Surabaya, Bhirawa – Membangun budaya keselamatan tidak cukup hanya melalui aturan, rambu, dan imbauan. Dibutuhkan gerakan bersama yang mampu menumbuhkan kesadaran, mengubah perilaku, dan menjadikan keselamatan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Semangat itulah yang diusung Dewan K3 Provinsi Jawa Timur (DK3P Jatim) dengan menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Safety Stride, kegiatan Fun Run 5K dan pemeriksaan kesehatan gratis yang diikuti sekitar 700 peserta.
Lebih dari sekadar kegiatan olahraga, Safety Stride menjadi salah satu agenda kampanye K3 DK3P Jatim dengan pendekatan kreatif, partisipatif, dan dekat dengan masyarakat. Kegiatan ini menjadi langkah awal memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas K3, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas budaya keselamatan dan kesehatan di Jawa Timur.
Ketua DK3P Jatim, Sigit Priyanto, S.T., M.M., menegaskan bahwa upaya membangun budaya K3 perlu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. K3 tidak boleh dipersepsikan semata-mata sebagai urusan perusahaan, industri, atau petugas keselamatan, tetapi harus menjadi bagian dari perilaku setiap individu.
“Safety Stride merupakan langkah awal untuk membawa kampanye K3 lebih dekat dengan masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa edukasi keselamatan dapat dilakukan dengan cara yang kreatif, menyenangkan, dan melibatkan banyak pihak. Keselamatan harus menjadi kesadaran bersama, bukan sekadar kewajiban karena aturan,” jelas Sigit.
Menurutnya, keterlibatan sekitar 700 peserta menjadi momentum untuk memperluas edukasi K3 melalui pendekatan yang lebih terbuka dan partisipatif, khususnya bagi generasi muda.
“Jangan menunggu kecelakaan untuk belajar tentang keselamatan, dan jangan menunggu sakit untuk mulai peduli pada kesehatan. Pencegahan harus menjadi kebiasaan, dimulai dari diri sendiri dan diperkuat melalui lingkungan yang saling mengingatkan,” tambah Sigit.
Kolaborasi dengan ITS menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu aktor penting dalam memperkuat literasi dan budaya K3. Kampus tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam membentuk karakter, kepedulian sosial, serta perilaku aman bagi generasi muda.
Wakil Rektor III ITS Bidang Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Teknologi & Sistem Informasi (SDMO dan TSI), Imam Baihaqi, S.T., M.Sc., Ph.D., diharapkan dapat menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjadikan keselamatan dan kesehatan sebagai bagian dari kehidupan akademik maupun masyarakat.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keselamatan, kesehatan, dan lingkungan. Melalui kolaborasi seperti Safety Stride, nilai-nilai tersebut dapat disampaikan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda dan masyarakat,” kata Imam.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi contoh bahwa kampus dapat berperan aktif sebagai mitra strategis dalam kampanye publik. Sinergi DK3P Jatim dan ITS juga membuka ruang bagi keterlibatan lebih luas Program Studi K3 dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur.
Dengan demikian, edukasi K3 tidak berhenti di ruang kelas, laboratorium, atau lingkungan industri, tetapi tumbuh menjadi gerakan bersama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Ketua DK3P Jatim sekaligus penanggung jawab kegiatan Safety Stride, Edi Priyanto, S.K.M., M.M., menekankan bahwa tantangan terbesar dalam kampanye K3 bukan hanya menyampaikan informasi, melainkan memastikan pesan tersebut menjadi perilaku nyata dan dilakukan secara konsisten.
“Safety Stride perlu kita maknai sebagai titik awal, bukan tujuan akhir. Ke depan, kampanye K3 perlu terus dikembangkan melalui berbagai pendekatan kreatif dengan melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Harapannya, setiap peserta tidak hanya membawa pulang pengalaman berolahraga, tetapi juga semangat untuk menjadi duta keselamatan di lingkungannya masing-masing,” jelas Edi.
Menurut Edi, kampanye K3 yang efektif perlu disampaikan melalui cara yang relevan dengan karakter dan kebutuhan masyarakat. Olahraga, kegiatan komunitas, edukasi publik, dan kreativitas generasi muda dapat menjadi media untuk memperluas jangkauan pesan keselamatan.
“Keberhasilan kampanye K3 tidak cukup diukur dari banyaknya peserta yang hadir. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini mendorong perubahan perilaku, memperkuat kepedulian, dan membangun kebiasaan untuk saling menjaga keselamatan,” kata Edi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Safety Stride, khususnya ITS dan Program Studi K3 dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur yang telah terlibat aktif dalam kampanye ini.
“Terima kasih kepada seluruh Program Studi K3 dari perguruan tinggi di Jawa Timur yang telah berpartisipasi dan mengambil bagian dalam gerakan kampanye K3 ini. Keterlibatan rekan-rekan akademisi dan mahasiswa sangat berarti untuk memperluas edukasi keselamatan, membangun kepedulian generasi muda, serta menjadikan K3 sebagai budaya bersama. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut dan berkembang menjadi gerakan yang semakin luas,” jelas Edi.
Kegiatan Safety Stride menjadi simbol bahwa menjaga kesehatan dapat dimulai dari langkah sederhana. Peserta diajak membiasakan aktivitas fisik, mengenali kemampuan tubuh, dan memperhatikan keselamatan selama berolahraga.
Pemeriksaan kesehatan gratis melengkapi kegiatan ini dengan pesan tentang pentingnya menjaga kondisi tubuh dan melakukan pemeriksaan secara berkala sesuai kebutuhan. Keduanya memperkuat hubungan antara K3 dan gaya hidup sehat. Prinsipnya sama: mengenali risiko, melakukan pencegahan, dan mengambil tindakan sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.
DK3P Jatim menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh Program Studi K3 dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur yang telah ikut terlibat dalam kampanye Safety Stride. Partisipasi tersebut bukan sekadar kehadiran dalam sebuah kegiatan olahraga, melainkan bentuk nyata kontribusi dunia akademik dalam menyebarluaskan nilai-nilai keselamatan dan kesehatan kepada masyarakat.
Keterlibatan dosen, mahasiswa, dan sivitas akademika Program Studi K3 menjadi modal penting untuk membangun generasi yang memahami risiko, mengutamakan pencegahan, dan memiliki kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain.
Apresiasi juga disampaikan kepada ITS sebagai mitra kolaborasi, seluruh sponsor pendukung, panitia, tenaga kesehatan, komunitas K3, dan seluruh peserta yang telah menyatukan semangat dalam kegiatan ini.
Kolaborasi tersebut membuktikan bahwa budaya keselamatan tidak dapat dibangun oleh satu institusi saja. Dibutuhkan sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat agar pesan K3 semakin luas jangkauannya dan semakin kuat penerapannya.
Safety Stride diharapkan menjadi fondasi bagi kampanye K3 yang lebih berkelanjutan, melalui kegiatan inovatif yang melibatkan generasi muda dan memberikan dampak nyata terhadap perilaku keselamatan. [why]




