Setiap bulan April, bangsa kita merayakan Hari Kartini sebagai simbol kebangkitan pemikiran dan emansipasi perempuan. Raden Ajeng Kartini dikenal melalui surat-suratnya yang terkumpul dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat itu bukan sekadar keluh kesah, melainkan hasil pemikiran kritis, riset mendalam melalui bacaan, dan dialog intelektual yang melampaui zamannya. Kartini adalah sosok yang sangat menghargai data dan kebenaran sebelum menyimpulkan sesuatu.
Namun, jika kita menengok situasi hari ini, semangat kritis Kartini tersebut sedang menghadapi tantangan besar: ancaman hoaks atau berita bohong. Di era digital, informasi mengalir begitu deras melalui gawai di genggaman tangan. Ironisnya, kecepatan penyebaran informasi ini sering kali tidak dibarengi dengan ketajaman verifikasi. Sering kali, kita-baik laki-laki maupun perempuan-terjebak dalam pusaran informasi palsu yang memicu perpecahan, kebencian, hingga keresahan sosial.
Kartini modern saat ini bukan lagi berjuang melawan pingitan fisik, melainkan berjuang melawan “pingitan pikiran” yang disebabkan oleh algoritma media sosial dan berita palsu. Hoaks sering kali menyerang ranah domestik maupun publik yang sangat dekat dengan perempuan. Mulai dari isu kesehatan anak, keamanan pangan, hingga fitnah politik yang menyerang kehormatan seseorang. Tanpa daya kritis seperti yang dimiliki Kartini, kita akan mudah terombang-ambing oleh narasi yang sengaja diciptakan untuk memanipulasi emosi.
Perempuan memiliki peran sentral dalam memutus mata rantai hoaks. Sebagai madrasah pertama dalam keluarga, ibu memiliki kendali untuk mengedukasi anak-anaknya agar tidak mudah menelan informasi mentah-mentah. Di lingkungan sosial, perempuan sering kali menjadi motor penggerak komunitas. Jika semangat Kartini dalam mencari ilmu dan kebenaran diadopsi, maka perempuan bisa menjadi “benteng literasi” yang kokoh.
Meneladani Kartini di tengah ancaman hoaks berarti berani untuk “berhenti sejenak” sebelum membagikan ulang sebuah pesan. Kita perlu bertanya: Apakah informasi ini masuk akal? Siapa sumbernya? Apa tujuannya? Kartini dulu membaca buku dan majalah dari Eropa untuk membuka cakrawala; kita sekarang harus “membaca” dengan lebih teliti setiap tautan yang masuk ke grup WhatsApp kita.
Rahmania Putri Afifah
Penggiat Literasi Masyarakat Tinggal di Ponorogo


