29 C
Sidoarjo
Tuesday, July 21, 2026
spot_img

Rekayasa Mikroiklim Closed Barn di Pasuruan, Terobosan Tekan Impor Susu Nasional

Pemkab Pasuruan, Bhirawa. – Pemerintah terus mencari cara untuk memangkas ketergantungan impor susu nasional yang hingga kini masih mendominasi pasar dalam negeri. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah penerapan teknologi kandang tertutup atau closed barn berbasis rekayasa mikroiklim (micro-climate modification), yang memungkinkan budi daya sapi perah ras subtropis dilakukan di dataran rendah.

Langkah itu ditandai dengan peresmian fasilitas Closed Barn serta serah terima sapi perah impor dari PT Nestlé Indonesia kepada peternak binaan KUD Dadi Jaya di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Selasa (21/7).

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan, teknologi closed barn mengintegrasikan sistem ventilasi, pengaturan suhu, dan kelembapan udara secara otomatis. Otomatisasi ini dirancang untuk mereplikasi kondisi iklim ideal sapi perah dari daerah subtropis (temperate zone).

“Sistem ini dirancang untuk menjaga lingkungan di dalam kandang tetap optimal, melindungi ternak dari perubahan cuaca ekstrem, dan mencegah penularan penyakit,” kata Hanif usai meresmikan fasilitas Closed Barn serta serah terima sapi perah impor dari PT Nestlé Indonesia kepada peternak binaan KUD Dadi Jaya.

Selama ini, pengembangan sapi perah di Indonesia hampir selalu terbatas di kawasan dataran tinggi berudara sejuk, seperti Lembang di Jawa Barat, serta di Kabupaten Pasuruan dan Malang di Jawa Timur. Keterbatasan lahan di kawasan pegunungan kerap menjadi kendala utama dalam merealisasikan ekspansi populasi ternak secara signifikan.

Berita Terkait :  Gandeng Lintas Sektoral, Kades Kemangi Bungah Kabupaten Gresik, Kerja Keras Atasi Stunting

Melalui teknologi rekayasa mikroiklim, hambatan geografis tersebut dinilai dapat teratasi. Sapi-sapi unggul yang membutuhkan suhu dingin kini dapat dibudidayakan secara optimal di wilayah dataran rendah tanpa mengorbankan produktivitasnya. “Tentu dengan inovasi ini, sapi-sapi bisa ditarik ke dataran rendah sehingga produktivitas dapat terus ditingkatkan,” ujar Hanif.

Ke depan, Kemenko Pangan mendorong adanya pembagian tata ruang strategis berbasis ekologi dan produksi. “Wilayah pegunungan difokuskan sebagai zona konservasi dan pemeliharaan tata air, sementara kawasan dataran rendah dialokasikan sebagai pusat produksi peternakan intensif,” kata Hanif.

Inovasi teknologi peternakan tersebut dinilai mendesak mengingat ketimpangan yang lebar antara tingkat konsumsi dan produksi susu segar dalam negeri. Data Kemenko Pangan mencatat, kebutuhan konsumsi susu nasional mencapai 4,7 juta ton per tahun. Namun, produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 20-25 persen dari total kebutuhan tersebut. “Faktanya, sekitar 75 hingga 80 persen kebutuhan nasional masih harus dipenuhi melalui impor, baik dalam bentuk bahan baku susu maupun sapi perah,” jelas Hanif.

Dalam peta industri persusuan nasional, Jawa Timur memegang peranan krusial sebagai pilar utama pasokan lokal. Provinsi ini menyumbang sekitar 57 hingga 60 persen dari total produksi susu nasional. Oleh karena itu, penguatan kapasitas produksi di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Pasuruan, diharapkan membawa dampak signifikan terhadap penurunan volume impor.

Berita Terkait :  Udang Beku Terkontaminasi Radioaktif Aman Dikonsumsi, Anggota Komisi IV DPR RI: Jangan Main Api, Ini Risiko Serius!

Sementara itu, Bupati Pasuruan HM Rusdi Sutejo menyambut baik kemitraan strategis antara sektor swasta dan peternak lokal. Menurut Mas Rusdi, panggilan akrabnya, keterlibatan korporasi di sektor hulu (upstream) sangat penting untuk membenahi fondasi industri persusuan nasional. “Masalah utamanya adalah ketergantungan impor. Kemitraan yang menyentuh fondasi awal bersama para peternak ini sangat krusial,” papar Mas Rusdi.

Mas Rusdi menambahkan, selain berdampak pada peningkatan produktivitas dan pendapatan peternak lokal, keberadaan industri persusuan yang solid juga mendukung program peningkatan gizi masyarakat. “Progam ini juga termasuk percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Pasuruan,” ucap Mas Rusdi.[hil.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!