27 C
Sidoarjo
Tuesday, April 21, 2026
spot_img

Dr Emy Soroti Esensi Keberdayaan dan Beban Ganda Perempuan

Prof Dr Emy Susanti
Peringatan Hari Kartini 21 April menjadi momentum refleksi realitas perjuangan perempuan. Bagi Pakar Sosiologi Gender Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Emy Susanti Dra MA Hari Kartini berkaitan dengan kesetaraan, otonomi, hingga beban berlapis perempuan di tengah dinamika ekonomi global.

Menurut Prof Emy, spirit pemikiran R A Kartini secara fundamental memperjuangkan tiga hal penting. Yakni pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan kesehatan reproduksi perempuan.

“Ibu Kartini meninggal pada masa nifas yang masuk dalam Angka Kematian Ibu. Sejak lama beliau berjuang untuk kesehatan perempuan, memerangi kebodohan, dan kemiskinan,” ungkap Guru Besar FISIP Unair tersebut.

Peningkatan pendidikan formal bagi perempuan bukanlah satu-satunya parameter keberhasilan. Indikator sejati kesetaraan adalah keberdayaan seutuhnya. Kemajuan pendidikan seakan tiada arti jika otonominya justru dikesampingkan.

“Yang sebetulnya harus dicapai itu keberdayaan perempuan. Perempuan harus bisa punya agenda hidup sendiri tanpa paksaan dan penuh dengan kesadaran,” tegas Prof Emy.

Pendidikan bukan sekadar gelar melainkan pembentukan kesadaran. Kepintaran formal tidak berarti jika perempuan masih hidup dalam tekanan atau disetir lingkungan sekitarnya karena keberdayaan sejati menuntut kebebasan penuh dalam menentukan pilihan hidup.

“Pendidikan formal itu penting, namun yang esensial adalah perempuan menjadi berdaya. Ia memiliki otonomi atas hidupnya, tidak tertekan, atau dipaksa. Ia berhak menentukan sendiri agendanya apakah lanjut sekolah, bekerja, menikah, atau memiliki anak. Kemandirian inilah esensi keberdayaan sejati,” paparnya.

Berita Terkait :  Bagian dari Operasi Zebra Semeru, Satlantas Polres Gresik Berbagi Kebahagiaan di Yayasan Fadhillah

Lebih lanjut, di tengah himpitan ekonomi beban perempuan kini menjadi beban berlapis atau multi burden. Saat krisis, perempuan sering mengambil alih peran pencari nafkah yang membuktikan ketangguhannya memikul tanggung jawab ekstra. “Siapa pun itu perempuan pasti punya multi burden (beban ganda) karena masyarakat menempatkan peran domestik padanya,” jelas Prof Emy.

Perempuan mampu bertahan dari krisis ekonomi berkat kuatnya ikatan sosial mereka. Tradisi saling peduli antartetangga hingga berbagi tugas pengasuhan anak menjadi pertahanan komunal yang luar biasa tangguh untuk saling menguatkan. “Perempuan itu sangat tinggi solidaritas dan jaringan sosialnya, terutama dengan sesama perempuan,” sorot Prof Emy.

Menurut Prof Emy pemerintah memiliki program Pengarusutamaan Gender. Namun, terkadang eksekusinya terbentur dengan banyak hal, sehingga masyarakat sipil perlu memberdayakan diri sendiri. Prof Emy mengajak generasi muda meneladani Kartini dengan terus memperkuat jejaring menghadapi zaman.

“Kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada pemerintah. Jangan ada kompetisi tidak sehat, mari bergandengan tangan bersama, dengan meneladani Ibu Kartini harapannya kita bisa survive dalam menghadapi tantangan apa pun,” pesannya. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!