Surabaya, Bhirawa
Peringatan Hari Kartini menjadi momentum untuk melihat kembali peran perempuan di berbagai sektor, termasuk di lapisan ekonomi paling bawah. Di tengah arus digitalisasi, perempuan pedagang kecil menghadapi tantangan baru dalam menjalankan usahanya.
Perubahan sistem pembayaran dari tunai ke digital melalui QRIS mulai dirasakan hingga ke warung-warung kecil. Namun, proses adaptasi tidak berjalan sama bagi setiap pelaku usaha.
Vera Kusuma (33), pedagang mie ayam sekaligus pemilik warung kopi, menjadi salah satu contoh perempuan yang mampu beradaptasi di era digital. Ia mengaku penggunaan QRIS mempermudah transaksi sehari-hari, baik bagi dirinya maupun pelanggan.
“Sekarang seringnya pakai QRIS. Lebih praktis, apalagi kalau tidak bawa uang tunai,” ujarnya.
Meski demikian, Vera tetap melayani pembayaran tunai, terutama bagi pelanggan yang belum terbiasa dengan sistem digital. Ia menyadari tidak semua kalangan, khususnya orang tua, memahami penggunaan QRIS.
“Di warung tetap sedia uang kembalian, karena ada juga pembeli yang masih pakai cash,” katanya.
Bagi Vera, menjadi perempuan di era sekarang berarti mampu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, termasuk dalam hal ekonomi. Semangat ini ia nilai sejalan dengan nilai-nilai perjuangan Kartini.
“Perempuan harus bisa berdiri di kaki sendiri, tetap berdaya meskipun sudah berkeluarga,” tegasnya.
Beberapa meter dari sana, cerita berbeda datang dari Ibu Suminah (64). Tangannya yang mulai keriput telah puluhan tahun mendorong gerobak, menyusuri hari demi hari demi menghidupi keluarga.
Ia bukan asing dengan QRIS. Justru sebaliknya, ia ingin bisa menggunakannya dengan lancar. Namun, teknologi tak selalu ramah bagi semua orang.
“Kalau QRIS sebenarnya senang karena anak muda sekarang lebih suka bayar pakai QRIS, tapi kadang penggunaannya sulit karena pernah uangnya tidak masuk” ungkapnya.
Kendala perangkat, keterbatasan pemahaman, hingga ketergantungan memahami digital pada anak atau cucu membuatnya belum sepenuhnya nyaman dengan sistem digital. Ketika QRIS bermasalah, ia kembali ke cara lama yaitu uang tunai.
Meski begitu, semangat Suminah tak pernah surut. Lebih dari empat dekade berjualan, Suminah tetap memegang teguh prinsip hidup yang sederhana-jujur, bekerja keras, dan mandiri.
“Kalau bisa kerja sendiri, ya kerja sendiri. Lebih enak mandiri,” ujarnya.
Momentum Hari Kartini menjadi refleksi bahwa perempuan, termasuk pedagang kecil, memiliki peran penting dalam perekonomian. Namun, di tengah digitalisasi, diperlukan dukungan berupa edukasi dan pendampingan agar seluruh lapisan masyarakat dapat beradaptasi secara merata.
Vera berharap pemerintah dapat meningkatkan sosialisasi terkait penggunaan QRIS, terutama bagi pedagang dan masyarakat yang belum familiar dengan teknologi digital.
“Supaya semua bisa ikut merasakan kemudahan, terutama ibu-ibu yang belum paham biar tidak gampang kena penipuan,” pungkasnya. [fir.kt]


