Berbek ibu kota lama Nganjuk
Pemkab Nganjuk, Bhirawa.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk hari ini resmi memperingati Hari Boyong, sebuah momentum bersejarah perpindahan pusat pemerintahan (ibukota) dari Kecamatan Berbek menuju wilayah Kecamatan Nganjuk yang terjadi pada tahun 1880 silam. Peringatan tahun ini tidak sekadar menjadi ajang nostalgia seremonial, melainkan menjadi refleksi penting dalam membaca kembali komitmen tata ruang, ketahanan pangan, dan konektivitas infrastruktur daerah.
Bupati Nganjuk, Marhaen, bersama Wakil Bupati, Trihandy, menegaskan bahwa esensi dari “Boyong” adalah keberanian melakukan transformasi demi kesejahteraan masyarakat. Keputusan besar yang diambil oleh Bupati Sosrokoesoemo III pada 146 tahun lalu dipandang sebagai peletakan batu pertama bagi modernisasi Nganjuk.

Bupati Marhaen dan Nyonya boyong ke Nganjuk
“Perpindahan dari Berbek ke Nganjuk pada tahun 1880 adalah bukti nyata bagaimana sebuah kebijakan spasial didasarkan pada kebutuhan logistik, aksesibilitas, dan masa depan ekonomi rakyat. Nilai visioner inilah yang hari ini kita adopsi dalam menyusun arah kebijakan pembangunan Kabupaten Nganjuk berbasis pertanian modern,” ujar Bupati Marhaen di sela-sela peringatan.
Berdasarkan catatan geohistori, wilayah Berbek yang berada di lereng Gunung Wilis awalnya dipilih karena faktor keamanan tradisional. Namun, isolasi geografis dan keterbatasan akses transportasi membuat wilayah tersebut sulit berkembang sebagai pusat administrasi modern.
Melihat tantangan tersebut, pemerintah kala itu (Bupati Sosrokoesomo III) mengambil langkah solutif dengan memindahkan ibukota ke dataran rendah Nganjuk. Pilihan ini terbukti strategis karena beberapa keunggulan:.

Pemda Nganjuk sebagai ibu kota Nganjuk baru.
Konektivitas Transportasi massal: Menghubungkan Nganjuk langsung dengan jalur utama Solo-Surabaya melalui jalan nasional (arteri primet), serta nganjuk di lalui perlintasan kereta api Surabaya–Solo.
Topografi Terbuka: Memudahkan ekspansi pemukiman, pusat perdagangan, dan layanan publik.
Sektor Agroindustri: Membuka jalan bagi berdirinya industri sekunder, termasuk kejayaan pabrik-pabrik gula yang memanfaatkan suburnya tanah dataran rendah.
Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy, menambahkan bahwa pergeseran menjadi kota modern tidak boleh menyingkirkan identitas Nganjuk sebagai salah satu lumbung pangan utama. Salah satu bukti konkret yang diadopsi dari perencanaan tata ruang masa lalu adalah integrasi sistem irigasi teknis.
Sebagai contoh, jaringan irigasi sekunder dan berbagai infrastruktur pengairan tradisional termasuk aset-aset bangunan pelintas air (buk) bersejarah yang dibangun sejak era kolonial—hingga kini masih berdiri kokoh menopang produktivitas pertanian warga.

Bupati beserta forkopimda dan masyarakat berjalan kaki menuju pendopo kabupaten Nganjuk
“Ke depan, Pemkab Nganjuk berkomitmen tidak hanya fokus pada pembangunan kawasan industri baru, tetapi juga memastikan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Kita harus menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi modern dengan ketahanan pangan, persis seperti fondasi yang telah dibangun para leluhur kita,” tutur Trihandy.
Melalui peringatan Hari Boyong ini, masyarakat diajak untuk melihat pembangunan daerah dari kacamata yang optimis dan konstruktif. Bahwa setiap kebijakan infrastruktur dan tata ruang yang diambil hari ini, esok akan menjadi sejarah yang menentukan kemakmuran generasi Nganjuk di masa depan. [end.hel]


