27 C
Sidoarjo
Thursday, March 5, 2026
spot_img

Ramadan Sebagai Sekolah Karakter Tanpa Dinding

Oleh :
Rioga Fransistyawan
Mahasiswa Pascasarjana PAI UIN KHAS Jember

“Sekolahtakharusberbentuktapi, yang benar-benarmembentuk”

Siapa sangka beberapa hari lagi bulan suci akan datang. Bulan yang benr-benar memberikan kesempatan untuk berbuat kebaikan dibalas dengan puluhan hingga ratusan kebaikan juga. Disamping itu, bulan ini dinantikan umat Islam untuk menikmati indahnya bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah disetiap detiknya. Adzan yang berkumandang pastinya kita nantikan. Ramadhan sering dipahami sebatas ibadah ritual puasa yang menahan diri, tarawih dan tadarus yang menjadi pelengkap untuk beribadah. Padahal, jika dibuktikan dengan penuh hati yang tenang dan suci, bulan Ramadhan adalah proses pembentukan pendidikan yang intensif selama 30 hari berturut-turut tanpa henti. Dunia pendidikan saat ini juga harus memberikan ruang untuk siswa agar mereka dapat memahami bahwa Ramadhan bukan sebatas menahan lapar dan dahaga tetapi, menjadi bagian kurikulum kehidupan yang dirancang untuk membentuk manusia berkarakter, disiplin, dan berintegritas.

Kurikulum pendidikan dikenal dengan sebuah jembatan untuk mencapai tujuan pendidikan. Bahkan, kurikulum pendidikan menjadi bagian penting untuk menjadikan pendidikan lebih maju dan berintelektual untuk para siswa. Adanya kurikulum yang di dalamnya terdapat seperangkat rencana, tujuan, metode, materi, dan evaluasi menjadi alasan bahwa pendidikan benar-benar disusun dengan sebaik mungkin. Hal ini juga dimiliki oleh bulan Ramadhan yang tersusun berbagai unsur yang lengkap dan sangat mendalam. Pertama, tujuan Ramadhan yang pasti untuk menjadikan manusia yang bertakwa kepada Allah Swt. Sebab dengan adanya bulan Ramadhan kita bukan melawan syaitan tetapi, yang pasti melawan diri kita sendiri (hawa nafsu). Hal inilah yang menjadi tujuan utama bulan Ramadhan datang. Kedua, materi yang disampaikan oleh Ramadhan juga juga sangat kompleks. Perlunya kita belajar sebelum Ramadhan agar kita bisa siap dengan materi yang akan Ramadhan sampaikan. Meskipun tidak tersurat tetapi, makna yang tersirat sangat mendalam seperti materi pengendalian diri yang harus kita lakukan sebagai umat Islam agar ibadah kita bernilai bukan hanya sebatas menahan lapar hingga petang. Selain itu, kesabaran sangat diperlukan. Sederhananya saat menunggu berbuka puasa kita harus tetap menunggu dengan hikmat dengan dibalur dengan tadarus Al Quran memberikan suaasana yang tenang dan bernilai ibadah setiap aktivitasnya. Empati sosial juga menjadi materi di bulan Ramadhan. Bagaimana tidak ? Hanya di bulan Ramadhan banyak kalangan orang yang berbondong-bondong saling bahu membahu untuk membantu sesama agar bisa menikmati bersama. Bahkan, mereka rela untuk mengeluarkan sedekah dengan banyak hanya karena mengharap keridhoan Allah Swt di bulan suci Ramadhan.

Berita Terkait :  Tuntaskan Wabah PMK

Ketiga, metode yang digunakan di bulan suci Ramadhan dengan pembiasaan. Dengan adanya pembiasaan maka, menjalani ibadah puasa akan menjalani dengan nyaman dan menikmati. Penguatan spiritual juga menjadi bagian penting untuk menumbuhkan ketaqwaan dan meningkatkan keimanan seorang untuk selalu beribadah kepada Allah Swt. Keempat, evaluasi dalam kurikulum di bulan Ramadhan hasilnya pada akhir yakni dengan perubahan perilaku sebelum dan sesudah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Belajar bukan hanya terfokus di dalam kelas ataupun hanya melalui teori yang terus disampaikan namun, lupa dengan makna yang terkandung di bulan Ramadhan. Praktik secara langsung yang memberikan dampak yang baik bagi perkembangan sekolah karakter di bulan Ramadhan. Ramadhan bukan hanya sebatas bulan namun sebagai laboraturiom kehidupan untuk mempraktikkan kebaikan dan empati. Pendidikan sejatinya bukan hanya mentransformaskan ilmu akan tetapi, transformasi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik setelah mengikuti sekolah intensif 30 hari atau disebut dengan Ramadhan.

Ramadhan jugadikenaldengansekolahkaraktertanpadinding. Dimanatidakadabangunankokoh yang terlihathanyaimandantaqwa yang dikokohkan. Tidakadapembelajaransecaralangsungtetapi, tersiratdanberartipembelajarandalamdiri. Sekolah yang memberikanpembentukansetiapharihinggasetiapdetiknyauntukselaluberbuatkebaikandanberubahsetiapharinyamenjadilebihbaik. Ramadhan haruslahmenjadisekolah yang terbaikdiantarabulanlainnya. Bulan yang mengajarkan, memahami, danmemberikanpengertianbahwasekolahtakharusberbentuktapi, benar-benarmembentuk.

Beberapaorang yang menganggap bahwa Ramadhan seperti biasa saja. Pengungkapan yang seringkali didengar yakni bulan puasa tidak seperti dulu. Padahal dulu rasanya bahagia dan ramai orang menikmati suasana bulan puasa. Hal ini sebenarnya bukan salah dari Ramadhan namun, setiap orang yang tidak mengerti akan pendidikan yang tersirat di bulan Ramadhan. Bahkan, bulan Ramadhan bukan hanya momentum spiritual tetapi membangun karakter dari sekolah karakter yang disebut dengan Ramadhan. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya harus diinternalisasikan agar menjadi kurikulum yang terus digunakan sepanjang hayat. Bukan hanya menjadi bacaan semata tetapi, menjadi bentuk nyata dalam kehidupan sosial yang bertujuan untuk mengharap keridhoan Allah Swt. Selain daripada itu, sekolah yang benar-benar membentuk kita apakah kita lulus dari sekolah Ramadhan untuk tahun ini ?

Berita Terkait :  Surabaya Darurat Sampah dan Polusi!

———– *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!