27 C
Sidoarjo
Tuesday, April 21, 2026
spot_img

“Habis Gelap Terbitlah Terang” Terinspirasi Al-Quran

Oleh :
H Yunus Supanto
Wartawan senior, pegiat dakwah sosial politik

RA Kartini Meninggal Syahid Pasca Persalinan

“Ibu, menggoyang ayunan anaknya dengan tangan kanan, dan tangan kirinya menggoyang (guncangkan) dunia.”

(Napoleon Bonaparte, Panglima perang paling sukses di seantero Eropa, Pemimpin Besar sekaligus Kaisar Perancis, dan Presiden Italia)

Sejarah mencatat Napoleon sebagai Panglima, dan Kaisar, yang paling romantis kepada istri, dan ibundanya. Ia menulis satir selama tahun 1796 hingga tahun1802, melambangkan kedudukan kaum ibu kalangan istana. Dipingit, dan wajib memaklumi poligami. Tak beda yang dialami Raden Ajeng Kartini, sebagai istri. Bupati Rembang, tahun 1903. Namun dari balik pagar tembok istana, RA Kartini, berupaya keras meningkatkan literasi kaum perempuan dengan aksi nyata. Yakni, mendirikan sekolah perempuan. Suaminya mendukung.

Pada masa lalu (hampir penghujung abad ke-19), hampir mustahl perempuan bersekolah. Sehingga sumber literasi kaum perempuan, hanya dongeng. Tetapi sebagai anak bupati, RA Kartini, boleh sekolah tingkat SD (Europeesche Lagere School, ELS). Sangat sedikit perempuan yang bisa membaca huruf latin. Sedangkan melek huruf Arab, tidak diakui. Tamat ELS, RA Kartini memasuki masa pingitan ketat. Namun aktif berkorespondensi (dalam bahasa Belanda), dengan rekan alumni ELS.

Bahkan RA Kartini, sudah sering membaca berbagai roman. Termasuk yang anti-perang, karangan Berta Von Suttner, berjudul “Die Waffen Nieder” (Letakkan Senjata). Ia juga membaca “Max Havelaar” karya Multatuli (Douwes Dekker). Pada masa kini, literasi perempuan terbuka tanpa batas (ruang, waktu, dan teritorial batas negara), sebagai era digital. RA Kartini dikenang sebagai pelopor kejuangan kaum perempuan. Setiap tahun diperingati Hari Lahir-nya pada 21 April.

Berita Terkait :  Komisi VI DPR RI Nilai Klaim Surplus Ekspor Baja Suatu Anomali di Tengah Impor Masif

Segenap perempuan, murid SD hingga SLTA beserta guru masih bersemangat merayakan Hari Lahir Raden Ajeng Kartini. Kostum perempuan tradisional menjadi pemandangan indah (penuh warna) di berbagai sekolah. Kalangan pejuang (pegiat) perempuan selalu memiliki cara mem-bahagia-kan kaumnya. Banyak organisasi masyarakat (Ormas) yang khusus berkiprah untuk perempuan, termasuk kalangan muslimat. Negara juga telah hadir. Namun masih banyak penjahat mengincar “kelemahan” perempuan.

Sampai peringatan hari Kartini ke-62 tahun (2026), masih banyak perempuan menjadi incaran berbagai tindakan kriminal, sampai diskriminasi. Serta gerakan anti emansipasi. Berdasar catatan Komnas Perempuan, pada tahun 2025 terdapat 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan. Meningkat 14,07%. Sekaligus menjadi rekor tertinggi selama satu dekade. Didominasi kekerasan seksual terbanyak, 24.472 kasus. Berdasar catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sepertiga perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Perlindungan Perempuan
Ironisnya selama tahun 2025, sebanyak 316 juta perempuan di seluruh dunia mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan intim. Serta catatan paling pedih, adalah, setiap hari terdapat 137 jiwa perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia, menjadi korban pembunuhan! Terutama di kawasan konflik, seperti Gaza, Palestina. Sehingga masih diperlukan penguatan aksi melaksanakan peraturan anti-diskriminasi terhadap perempuan.

Padahal pada tahun 1979 (45 tahun lalu) telah diterbitkan kesepakatan internasional berupa deklarasi CEDAW (Convention on the Elimination of all Forms of Discrimantion Against Women). Konvensi yang mengikis diskriminasi perempuan. Wajib ditaati seluruh negara di dunia. Indonesia meratifikasi (bukti persetujuan) CEDAW, melalui UU Nomor 7 tahun 1984. Disusul penerbitan UU Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

Berita Terkait :  Kapolri Silaturahmi ke Ponpes Shiddiqiyah Ploso Jombang, Sebut Ulama Memiliki Peran Strategis Menjaga Kerukunan

Berdasar sejarah, Kartini, memiliki trah ke-santri-an bermartabat. Ayahnya, RM Sosroningrat, adalah keturunan Pangeran Dangirin, Bupati Surabaya abad ke-18. Dari Pangeran Dangirin, dapat ditelusuri sebagai trah keturunan kerajaan Majapahit. Dari garis ayah, silsilah RA Kartini, tersambung dengan Sultan Hamengkubuwono ke-6. Sedangkan dari garis keturunan ibu, Kartini merupakan “santri-wati.” Ia adalah cucu dari mbah kyai Haji Madirono, seorang ulama kesohor di Telukawur, Jepara.

Sebagai keturunan mbah kyai Madirono, Kartini mewarisi intelektualitas (dan spiritualitas) memadai. Minat bacanya sangat tinggi, termasuk beberapa karya sastra bermutu berbahasa Belanda. Misalnya karya Frederik Willem van Eeden (seorang ahli Botani yang hidup di Indonesia, sekaligus saterawan) sebuah puisi filosofis yang cukup panjang. Sehingga tulisan dalam surat-suratnya, bukan sekadar retorika kertas. Melainkan menjadi inspirasi kalangan perempuan kolonial (saat itu).

Syahid Pasca Persalinan
Namun sesungguhnya adat Indonesia (dan adat suku-suku) memiliki penghormatan terhadap perempuan. Ditambah pencerahan agama, menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki. RA Kartini juga secara langsung me-minta, kepada guru mengajinya, Kyai Sholeh Darat, Semarang, untuk penulisan tafsir Al-Quran berbahasa Jawa. Keinginannya teralisasi, berupa tafsir Al-Quran bernama Fayd al-Rahman fi Terjamah Kalam Malik Dayyan. Diterbitkan pertama kali di Singapura, tahun 1894.

Tetapi tafsir yang dipesan RA Kartini, baru menyelesaikan surat pertama (Al-Fatihah), dan surah ke-2 (Al-Baqarah). Sebagian dokumentasi sejarah menulis penyelesaian tafsir sampai surah An-Nisa’ (juz ke-4, 5, dan ke-6). Tafsir Fayd al-Rahman fi Terjamah Kalam Malik Dayyan, secara lughowi (ke-bahasaan), bermakna, “Limpahan Kasih Allah dalam Menerjemahkan Firman Allah Penguasa Hari Pembalasan.”

Berita Terkait :  Prestasi Jatim Tak Terkejar

RA Kartini sebagai tokoh perempuan utama, tergolong sangat maju, jauh melampuai zamannya dalam pemikiran. Ke-pahlawanan tidak hanya dilakukan melalui angkat senjata. Namun semangat memajukan literasi, dan aksi nyata mendirikan sekolah. Begitu pula pemahaman ke-agama-an di bawah bimbingan kyai Sholeh Darat, sangat mempengaruhi visi hidupnya. Termaasuk protes terhadap kitab suci yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa lokal.

RA Kartini sebagai ibu, bisa digolongkan sebagai “syahid,” karena meninggal dunia 4 hari pasca melahirkan. Yang diderita, adalah “eklamsia.” Yakni komplikasi sakit saat kehamilan, yang bisa datang tiba-tiba. Termasuk di dalamnya tekanan darah tinggi, bengkak, dan kejang. Jika terjadi sekarang, wajib dilakukan persalinan operasi sesar (SC). Tetapi saat itu belum dikenal tindakan persalinen sesar (Caesarean Section). Tetapi bayi laki-laki yang dilahirkannya selamat. Putranya, Soesalit Djojoadhiningrat, berkarir di militer (terakhir berpangkat Mayor Jenderal).

Artinya, RA Kartini, sudah sempurna sebagai santri Perempuan, sekaligus telah menjadi ibu. Status (sebagai ibu) yang paling di-mulia-kan seluruh manusia berdasar ajaran agama. Bahkan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang,” (Door Duisternis tot Licht) Kartini ter-inspirasi Al-Quran surah Al-Baqarah (QS 2:257). “Allah adalah pelindung orang beriman, membimbing mereka dari kegelapan menuju Cahaya.”

Realitanya hingga kini, di seluruh dunia, setiap ibu memanggul tanggungjawab ekonomi, dan sosial, lebih besar.

——– *** ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!