Surabaya, Bhirawa
Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menanggapai isu Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mencetak rekor terlemah. Kurs dolar AS menyentuh angka Rp17.630, Kondisi tersebut membuat masyarakat resah karena mempengaruhi kebutuhan sehari-hari akan ikut terdampak. Senin, (18/5/2026)
Pakar Ekonomi Umsura, Fatkur Huda menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah, memang tidak langsung dirasakan masyarakat sebab transaksi sehari-hari tetap menggunakan rupiah, bukan dolar AS. “Memang masyarakat, terutama di pedesaan, tetap tidak bisa lepas dari dampaknya, tapi nilai tukar rupiah menurun tetap memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok sebab banyak sektor ekonomi Indonesia bergantung pada barang impor dan harga global,” jelasnya.
Lanjut Fatkur mengatakan dampak biasanya dirasakan kelompok masyarakat bawah seperti petani, nelayan, pelaku UMKM, dan pekerja informal. “Dari kenaikan dolar, juga dirasakan para pekerja seperti kenaikan harga pupuk, pakan ternak, BBM, obat-obatan, hingga biaya transportasi dinilai akan meningkatkan biaya produksi dan distribusi,” ucapnya.
Fatkur mengukapkan harga kebutuhan sehari-hari berpotensi ikut naik, sementara pendapatan masyarakat desa belum tentu mengalami peningkatan. “Pada jangka panjang, kondisi tersebut menurunkan daya beli masyarakat dan memperbesar tekanan ekonomi masyarakat kecil,” tuturnya.
Fatkur menambahkan pelemahan rupiah tidak bisa dipandang sekadar isu pasar keuangan atau persoalan dolar semata. “Walapun masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar AS, dampak ekonominya tetap menjalar hingga ke tingkat bawah melalui inflasi dan kenaikan harga barang, dari situ stabilitas rupiah tetap penting untuk menjaga kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok rentan dan pelaku ekonomi kecil di pedesaan,” imbuhnya.[ren.ca]


