29.6 C
Sidoarjo
Tuesday, May 19, 2026
spot_img

Retakan Dunia Pendidikan dan Solusinya

Oleh :
Akhmad Faishal
Bekerja sebagai pengelola perpustakaan di SMAN 15 Surabaya.

Dunia pendidikan, terutama di wilayah pendidikan dasar dan menegah juga pendidikan tinggi tengah tercoreng. Yakni, kasus Joki UTBK dan kasus asusila. Kita kesampingkan dulu, robekan sosial terbesar bangsa Indonesia, yakni KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Mari, kita berikat sedikit fokus untukmembenahi retakan kecil itu, yakni membasmi Joki dan melenyapkan perilaku asusila.

Retakan pertama, yakni seperti biasaUjian Tes Berbasis Komputer merupakan metode yang digunakan untuk menyaring ratusan ribu siswa-siswi kelas XII untuk masuk ke Universitas atau Perguruan Tinggi Negeri. UTBK merupakan metode ke-2, setelah alat penyaringan pertama menggunakan rapot dan atau prestasi, yakni SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi).

Dalam SNBP, perangkingan secara paralel menjadi syarat mutlak agar siswa-siswi lolos secara otomatis masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan. Namun, dibaliknya ada perjuangan panjang untuk mendapatkan nilai yang dilakukan oleh siswa-siswi mulai dari semester 1 hingga semester 5. Mulai dari semester 1 kelas x hingga semester 1 kelas XII.

Sedangkan, UTBK dapat mengesampingkan itu, tetapi perlu perjuangan ekstra keras untuk menaklukan soal-soal ujian TPS yang terdiri dari 7 jenis soal. Mulai dari PPU, PU, PM, PK, LID, LIG, dan PBM. Sebagian besar, siswa-siswi kelas XII mengejar test UTBK. Karena, di UTBK mereka dapat bersaing secara terbuka dan peluangnya cukup besar. Tidak heran, hampir seluruh siswa-siswi melakukan segala cara agar mampu mengerjakan soal-soal tes. Termasuk, cara yang tidak dibenarkan, yakni menggunakan jasa joki.

Disinilah, masalah itu muncul.Disaat segala yang diperlukan telah disediakan, baik fasilitas terbaik berupa buku latihan soal maupun tenaga pengajar, tetapi pada saat yang sama mental untuk menjalaninya justru yang belum ada atau belum siap. Ada kekhawatiran berlebih dimana pelajar merasa yang dilakukan akan sia-sia saja sehingga peluang lolosnya kecil. Atau hampir tidak ada. Ditambah kekhawatiran adanya jenis soal-soal baru yang akan bermunculan dan berbeda dari soal-soal tahun sebelumnya. Dan keduanya memperburuk kondisi mental mereka. Inilah yang mendorong mereka melakukan tindakan di luar dari nilai-norma yang ada. Oleh sebab itu, keinginan menggunakan jasa joki pun tidak terelakkan.

Berita Terkait :  Golkar Usulkan Empat Nama ke DPP untuk Kursi Ketua DPRD Kota Pasuruan

Retakan kedua, yaitu kasus asusila yang terjadi baru saja (April, 2026) di kampus PTN. Ternama pula. Dan kasus semacam ini ternyata tidak hanya dilakukan oleh oknum pendidik, melainkan juga pelajar alias mahasiswa. Pada jurusan favorit banyak pelajar Indonesia. Kasus asusila semacam tindakan pelecehan terhadap lawan jenis seharusnya tidak perlu ada, kalau mereka memahami nilai-norma dengan baik. Namun, nyatanya, mereka mengabaikannya dan melakukan sesuatu tanpa adanya pikiran panjang yang berdampak buruk pada diri sendiri dan lingkungan sekitarnya

Pertanyaannya, sejauh mana sosialisasi norma-nilai tentang etika perilaku seperti sopan santun di publik dipahami oleh mereka? Apakah mereka tidak pernah membaca buku atau artikel yang berkaitan dengan kesopansantunan itu? Pendidikan macam apa yang diselami mereka sehingga bertindak seperti itu?

Jawabannya, baik kasus asusila maupun perjokian muncul sebagai akibat ketidakmampuan mengontrol diri dengan baik, dari segi mental maupun pikiran, keduanya lemah. Dalam analisis teori penyimpangan sosial, salah satu penyebabnya karena minim atau kurangnya sosialisasi alias kasih sayang atau perhatian dari orang tua kepada anak. Lebih jauh, peranan orang tua yang minim sangat mungkin anak-anak mencari perhatian dan informasi dari pihak lain. Mereka akan menerima informasi dan pengetahuan yang salah, tetapi dibenarkan oleh lingkungan itu. Dalam istilah sosial disebut Differential Asociation.

Itulah bentuk retakan kecil dalam dunia pendidikan yang membuat penyimpangan sosial merembes ke kehidupan mereka. Dan segera harus ditutupi dengan penguatan karakter, salah satunya memberikan mereka kebiasaan membaca buku. Dengan kegiatan semacam itu, penyimpangan sosial dapat diminimalisir atau bahkan dapat dihilangkan. Media sosial telah memberikan mereka segala informasi baik-buruknya, bagus-jeleknya, dan positif-negatifnya. Media sosial hanya memberikan sesuatu yang diinginkan tanpa adanya penyaring untuk informasi yang bagus kepada para pelajar atau pengajar. Tidak heran, tanpa adanya penyaring semacam itu, konten-konten berbau pornografi mampir di dalam otak atau benak mereka.

Berita Terkait :  Pastikan Penyaluran Bantuan Pangan Lancar, Tepat Sasaran, Bulog Gelar Rakor dengan Kodim 0815/Mojokerto

Ditambah, karena mereka malas membaca buku. Buku sebagai jendela dunia hanya sekadar formalitas dihadapan mereka. Tidak ada satupun tokoh nasional atau tokoh terkenal yang memiliki kebiasaan mengulas buku-buku terkait itu. Justru tokoh-tokoh terkenal itu hanya membuat konten yang jauh dari kebiasaan atau budaya membaca buku. Dan, memang membaca buku merupakan kegiatan yang sulit dan kompleks.

Berdasarkan kesimpulan Febi Resvi Carmila dan Zaka Hadikusuma Ramadan dalam Journal on Education, Vol. 05, No. 04, Mei-Agustus 2023, membaca merupakan proses seseorang dalam mensintesis, menganalisis, dan mencerna suatu informasi secara menyeluruh dan komprehensif. Dengan membaca buku, seseorang dapat berpikir dua-tiga kali sebelum melakukan sesuatu. Apakah ia akan langsung menggunakan jasa joki ataukah melakukan tindakan asusila.

Apakah karena mereka malas membaca buku? Bahkan, sekadar untuk membaca novel?

AS Laksana dalam tulisannya yang pernah terbit di Jawa Pos pada April 2015 yang berjudul “Apakah Penulis Kita Kalah Bermutu?” telah mengingatkan, bahwa transfer pengetahuan akan berlangsung beres ketika orang memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Dan pemikiran yang disampaikan melakukan kemampuan berbahasa yang baik, orang-orang di sekitarnya akan mampu mencerna pemikiran. Apakah malasnya mereka membaca buku, karena kalimat-kalimat yang ada di dalamnya begitu ruwet? Ataukah karena persoalan lain?

Entah. Namun, yang pasti kesamaan dari dua kasus itu, yakni tentu mereka malas membaca buku sehingga mental mereka lemah dan tidak mampu memegang nilai-norma dengan baik. Jadi, sebelum retakan kecil ini menjadi besar dan tidak terkendali seperti korupsi, ada baiknya pihak-pihak terkait melakukan langkah nyata dan sungguh-sungguh. Seperti, mengadakan program membawa dan membaca buku seperti novel selama 30 menit. Indonesia perlu membiasakan kegiatan ini hingga ke taraf budaya nasional. Indonesia perlu menjaga bibit generasi emas ini dengan baik agar tidak ada lagi kasus asusila yang dilakukan oleh mahasiswa maupun pengajar, termasuk juga tidak ada lagi joki. Sekali mental kuat, lolos-tidaknya tes tidak akan berpengaruh apa-apa. Terima hasil. Jalani prosesnya.*

Berita Terkait :  SRC dan Menteri Sosial Gus Ipul Sinergikan Pengusulan RM. Margono Djojohadikusumo Jadi Pahlawan Nasional

————– *** —————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!