Surabaya, Bhirawa – Tiga puluh hari pascagempa bumi melanda Nusa Tenggara Timur, jejak retakan di tanah dan dinding-dinding rumah warga masih nampak jelas. Namun di Desa Wae Bangka, setitik harapan perlahan mulai membasahi kembali keseharian warga.
Perwakilan SPS Corporate, Fernando Anggrek saat dikonfirmasi pada Kamis (5/11/2026) mengungkapkan kehadiran perusahaan bukan sekadar menghantarkan logistik fisik, melainkan membawa semangat kebersamaan agar warga merasa tidak berjalan sendirian.
“Pemulihan pascabencana memang membutuhkan proses dan waktu. Namun di masa-masa tersulit ini, fokus utama kami adalah memastikan kebutuhan paling mendasar seperti air bersih, bahan pangan, serta tempat bernaung yang aman dapat segera terpenuhi,” jelasnya.
Fernando menambahkan dengan melihat air bersih kembali mengalir jernih di Wae Bangka serta menyaksikan keluarga-keluarga dapat beristirahat dengan aman di bawah tenda tanpa rasa cemas di kala hujan turun adalah alasan utama kami berada di sini.
“SPS Corporate berkomitmen untuk terus berdiri dampingi masyarakat Manggarai hingga denyut kehidupan dan harapan di tanah NTT benar-benar pulih kembali,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Wae Bangka, Tarsy Sejati menceritakan kembali masa-masa krisis yang mereka lewati. “Desa Wae Bangka ini sejatinya hulu, pusat mata air utama yang mengaliri kehidupan untuk beberapa desa di sekeliling kami,” terangnya.
Di saat gempa menghantam, jaringan pipa pecah dan sumber air tercemar lumpur. Kami sempat kebingungan harus memenuhi kebutuhan air bersih dari mana. “Satu bulan pascabantuan unit pompa air berkekuatan tinggi dan filter masif disalurkan SPS Corporate, aliran air bersih itu kembali hadir,” tuturnya.
Bahkan, kata Tarsy, airnya jauh lebih bersih dibanding sebelum bencana. Di tengah situasi serba darurat ini, warga tak lagi dibayangi ketakutan harus mengonsumsi air keruh untuk keluarga mereka. “Air bersih adalah napas kami, dan napas itu kini telah kembali,” ujarnya.

Kisah dari Wae Bangka merupakan satu dari sekian cerita di balik aksi kemanusiaan maraton yang digelar SPS Corporate. Selama hampir tujuh hari nonstop, tim Corporate Social Responsibility (CSR) bergerak menyisir titik-titik terdampak di wilayah Manggarai Barat, Manggarai Tengah, hingga Manggarai Timur.
Bahkan perjalanan ini diuji oleh medan yang berat. Akses jalan utama yang putus akibat material longsor, jalur curam berjurang, serta cuaca yang berubah-ubah tidak melunturkan niat rombongan untuk menjangkau warga di titik terisolasi.
Namun, bantuan bisa disalurkan secara merata menembus beberapa titik wilayah terdampak, meliputi Elar, Lamba Leda, Wae Bangka, Lembor, Lengko Ajang, Ulu Wae, Ruteng, Rende Nao, Colol, Lelak, Wejang Mali, Wanggar Weli, dan Ngkiong Doro.
Di setiap titik penyaluran, bantuan yang diserahkan tidak hanya berfokus pada kebutuhan pangan seperti sembako, tetapi juga logistik penunjang kenyamanan warga pengungsi.
Ratusan selimut hangat, karpet tebal alas tidur, hingga perlengkapan sanitasi disebarkan langsung ke tangan warga. Bahkan, kehadiran tenda-tenda darurat pun menjadi perlindungan yang sangat krusial. Pasalnya, banyak struktur bangunan rumah warga yang retak parah dan nyaris roboh.
Memasuki musim hujan, berada di dalam rumah yang rawan runtuh menjadi ancaman nyata. Tenda-tenda tebal yang didirikan di halaman rumah tak sekadar menjadi tempat bernaung sementara, tetapi juga memberikan ruang aman bagi lansia dan anak-anak dari terpaan angin malam serta hujan deras.
Suasana haru menyelimuti penyaluran di beberapa titik pengungsian. Maria (43), salah satu warga lokal yang rumahnya mengalami kerusakan struktur parah, tak sanggup menyembunyikan rasa lega dan harunya saat menerima bantuan.
“Setiap malam kami cemas tidur di dalam rumah karena temboknya sudah miring. Apalagi udara malam di atas bukit ini dingin sekali dan hujan mulai sering turun. Bantuan tenda tebal, karpet alas, dan selimut ini sangat berarti bagi kami. Akhirnya anak-anak bisa tidur dengan hangat dan tenang tanpa terus-terusan merasa takut tertimpa tembok,” kata Maria sembari mengusap air matanya.
Sementara itu, rangkaian aksi kemanusiaan di tanah Nusa Tenggara Timur ini diharapkan dapat meringankan beban psikologis dan fisik masyarakat terdampak, sekaligus menjadi pemantik bagi percepatan pemulihan sosial dan ekonomi di seluruh wilayah Manggarai. [riq.kt]


