. Guru honorer, dalam hal ini, bukan hanya pengajar, tetapi juga korban dari sistem yang mereka jalankan.
Narasi ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ ikut mempermanis situasi ini. Ia seperti humor lama yang terus diulang: semua orang tahu punchline-nya, tetapi tetap tertawaatau setidaknya pura-pura tersenyum. Dalam praktiknya, narasi ini bekerja sebagai penyangga moral: jika guru sudah dianggap pahlawan, maka pengorbanannya terasa lebih wajar.
Masalahnya, pahlawan dalam kehidupan nyata tetap harus membayar listrik.Kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa anggaran pendidikan terus meningkat. Artinya, persoalan ini bukan sekadar soal ketiadaan uang. Lebih tepat jika disebut sebagai persoalan prioritas. Atau, jika ingin sedikit lebih sinis, persoalan keberanian untuk berhenti menikmati situasi yang ‘cukup berjalan’.
Karena memang, selama guru honorer tetap bertahan, sistem tidak benar-benar dipaksa berubah. Tidak ada krisis yang cukup besar untuk memicu reformasi. Tidak ada kelas yang benar-benar kosong dalam skala masif. Semua masih berjalan, dan itu justru masalahnya.Ini seperti mesin yang berisik tetapi tetap berfungsi. Orang tahu ada yang salah, tetapi selama mesin itu belum benar-benar rusak, perbaikan besar selalu bisa ditunda.
Sementara itu, guru honorer terus hidup dalam logika menunggu. Menunggu pengangkatan, menunggu kebijakan, menunggu kepastian. Waktu bagi mereka bukan sekadar durasi, melainkan akumulasi ketidakpastian: kontrak yang tidak jelas, honor yang minim, dan masa depan yang terus ditunda.
Di titik ini, kita mungkin perlu mengajukan pertanyaan yang agak tidak nyaman: apakah sistem ini gagal memperbaiki diri, atau justru terlalu berhasil mempertahankan ketimpangan?
Karena jika dilihat dari cara kerjanya, sistem ini cukup efisien. Ia mendapatkan tenaga pengajar yang berdedikasi dengan biaya rendah. Ia menjaga stabilitas tanpa harus melakukan perubahan besar. Dan ia tetap bisa mengklaim bahwa pendidikan berjalan.Hanya saja, ada satu hal yang terus dikorbankan: keadilan.
Guru honorer telah lama membuktikan bahwa mereka bisa menjaga sistem tetap hidup. Mereka datang ke kelas bukan karena sistem sudah adil, melainkan karena tanggung jawab personal yang mereka pegang. Dalam banyak hal, mereka adalah alasan mengapa pendidikan kita tidak runtuh.
Namun, ada batas bagi ketahanan manusia. Sistem yang terus bergantung pada ketidakpastian bukan hanya tidak adil, tetapi juga tidak berkelanjutan.Jika suatu hari ruang-ruang kelas benar-benar kosong, mungkin kita baru akan menyadari bahwa yang selama ini kita sebut ‘tambahan’ ternyata adalah fondasi.Sampai saat itu tiba, guru honorer akan tetap mengajar. Dan negara, seperti biasa, akan tetap menjanjikan.
————— *** ——————


