31 C
Sidoarjo
Monday, March 30, 2026
spot_img

Gereja Merah Bertahan Seabad Lebih, Warisan Kolonial di Jantung Kota Probolinggo

Kota Probolinggo, Bhirawa
Di tengah lalu lintas Jl Suroyo yang padat, sebuah bangunan berwarna merah mencolok berdiri tenang, seolah menolak dilupakan zaman. Gereja Merah GPIB Immanuel, itulah namanya. Dari luar tampak sederhana, atap segitiga berlapis seng dan dinding logam tua-namun siapa sangka, bangunan yang didirikan lebih dari satu setengah abad silam ini menyimpan kisah panjang peradaban, iman, dan teknologi arsitektur Eropa yang langka.

Gereja ini mulai dibangun pada tahun 1862, ketika Probolinggo belum dikenal sebagai kota, melainkan masih berstatus residency di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Keberadaannya bermula dari kebutuhan spiritual para staf dan pekerja perkebunan, khususnya pabrik gula, yang kala itu harus menempuh perjalanan ke Pasuruan untuk beribadah.

”Waktu itu belum ada gereja di sini. Para pegawai perkebunan harus beribadah ke Pasuruan, bahkan sejak berdirinya Pabrik Gula Gending tahun 1830. Para staf perkebunan lalu berembuk dan mengajukan permohonan kepada Residen saat itu,” tutur Lis Karsten, Pengurus Gereja Merah, saat ditemui di sela aktivitas pelayanan.

Permohonan ini dikabulkan. Sebidang tanah seluas sekitar 5 ribu meter persegi disiapkan tepat di kawasan strategis pusat pemerintahan kolonial. Uniknya, bangunan gereja ini tidak dibangun dengan material lokal. Seluruh rangka, dinding, hingga mimbar, dipesan langsung dari Jerman-negara yang kala itu juga menjadi pusat industri permesinan dan lokomotif, sejalan dengan latar belakang para pemesan yang berasal dari industri gula.

Berita Terkait :  Koramil Bekali Siswa SMPN 2 Pungging Disiplin di MPLS

Material berupa besi baja dan lempengan logam dikirim menggunakan kapal laut dari Eropa. Perjalanan yang memakan waktu sekitar enam bulan itu menuntut perlakuan khusus. Untuk mencegah korosi akibat air laut, seluruh bagian besi dicat meni berwarna merah.

”Awalnya merah itu bukan simbol apa-apa. Itu cat anti karat. Tapi akhirnya justru menjadi identitas yang bertahan sampai sekarang,” jelas Lis.

Gereja Merah diresmikan pada 20 Juli 1863 oleh Residen Renier Reiner. Dalam perjalanannya, gereja ini sempat berganti nama-dari Indische Kerk, Protestante Gemeente, hingga De Protestante Kerk, sebelum akhirnya dikenal luas sebagai Gereja Merah GPIB Immanuel.

Sebagai gereja pertama di wilayah ini, tempat ibadah tersebut sempat menjadi ruang bersama bagi seluruh umat Kristiani, baik Protestan maupun Katolik. Namun masa-masa kelam tak terelakkan. Pada pendudukan Jepang tahun 1942, gereja ini dialihfungsikan menjadi gudang senjata dan dicat putih, menghapus sementara warna merah yang ikonik.

”Setelah Jepang pergi dan Belanda kembali, barulah gereja ini dicat merah lagi. Sampai sekarang kami tetap mempertahankan warna itu,” ujar Lis.

Menjaga warna merah Gereja Merah bukan perkara mudah. Cat yang digunakan tidak sembarangan. Hingga kini, gereja hanya boleh dicat menggunakan cat khusus merek Cap Kapal, cat kapal laut agar daya tahannya sesuai dengan material besi bangunan. Proses pengecatan pun harus diselesaikan dalam satu hari penuh.

Berita Terkait :  HUT Damkar, Wakil Bupati Malang Apresiasi Peran dan Dedikasi Para Petugas Damkar

”Kalau lewat sehari, warnanya bisa belang. Jadi harus benar-benar siap dari pagi sampai selesai,” katanya.

Tak hanya bangunannya, interior Gereja Merah menyimpan keunikan yang nyaris tak tertandingi. Mimbar gereja terbuat dari besi baja-bukan kayu atau batu-dan menurut catatan sejarah, hanya ada dua mimbar sejenis di dunia: satu di Probolinggo, satu lagi di Belanda. Pabrik pembuatnya pun sudah lama tutup, menjadikan mimbar ini sebagai artefak limited edition yang tak tergantikan.

Di bagian dalam gereja juga tersimpan Alkitab kuno berbahasa Belanda dengan sampul kulit, dicetak pada abad ke-17. Kertasnya tebal, tulisannya masih terbaca dan hingga kini dijaga dengan penuh kehati-hatian.

”Ini bukan sekadar kitab, tapi saksi sejarah perjalanan iman dan kota ini,” ujar Lis.

Keunikan lainnya, Gereja Merah dibangun dengan sistem knock down, bongkar pasang menggunakan baut-baut besar yang masih terlihat jelas. Bangunan ini tidak bisa diperluas atau diperkecil, menjadikannya arsitektur yang sangat khas dan nyaris tak ditemukan lagi di Indonesia. Gereja Merah GPIB Immanuel resmi ditetapkan bangunan cagar budaya melalui SK Provinsi Jawa Timur pada 23 November 2024.

Hingga kini, Gereja Merah memiliki sekitar 87 kepala keluarga jemaat dengan jumlah umat sekitar 200 orang. Ibadah rutin digelar setiap Minggu pagi, sementara kegiatan keagamaan lain dilakukan secara bergilir, baik di gereja maupun di rumah jemaat. pada momen Natal 2025 ini, ratusan wisatawan mancanegara penumpang kapal pesiar yang bersandar di Probolinggo memadati gereja ini. [fit.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!