32.2 C
Sidoarjo
Friday, August 7, 2026
spot_img

Wagub Emil Dardak : AI Harus Ciptakan Nilai Berkelanjutan, Bukan Sekadar Keuntungan

Pemprov Jatim, Bhirawa – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menekankan bahwa kecerdasan artifisial (AI) tidak boleh dilihat hanya sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi atau memaksimalkan keuntungan perusahaan.

Menurutnya, AI harus mampu menciptakan sustainable value atau nilai yang berkelanjutan dengan menempatkan manusia di pusat proses transformasi.

Pernyataan itu disampaikan Emil saat menjadi keynote speaker bersama Ilham Habibie pada Oxford × INSEAD Collaborative Debate Night yang digelar oleh Oxford Society Indonesia (OXSI) dan INSEAD Alumni Association Indonesia di University Club Jakarta, Kamis (6/8) malam.

Forum tersebut mengangkat mosi “The AI Dilemma: This House Believes that Maximising Shareholders Value Justifies Replacing Human Labour with AI” dan menghadirkan debat bergaya Oxford Union yang melibatkan alumni kedua institusi.

Emil membuka pemaparannya dengan menyoroti peran AI sebagai pendorong utama transformasi ekonomi global. Dunia usaha memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat proses, dan memperkuat daya saing. Namun ia mengingatkan adanya tantangan besar, khususnya perubahan struktur pekerjaan dan dinamika hubungan antara teknologi dan manusia.

“Perdebatan mengenai AI seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi mampu menggantikan pekerjaan manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memastikan AI menjadi alat untuk memperkuat kapasitas manusia sekaligus menciptakan nilai yang lebih besar bagi masyarakat,” kata Emil.

Ia menilai bahwa kemenangan dalam era transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi, melainkan oleh kemampuan membangun kualitas sumber daya manusia.

Berita Terkait :  BPKAD Jatim Persiapkan RKPD Perubahan 2026

Kompetensi seperti kepemimpinan, kreativitas, empati, kemampuan berkolaborasi, serta pengambilan keputusan strategis tetap menjadi keunggulan yang sulit digantikan mesin. Karena itu, Emil menegaskan investasi pada pengembangan manusia harus berjalan seiring investasi pada teknologi.

Paradigma dunia usaha juga perlu bergeser, sambungnya. Jika selama ini keberhasilan kerap diukur dari kemampuan memaksimalkan shareholder value, maka ke depan perusahaan diharapkan mampu menciptakan sustainable value yang memberi manfaat bagi pemegang saham, pekerja, konsumen, masyarakat, dan lingkungan. Dengan begitu, kemajuan teknologi tak sekadar menghasilkan efisiensi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan sosial.

“Efisiensi adalah konsekuensi dari inovasi, tetapi bukan tujuan akhirnya. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika teknologi mampu meningkatkan kualitas hidup manusia dan menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Emil.

Dalam pandangannya, respons terhadap perkembangan AI harus muncul lewat kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas ilmiah. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar transformasi digital berlangsung inklusif, membuka peluang ekonomi baru, dan mempersiapkan masyarakat menghadapi perubahan lanskap pekerjaan.

Forum Oxford × INSEAD Collaborative Debate Night menjadi wadah pertukaran gagasan tentang dampak AI terhadap dunia usaha, perdagangan, dan perekonomian, selain pemaparan keynote speech acara juga menampilkan debat ala Oxford Union serta sesi debat terbuka untuk menguji berbagai perspektif mengenai masa depan hubungan antara teknologi dan manusia.

Berita Terkait :  Pemkot Batu Perluas Kerja Sama Hortikultura dengan Belanda

Usai acara, Emil mengaku memperoleh banyak perspektif baru dari diskusi yang dinamis dan sarat argumentasi akademik. Ia menyebut kesempatan berdialog bersama Ilham Habibie menjadi momentum untuk menyampaikan sudut pandang pemerintah daerah terkait pemanfaatan AI, khususnya dampaknya terhadap masyarakat, industri, dan kebijakan publik.

“Diskusi ini sangat menarik. Saya bersama Pak Ilham Habibie mendapat kesempatan berbagi pandangan, dan saya mewakili perspektif pemerintah daerah mengenai penggunaan AI serta dampaknya bagi masyarakat, dunia industri, dan kebijakan publik. Sementara itu, para alumni Oxford dan INSEAD memperdebatkan isu ini dengan kualitas intelektual dan akademik yang sangat tinggi sehingga menjadi masukan yang sangat berharga bagi kami,” ungkapnya.

Berbagai pandangan yang muncul dalam forum memberi gambaran komprehensif mengenai langkah yang perlu diambil pemerintah dalam menyikapi pemanfaatan AI di berbagai lini kehidupan, termasuk di Jawa Timur. Emil berharap jejaring yang terjalin dalam forum dapat menjadi modal kolaborasi untuk mendorong inovasi dan merumuskan kebijakan teknologi yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Diskusi ini memberi banyak pelajaran bagi kami dalam menyikapi semakin maraknya penggunaan AI di berbagai sektor kehidupan di Jawa Timur. Mudah-mudahan jejaring yang terbangun bersama para alumni yang hadir hari ini juga dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kolaborasi di masa mendatang,” tuturnya.

Menutup pemaparannya, Emil mengajak seluruh pemangku kepentingan memandang AI sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar alat otomatisasi. Keberhasilan transformasi digital, menurutnya, bergantung pada kemampuan menciptakan keseimbangan antara kemajuan teknologi, pembangunan manusia, dan keberlanjutan ekonomi.

Berita Terkait :  Gubernur Khofifah Gelar Khotmil Quran inklusif Bersama Komunitas Disabilitas Tuli Mengaji

“Ketika AI mampu memperkuat manusia, bukan menggantikannya, di situlah teknologi benar-benar menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi masa depan,” pungkas Emil. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!