29.4 C
Sidoarjo
Tuesday, May 12, 2026
spot_img

Lawan KDRT dan Pelecehan, DP3AK Jatim Bekali Bela Diri Jujitsu


Oleh:
Ayu Firdausiyah Ahmad, Kota Surabaya

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur terus memperkuat perlindungan terhadap perempuan rentan melalui program Gerakan Sayang Perempuan Ojek Online (Gaspol).

Salah satu bentuk pembinaannya dilakukan lewat pelatihan bela diri Jujitsu yang rutin digelar di lingkungan kantor DP3AK Jatim, Selasa (12/5).

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender DP3AK Jatim, Hasmaranti melalui Staf Bidang PPKG DP3AK Jatim, Fajar Ahad mengatakan pelatihan bela diri tersebut merupakan bagian dari upaya pemberdayaan perempuan rentan, khususnya pengemudi ojek online perempuan, perempuan kepala keluarga (PEKKA), hingga para penyintas kekerasan.

Menurutnya, program Gaspol lahir dari keinginan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa agar ada wadah yang dapat menaungi sekaligus memberdayakan perempuan rentan di Jawa Timur.

“Gaspol ini kepanjangannya Gerakan Sayang Perempuan Ojek Online. Di dalamnya tidak hanya ojol perempuan, tetapi juga ada penyintas kekerasan, perempuan kepala keluarga, hingga ibu dengan anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebelum menghadirkan pelatihan bela diri, DP3AK lebih dulu mengadakan kegiatan rutin berupa kajian, bedah buku, hingga sosialisasi program pemberdayaan perempuan di UPT PPA Provinsi Jatim.

Kajian rutin tersebut digelar setiap Kamis siang di UPT PPA Provinsi Jatim dengan agenda mulai bedah buku, kajian fikih hingga yasin dan tahlil. Sementara pelatihan bela diri Jujitsu dilaksanakan rutin setiap Selasa dengan melibatkan sensei profesional untuk melatih kemampuan self defense para peserta.

Berita Terkait :  Asa Merawat Fitrah Demokrasi

Namun seiring banyaknya cerita kekerasan dan pelecehan yang dialami perempuan di ruang publik, DP3AK kemudian menghadirkan pelatihan self defense Jujitsu untuk meningkatkan rasa percaya diri para peserta.

“Banyak cerita teman-teman yang mengalami pelecehan di jalan, dicolek, direndahkan, bahkan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Dari situ kami merasa mereka perlu dibekali kemampuan membela diri dan rasa percaya diri,” jelasnya.

Fajar mengungkapkan, berdasarkan pengalaman pendampingan yang dilakukan DP3AK, kekerasan terhadap perempuan justru lebih banyak terjadi di lingkungan keluarga dibandingkan di ruang publik.

“Kalau kekerasan di luar mungkin ada, tetapi justru yang sering terjadi itu di dalam rumah. Dilakukan orang terdekat, suami, keluarga, atau kerabat sendiri,” katanya.

Karena itu, menurutnya pelatihan bela diri tidak semata mengajarkan teknik fisik, melainkan juga membangun keberanian perempuan agar mampu melindungi diri dan tidak terus menjadi korban kekerasan.

“Tujuannya supaya mereka punya paling minimal itu confidence atau kepercayaan diri. Mereka sadar bahwa mereka bukan makhluk lemah dan bisa melindungi diri,” katanya.

Sementara itu, Sensei Jujitsu, Sabdo Sahono menjelaskan, aliran bela diri yang dipilih memang difokuskan pada aspek survival atau bertahan hidup.

Menurutnya, teknik yang diajarkan dibuat praktis dan mudah diaplikasikan oleh perempuan dari berbagai usia.

“Konsepnya bukan untuk sport atau atlet. Ini khusus self defense perempuan. Gerakannya sederhana tapi efektif dan langsung bisa dipakai saat kondisi darurat,” ujarnya.

Berita Terkait :  Bagian Kesra Sidoarjo Update Ulang Jumlah Masjid dan Mushola

Ia mengatakan, peserta juga dilatih memanfaatkan benda sehari-hari sebagai alat perlindungan diri, mulai helm, pulpen logam, tongkat pendek, hingga pasak genggam atau kubotan.

“Helm itu bisa jadi senjata. Kami latihkan bagaimana menggunakan helm untuk melindungi diri. Prinsipnya perempuan harus punya keberanian dan kesiapan ketika menghadapi ancaman,” katanya.

Selain pelatihan fisik, peserta juga dibekali pemahaman self defense atau langkah pencegahan sebelum terjadi tindak kejahatan, seperti mengenali daerah rawan dan menghindari bepergian sendirian pada waktu tertentu.

Salah satu peserta, Anik Yuliwati mengaku merasakan banyak manfaat setelah mengikuti pelatihan sejak tiga tahun terakhir.

Pengemudi ojek online berusia 57 tahun tersebut mengaku awalnya tertarik mengikuti pelatihan setelah pernah menjadi korban begal saat bekerja di jalan.

“Dulu saya pernah dibegal. Dari situ akhirnya saya ikut latihan ini. Setelah ikut, mental jadi lebih kuat dan lebih siap menghadapi situasi di jalan,” ujarnya.

Menurutnya, pelatihan tersebut juga membantu perempuan korban kekerasan rumah tangga agar lebih berani melindungi diri.

“Ada teman-teman yang dulu sering jadi korban KDRT. Setelah ikut latihan, minimal sekarang mereka bisa menangkis atau menghindar saat dipukul. Jadi lebih berani, dari sana suaminya jadi tersadarkan bahwa istrinya bukan pelampiasan untuk dipukuli,” katanya.

Saat ini peserta pelatihan berjumlah sekitar 20 orang dan dibuka gratis untuk umum. DP3AK Jatim juga berencana terus memperluas program pemberdayaan perempuan melalui pelatihan ekonomi, beauty class, kelas hukum, hingga kelas politik dengan menggandeng berbagai instansi dan perguruan tinggi. [fir.gat]

Berita Terkait :  Semua Papan Reklame Bando di Kota Blitar Dilarang

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!