29.7 C
Sidoarjo
Sunday, May 10, 2026
spot_img

186 Siswa SMP Muhammadiyah 2 Kampanye Damai di CFD Tunjungan


Surabaya, Bhirawa
Sebanyak 186 murid SMP Muhammadiyah 2 Surabaya kampanyekan perdamaian di car free day (CFD) jalan Tunjungan, Minggu pagi (10/5). Ratusan pelajar berseragam ungu berdiri berbaris dengan membawa poster, banner, dan pengeras suara. Mereka menyuarakan pesan perdamaian dalam sebuah aksi kampanye damai yang menjadi bagian dari Festival Penilaian Akhir Semester (PAS).

Sebanyak 186 siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 2 Surabaya turun langsung ke ruang publik untuk menampilkan unjuk karya pembelajaran lintas mata pelajaran. Lokasi kampanye dipusatkan di depan Hotel Majapahit Surabaya, salah satu titik strategis yang ramai dilalui masyarakat saat car free day.

Wakil Kepala Sekolah bidang Hubungan Masyarakat Yunan Imannu mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran rumpun yang menggabungkan enam mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, IPS, IPA, Seni Budaya, PJOK, dan Tapak Suci.

Dengan tema besar Aksi Perdamaian Berkarakter, para siswa diajak menerjemahkan proses pembelajaran menjadi aksi nyata di tengah masyarakat.

“Dalam kampanye tersebut, siswa mengangkat isu tentang dampak sinar ultraviolet (UV) saat terjadi peperangan. Tema ini dipilih sebagai bentuk kepedulian terhadap dampak perang yang tidak hanya merusak kehidupan manusia secara langsung, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan akibat meningkatnya paparan sinar UV,”ujar Yunan.

ia juga menyebut, berbagai poster bertuliskan pesan damai dibawa para siswa. Di antaranya bertuliskan “Satu Dunia Satu Harapan Perdamaian”, “Harmoni adalah Kekuatan”, hingga “Biarkan Cinta Memimpin, Bukan Kebencian Memudar”. Pesan-pesan itu menjadi representasi suara generasi muda yang mendambakan dunia tanpa konflik.

Berita Terkait :  Daring, SD Mudipat Tunda Outing Class dan Liburkan Ekstrakurikuler

“Kegiatan ini juga merupakan bentuk implementasi pembelajaran mendalam yang menghubungkan materi pelajaran dengan realitas sosial,”tambah dia.

Menurutnya, pembelajaran tidak cukup berhenti di ruang kelas, tetapi harus mampu menghadirkan pengalaman nyata bagi siswa agar mereka memahami persoalan dunia secara lebih utuh.

“Melalui kegiatan ini, siswa belajar menyampaikan gagasan, membangun kepedulian sosial, serta mengasah keberanian untuk tampil di ruang publik. Ini bukan hanya penilaian akhir semester, tetapi pendidikan karakter dalam bentuk nyata,” ujarnya.

Sementara itu, koordinator lapangan kegiatan Susilo Puguh memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan sesuai perencanaan.

Ia menjelaskan bahwa sejak tahap awal, siswa telah melalui proses pembelajaran berbasis proyek, mulai dari perencanaan tema, pembuatan poster, penyusunan pesan kampanye, hingga praktik penyampaian pesan di lapangan.

“Kegiatan ini melatih kerja sama, tanggung jawab, keberanian, dan kedisiplinan. Semua siswa punya peran masing-masing dalam menyukseskan aksi kampanye ini,” katanya.

Dalam modul pembelajaran rumpun, kegiatan ini memang dirancang untuk membentuk dimensi profil lulusan yang mencakup penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, dan kepedulian sosial. Setiap mata pelajaran memiliki kontribusi masing-masing dalam mendukung proyek aksi damai tersebut.

Bahasa Indonesia menguatkan kemampuan menyusun teks ulasan, IPA mengaitkan pemahaman manfaat sinar matahari dan risiko paparan UV, IPS membangun kesadaran sosial, Seni Budaya memperkuat ekspresi visual dan vokal, sedangkan PJOK dan Tapak Suci membentuk kesiapan fisik dan mental.

Berita Terkait :  Visitasi Dimulai Akhir Juli, BAN PDM Jatim Akreditasi 8.441 Lembaga

Kampanye yang berlangsung di tengah keramaian car free day ini mendapat respons positif dari masyarakat. Banyak warga yang melintas tampak berhenti untuk membaca poster dan mendengarkan orasi damai yang disampaikan para siswa.

Bahkan, momentum yang bersamaan dengan pelaksanaan lomba lari 21K membuat pesan kampanye ini menjangkau audiens yang lebih luas.

Meski melibatkan ratusan siswa, pelaksanaan berlangsung tertib dan aman. Hal itu menunjukkan kesiapan para siswa dalam menjalankan proyek kolaboratif skala besar.

Bagi SMP Muhammadiyah 2 Surabaya, festival pembelajaran seperti ini menjadi bagian dari upaya membangun sekolah berbasis keberbakatan dengan pendekatan sport, art, and science.

Melalui aksi damai di ruang publik, sekolah ingin menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang capaian akademik, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki empati, kepedulian, dan keberanian menyuarakan perdamaian. [ina.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!