33.7 C
Sidoarjo
Tuesday, May 12, 2026
spot_img

Dinkes Kabupaten Malang Himbau Masyarakat Waspada Hantavirus

Kab Malang, Bhirawa

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal. Sedangkan virus itu ditularkan ke manusia melalui urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat terutama tikus yang terinfeksi.

Meski sejauh ini belum ditemukan kasus infeksi di wilayah Kabupaten Malang, namu langkah antisipasi dini dinilai krusial mengingat fatalitas virus yang ditularkan melalui hewan pengerat tersebut.

Demikian yang disampaikan, Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo, Selasa (12/5), kepada wartawan. Ditegaskan, bahwa upaya pencegahan difokuskan pada penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Pemberantasan Sarang Tikus (PST).

“Meski, di Kabupaten Malang belum ditemukan kasus, namun sebagai langkah antisipasi tetap berjalan melalui sosialisasi masif di tingkat puskesmas dan kader kesehatan.

Dia menjelaskan, penularan Hantavirus ke manusia umumnya terjadi melalui inhalasi atau menghirup partikel udara yang tercemar kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Sedangkan risiko penularan meningkat drastis pada hunian yang memiliki infestasi tikus tinggi.

Oleh karena itu, pentingnya menutup akses masuk tikus ke dalam rumah. Sehingga masyarakat harus menutup celah atau mematikan tikus yang menjadi sarang. Dan untuk makanan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, dan lubang pada dinding atau lantai segera diperbaiki. Selain area permukiman, Dinkes juga memberi perhatian khusus pada sektor pertanian dan pergudangan di pedesaan.Salah satunya  gudang penyimpanan hasil panen seperti gabah kerap menjadi daya tarik bagi populasi tikus.

Berita Terkait :  Taman Vaganza 2025, Taman Group Hadirkan Hunian Memukau dan Harga Terjangkau

Sehingga, lanjut Wiyanto, memastikan gudang penyimpanan pangan tidak dalam kondisi lembab. Dan untuk bisa menangkap tikus, maka harus menggunakan perangkap tikus secara berkala untuk menekan populasi. Selanjutnya, mengelola sampah organik dengan benar agar tidak mengundang hewan pengerat.

Sedangkan untuk Hantavirus dikenal berbahaya, karena belum memiliki vaksin spesifik, dan gejala awal yang muncul menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi dan nyeri otot, dan sesak napas pada tahap lanjut. “Untuk risiko gagal nafas pada kasus berat yang memerlukan perawatan intensif,” terangnya.

Dia juga menyampaikan, jika muncul gejala tersebut, terutama setelah melakukan kontak dengan area yang banyak terdapat tikus, maka segera untuk memeriksakan ke puskesmas atau ke rumah sakit terdekat. Hal itu agar cepat mendapatkan penanganan, yang mana sangat menentukan untuk mencegah komplikasi serius.

Dan untuk saat ini, situasi di Kabupaten Malang dinyatakan masih aman dan terkendali. Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui puskesmas terus menggencarkan kampanye sanitasi, terutama di wilayah pemukiman padat penduduk.

“Kami mengajak masyarakat agar membiasakan hidup bersih sebagai kunci utama. Dan jika lingkungan bebas tikus secara otomatis menekan risiko penularan. Kami optimis dengan kesadaran kolektif warga, ancaman penyakit ini dapat diminimalkan,” pungkas Wiyanto. [cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!