29.4 C
Sidoarjo
Tuesday, May 12, 2026
spot_img

Tren Kesepian Jadi Tantangan Kesehatan Mental Modern


Surabaya, Bhirawa
Dekan Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menagapi tren kesepian atau loneliness jadi perhatian pada isu kehatan mental di Tengah masyarakat modern.

Perubahan gaya hidup serba cepat dan dominasi penggunaan gadget telah menggeser kualitas relasi sosial menjadi semakin dangkal menurut dosen Unesa. Selasa, (12/5/2026)

Dekan FPsi Unesa, Diana Rahmasari mengatakan bahwa kesepian tidak selalu identik pada kondisi sendiri secara fisik, banyak individu hidup bersama keluarga, tetapi merasa hampa karena tidak adanya meaningful connection.

“Interaksi terjadi hanya sebatas formalitas, seperti saling menyapa tanpa keterlibatan emosional mendalam, kondisi membuat seseorang merasa tidak disayang, tidak dibutuhkan, dan kehilangan validasi emosional,” ucapnya.

Lanjut Diana mengukapkan sebagai Gambaran lansia terbantu dengan konten digital untuk mengusir sepi, tidak semua memiliki akses atau kemampuan yang sama terhadap perangkat tersebut, fenomena kesepian tidak cuman terjadi pada lansi, tetapi Generasi muda seperti Gen Z menghadapi risiko serupa.

“Bagi generasi Gen Z Gaya bisanya hidup individualistik, rutinitas yang monoton seperti kuliah pulang kos, serta kecenderungan menghabiskan waktu dengan gadget membuat relasi sosial menjadi terbatas,” pungkasnya.

Diana menjelaskan bahwa kita ini makhluk sosial, selalu membutuhkan kehadiran orang lain, tanpa relasi yang bermakna, potensi kesepian akan muncul.

“Menurut data sekitar 62 persen masyarakat Indonesia pernah merasakan kesepian, ini jadi sinyal peringatan serius sebab kesepian berpotensi berkembang menjadi gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, stres, hingga penurunan kualitas hidup,” tuturnya.

Berita Terkait :  Airlangga Diplomacy Forum Angkat Relevansi Semangat Bandung dalam Diplomasi Kontemporer Afrika

Diana menyampaikan bisanya gejala awalnya berupa perasaan tidak berharga, pesimisme, hingga kecenderungan berpikir negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan, kesepian yang tidak disadari juga dapat memengaruhi cara seseorang dalam mengambil keputusan dan memandang kehidupan.

“Individu mengalami loneliness bisanya merasa tidak memiliki peran, akhinya muncul sikap menarik diri dari lingkungan sosial, kondisi ini tidak dimitigasi, maka risiko berkembang menjadi depresi semakin besar, kesepian tidak selalu disebabkan oleh faktor eksternal, tapi dapat terbentuk pada kebiasaan individu itu sendiri, indikasinya Ketergantungan pada gadget, rasa malas untuk bersosialisasi, dan keengganan membangun relasi yang sehat menjadi pemicu utama,” imbuhnya.

Diana menambahkan untuk langkah mitigasi agar mendorong masyarakat mulai membangun relasi sosial yang berkualitas, walaupun lingkup kecil, satu atau dua teman dekat yang bisa diajak berbagi sudah cukup menjaga kesehatan mental.

“Ketika mulai merasa kesepian, jangan diam, cari aktivitas, temui orang lain, dan bangun koneksi, pada akhirnya kita yang bertanggung jawab atas kondisi diri kita sendiri,” tegasnya. [ren.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!