Di tengah gegap gempita digitalisasi yang menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan, kita sering kali lupa bahwa ada satu kelompok yang paling rentan terpapar dampaknya: anak-anak kita. Melalui surat ini, saya ingin mengajak para orang tua, pendidik, dan pemangku kebijakan untuk merefleksikan kembali urgensi pembatasan akses digital bagi anak-anak di bawah umur.
Tak bisa dimungkiri, gawai dan internet adalah jendela dunia. Namun, bagi anak-anak yang belum memiliki kematangan kognitif dan emosional, jendela tersebut sering kali berubah menjadi labirin yang menyesatkan. Fenomena “nomophobia” (kecemasan tanpa ponsel) kini mulai merambah usia sekolah dasar. Kita melihat anak-anak lebih fasih menggeser layar ketimbang membalik halaman buku, dan lebih aktif berinteraksi di ruang siber daripada bermain di taman fisik.
Dampak dari akses digital yang tanpa batas ini sangat nyata. Pertama, terkait kesehatan fisik. Kurangnya aktivitas gerak (sedenter) memicu risiko obesitas sejak dini dan gangguan kesehatan mata. Kedua, dampak psikologis. Paparan konten yang tidak sesuai usia-mulai dari kekerasan hingga standar kecantikan palsu di media sosial-dapat mengikis rasa percaya diri dan empati anak.
Lebih jauh lagi, algoritma media sosial dirancang untuk menciptakan adiksi. Ketika anak-anak terpaku pada stimulasi instan dari video pendek berdurasi 15 detik, daya konsentrasi mereka dalam menyerap pelajaran sekolah yang membutuhkan kesabaran pun menurun. Kita sedang mempertaruhkan kemampuan fokus generasi masa depan demi hiburan sesaat.
Pembatasan akses digital bukanlah bentuk pengekangan terhadap kemajuan teknologi, melainkan bentuk perlindungan. Orang tua perlu menetapkan batas waktu layar (screen time) yang tegas dan mendampingi anak saat berselancar di internet. Pemerintah pun perlu lebih proaktif dalam meregulasi platform digital agar memiliki sistem verifikasi usia yang lebih ketat.
Teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan malah merampas esensi masa kecil yang seharusnya diisi dengan eksplorasi dunia nyata, interaksi sosial tatap muka, dan imajinasi tanpa layar. Mari kita kembalikan masa kecil anak-anak kita sebelum mereka benar-benar “tersesat” dalam riuhnya dunia digital.
Dewi Andini
Pemerhati Masalah Anak dan Remaja, Tinggal di Surabaya


