Surabaya, Bhirawa
Di tengah kesibukannya mempersiapkan upacara kelulusan, Mochammad Fadillah Akbar, justru sedang sibuk menenun harapan bagi sesamanya. Menjelang kelulusannya dari jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) angkatan 2022 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), ia tak hanya akan membawa pulang ijazah, tetapi juga sebuah ekosistem inklusi yang ia bangun dengan peluh dan dedikasi.
Bagi pemuda yang akrab disapa Akbar ini, keterbatasan mendengar bukan menjadi penghalang. Sebaliknya, hal itu justru menjadi pemantik baginya untuk membangun jembatan aksesibilitas bagi sesama.
Namanya mencuat sebagai pendiri Komunitas Tuli Unesa (Kotunesa) pada 2024, sebuah wadah yang lahir dari kegelisahannya melihat masih senyapnya dukungan bagi mahasiswa tuli di kampus.
“Saya sering mendengar keluhan teman-teman disabilitas, dari situ saya berpikir harus ada wadah untuk memperjuangkan hak aksesibilitas,” ungkapnya saat ditemui di sela kesibukannya di Tulika Kopi beberapa waktu lalu.
Meski tak lagi memegang nahkoda sebagai kapten di Kotunesa, langkah Akbar justru semakin lebar. Ia membawa visinya ke ranah ekonomi melalui Tulika Kopi di Galeri Disabilitas Kinasih.
Di sana, Akbar bukan sekadar barista yang meracik kopi, melainkan pemegang kendali operasional. Ketangkasannya di balik meja bar bukan tanpa alasan. Pengalamannya telah teruji di industri perhotelan, tepatnya sebagai barista di Hotel Midtown Surabaya.
Semangat pemberdayaan ini pun ia lembagakan melalui Kitasetara Foundation, sebuah organisasi yang ia inisiasi untuk menjangkau masyarakat disabilitas di Kota Surabaya yang lebih luas. Melalui yayasan tersebut, ia ingin memastikan teman-teman disabilitas tak hanya dipandang sebagai kelompok yang perlu dibantu, tetapi sebagai individu yang mampu mandiri, produktif, dan berdaya.
Tak hanya bergerak dalam ranah sosial dan ekonomi, Akbar juga mengembangkan program yang jarang digeluti anak muda seusianya, yakni Mengaji Al-Qur’an Bahasa Isyarat. Keahlian ini ia dapatkan secara otodidak setelah mengikuti pelatihan singkat selama dua hari satu malam yang terus ia kembangkan hingga saat ini.
“Awalnya sulit menghafal isyarat Al-Qur’an. Saya tidak menjadikannya beban, tapi pembiasaan. Kalau lagi naik motor, saya sering menghafal isyarat Al-Qur’an sampai terbiasa,” imbuhnya.
Kini, kemampuan membaca Al-Qur’an bahasa isyaratnya telah mencapai 70%. Ia pun aktif mengajar di berbagai tempat, termasuk untuk anak-anak di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Menyeimbangkan tugas akhir, mengelola bisnis, dan menjalankan yayasan tentu bukan perkara mudah. Akbar menekankan pentingnya skala prioritas dan disiplin waktu agar semua kegiatan, baik sebagai mahasiswa maupun penggerak sosial dapat berjalan beriringan.
“Belajar itu tidak ada batasnya. Selama kita hidup, kita harus terus belajar. Jangan malas, karena hidup di dunia itu sementara,” pungkasnya mantap. mg5.wwn
Penulis:Ayun Permata Syahrir


