Jombang, Bhirawa
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jombang memperikan ilmu dan pelajaran tata cara wawancara cegat dengan narasumber. Oleh para pelajar, ilmu yang telah didapatkan tersebut kemudian dipraktikkan. Mereka lantas melakukan wawancara doorstop dengan narasumber Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan.
Momen tersebut terjadi di halaman SMKN 1 Jombang, Rabu (29/04). Puluhan pelajar tampak berkerumun, lengkap dengan ponsel alat tulis di tangan. Mereka meminta wawancara kepada Kapolres Jombang yang baru saja selesai memberikan paparan materi.
​Simulasi wawancara doorstop atau wawancara cegat ini menjadi bagian dari rangkaian acara ‘PWI Jombang Goes to School and Campus’.
Pada simulasi tersebut, para pelajar ditantang mempraktikkan langsung ilmu jurnalistik yang baru saja mereka terima dari para narasumber yang berasal dari PWI Jombang.
​Peserta dibagi jadi beberapa kelompok kerja layaknya tim redaksi sungguhan. Ada yang bertugas sebagai reporter yang melontarkan pertanyaan tajam, videografer yang menjaga stabilitas gambar, hingga fotografer yang mencari sudut pandang terbaik.
Isu yang diangkat dalam simulasi wawancara tersebut adalah seputar upaya pencegahan kenakalan remaja dan kesiapan menuju Indonesia Emas 2045.
​AKBP Ardi Kurniawan memberikan tantangan kepada para peserta. Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kekritisan siswa, Kapolres Jombang memberikan hadiah berupa helm kepada lima pelajar yang berani mengajukan pertanyaan tajam dan maju ke depan.
​Pemberian helm ini selain sebagai penghargaan, juga merupakan simbol pesan keselamatan berkendara dan kepatuhan hukum di jalan raya, sesuai dengan materi kedisiplinan yang disampaikan.
​”Tadi sempat grogi saat harus maju dan menyodorkan HP untuk merekam suara Pak Kapolres, tapi seru sekali,” tutur salah satu pelajar bernama Nabila.
“Apalagi tidak menyangka bisa dapat hadiah helm karena berani bertanya. Kami jadi tahu bagaimana rasanya jadi wartawan yang harus sigap mengejar narasumber,” ucapnya.
​Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, tampak antusias melayani pertanyaan dari para reporter cilik tersebut.
Kapolres Jombang menilai, metode simulasi dan pemberian reward ini sangat efektif untuk mengukur sejauh mana para pelajar menyerap materi.
​”Melalui praktik doorstop ini, siswa belajar berani berbicara dan menyusun pertanyaan kritis,” kata Kapolres Jombang.
“Pemberian helm ini adalah cara kami menyemangati mereka agar terus berani menyuarakan kebenaran dan tetap disiplin, baik di sekolah maupun di jalan raya,” imbuhnya.
Kapolres Jombang juga mengingatkan, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi jika para pelajar mulai menanamkan disiplin sejak hari ini. Menurutnya, generasi penentu masa depan bangsa adalah para pelajar saat ini.
​”Jangan pernah menggadaikan masa depan yang cerah hanya demi emosi sesaat yang merugikan. Lebih baik dikenal karena prestasi yang membanggakan daripada menjadi viral karena melakukan pelanggaran hukum,” bebernya.
​AKBP Ardi Kurniawan menambahkan, hukum hadir bukan untuk ditakuti, namun untuk ditaati demi ketertiban bersama.
“Setiap tindakan seperti balap liar, perundungan (bullying), hingga Narkoba memiliki konsekuensi hukum serius yang akan tercatat dalam SKCK dan dapat merusak masa depan,” tandas Kapolres Jombang.
Dikatakannya, pelajar harus membangun karakter unggul yang memiliki integritas, religius, dan nasionalisme, serta berani menjauhi segala bentuk persaudaraan yang tidak sehat.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Eko Redjo Sunariyanto menyatakan dukungannya terhadap sinergi antara kepolisian dan pers di lingkungan sekolah.
​”Kami sangat mengapresiasi langkah inovatif ini,” ucapnya.
“Materi kesadaran hukum yang dikemas dengan praktik jurnalistik membuat siswa lebih cepat menyerap informasi,” kata dia memberikan apresiasi.
Menurutnya, kedisiplinan merupakan modal utama bagi mereka untuk bersaing secara global di tahun 2045.
“Kami berharap kegiatan seperti ini menjadi benteng bagi siswa dari pengaruh negatif lingkungan,” tuturnya.
​Kepala SMKN 1 Jombang, Abdul Muntolib merasa bangga dengan keberanian anak didiknya melakukan simulasi.
Dia menilai, kehadiran narasumber dari kepolisian dan wartawan memberikan wawasan yang sangat luas bagi para siswa.
​”Ini adalah edukasi yang komplet. Siswa kami tidak hanya belajar teori disiplin dan anti-kenakalan remaja, tapi juga belajar cara berkomunikasi secara publik dan mengolah informasi secara kritis,” terangnya.
SMKN 1 Jombang berkomitmen untuk terus mencetak lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, namun juga memiliki karakter yang taat hukum dan literasi digital yang baik.
Sementara itu, ​Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid menjelaskan, safari jurnalistik ini bertujuan untuk memberikan pengalaman praktis.
“Kita ingin siswa tidak hanya menjadi penonton informasi, tapi juga tahu proses produksi informasi yang benar dan berani berinteraksi dengan narasumber penting,” tutupnya. [rif.kt]


